Rabu, 24 Juli 2013

Adegan "Cinta yang Bodoh" (End)




Tak berapa lama akhirnya Aldi kembali dengan sebungkus obat dan segelas air putih ditangan nya. Aska langsung meminum obat yang baru saja Diambilkan Aldi.
            “Itu obat apa?” Tanya Aldi.
            “Hah, Anemia. Hehehe” Jawab Aska masih dengan gaya nya yang cengengesan.
            “Udah tidur lagi sana, ntar kalau butuh apa-apa panggil aja, Gua ada diluar.” Kata Aldi yang langsung beranjak pergi.
            “Aldi, Makasih….” Kata Aska sebelum Aldi keluar dari tenda. Aska senang Aldi sudah mulai baikan dan perhatian seperti biasanya.

           
            Malam pertama diperkemahan memang sangat membuat tegang. Semua murid saling bersuka ria mengelilingi api unggun yang menghangatkan malam yang dingin. Tapi Aldi tidak ada disana, Aldi lebih memilih menyendiri didekat tenda miliknya. Aska yang saat itu baru keluar dari tenda PRM langsung menghampiri Aldi yang berada memang tidak jauh dari tendanya.
            “Aldi, ngapain?” Tanya Aska setelah duduk disamping Aldi. Aldi hanya menoleh sebentar ke arah Aska lalu memalingkan kembali wajah nya ke kerumunan orang-orang di tengah kemah.
            “Jagain kemah.” Jawab nya singkat yang membuat Aska tertawa.
            “Hahaha… apes banget loe, dateng jauh-jauh kesini Cuma buat jagain kemah” Tawa Aska sedikit membuat rasa khawatir Aldi berkurang. Cukup lama Aska tertawa dan cukup lama pula Aldi memandang Aska tertawa sampai akhirnya Aska berhenti. Dan suasana canggung diantara mereka berdua kembali terjadi.
            “Errmmm… Aska, loe udah baikan?” Tanya Aldi seketika untuk mencairkan suasana. “Loe masuk tenda lagi aja, disini dingin”
            “Ngak ah. Gua bette di tenda mulu. Gua kan dateng jauh-jauh kesini bukan buat tidur-tiduran ditenda” Kata Aska tersenyum. Mereka berdua kembali terdiam.
            “Errmmm… Aldi, hehe loe masih marah yah sama gua karena kejadian waktu itu?” Tanya Aska tiba-tiba yang membuat Aldi lagi-lagi menunjukan ekspresi kecemasan kepada dirinya, sebuah ekspresi yang sangat dia benci. Namun Aldi tetap tidak menjawab pertanyaan Aska.
            “Kenapa minta maaf?” Aldi bertanya sesuatu yang diluar dugaan Aska, membuat Aska bingung untuk menjawab.
            “Kenapa loe gak mau gua marah sama loe? Kenapa minta maaf?” Tanya Aldi yang mengucapkan nya dengan nada yang lebih terlihat sedih dibanding marah. Dia tetap tidak melihat kearah Aska.
            “Karen loe temen baik gua Aldi. Gua gak nyaman kalau loe marah terus sama gua. Aldi gua kan udah minta maaf, loe jangan kayak anak kecil donk marah lama-lama sama gua.” Aska berusaha membuat Aldi melihat kearah nya tapi hasilnya nihil. Aldi terus saja melihat kerumunan teman-teman yang lain di antara api unggun.
            “Cuma itu. Cuma karena loe gak suka gua cuekin?” Aldi kembali bertanya. Yang membuat Aska bingung lagi, sebelum akhirnya Aska menjawab,
            “I…iya…” Singkat nya. dan suasana kembali sunyi.
            “Aska…” Setelah beberapa detik sunyi, akhirnya Aldi membuka mulutnya lagi memanggil Aska dengan lembut. “Sorry Gua ungkit. Tapi apa loe bener-bener cuma anggap gua teman selama ini?” Katanya. “Apa Gua gak lebih dari seorang temen bagi loe?” Aldi terdiam kembali. Aska masih terdiam dan tidak berniat menjawab, menunggu apakah ada kata-kata lain yang ingin Aldi sampaikan, mungkin cacian atau pelampiasan kekecewaan. Itu lebih baik dari pada hanya berdiam diri seperti ini.
            “Hehe loe mau ngomong apa sih?” Tanya Aska setelah yakin bahwa Aldi sudah selesai berbicara. Dan tentu saja Aldi gak langsung jawab. Untuk pertama kali nya akhirnya Aldi melihat Aska, menatap mata nya dalam, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan nya sendiri.
            “Gua pikir selama ini loe cuma pura-pura bego, pura-pura ngak menyadari sikap gua selama ini ke loe. Ternyata gua salah. Loe emang bener-bener bego.” Kalimat terakhir yang Aldi sampaikan malam itu udah cukup membuat Aska tidak bisa tidur sepanjang malam. Setelah itu, saat berpapasan diperkemahan bahkan Aldi tidak membalas setiap senyum yang diarahkan Aska kepadanya. Satu hal yang Aska tau, Aldi saat ini sudah tambah membencinya. Nanda menyadari keadaan itu dan berusaha untuk menbujuk Aldi ditengah-tengah istirahat siang.
            “Aska sedih tuh loe cuekin mulu.” Kata Nanda.
            “Biarin lah, biar dia juga ngerasain sakit yang gua rasain kedia.” Jawab Aldi asal-asalan.
            “Aldi, loe tau kan Aska itu bukan tipe orang yang bisa menyampaikan perasaan nya dengan benar. Kalau menurut gua, Aska Cuma pengen pertemanan kita gak rusak gara-gara loe nembak dia dan mangkanya dia pura-pura bego pas loe tembak. Yaahh… loe ngerti lah maksud gua.” Kata Nanda.
            “Ya tapi gak gitu juga caranya. Itu ngegantung buat gua.” Jelas Aldi. “Pas gua ngomong serius kedia dan dia selalu bales dengan candaan, itu udah cukup bikin gondok gua numbuh”
            “Iya gua tau. Sie Aska emang sifat nya kayak anak kecil kan, jangan diambil hati lah. Besok siang kita pulang, loe mau marahan sampe nanti masuk sekolah lagi pas tahun ajaran baru?” kata Nanda. Aldi terdiam. “Udah yah gua ke Camp panitia dulu… inget loe harus minta maaf, sebelum semuanya terlambat” Kata Nanda mengakhiri.

            Malam terakhir diperkemahan diisi dengan agenda yang sangat padat sehingga sama sekali tidak ada waktu bagi Aska maupun Aldi untuk saling bertegur sapa. Setelah semua Agenda hari ini selesai, mereka langsung pergi ke tenda masing-masing karena kelelahan dan besok mereka harus bangun pagi untuk membereskan tenda dan peralatan-peralatan perkemahan mereka. sebelum tidur Aldi masih sempat berfikir tentang meminta maaf ke Aska dan mulai menerima dirinya yang ditolak mentah-mentah olehnya, tapi teringat bagaimana Aska menolaknya dan berfikir untuk memberikan Aska sedikit pelajaran lagi untuk bersikap lebih dewasa, maka Aldi mengurungkan niat nya lagi untuk meminta maaf.
            Keesokan paginya tidak berbeda jauh dari tadi malam karena semua murid sibuk dengan tugasnya masing-masing. Aska dan Nanda pun terlihat sibuk dengan urusan mereka sehingga tidak memikirkan yang lain selain pulang kerumah yang nyaman, dan berkumpul kembali bersama keluarga. Moment yang pas untuk mengobrol panjang lebar dan saling bercanda adalah saat perjalanan pulang ke rumah. Tapi sayang karena Aska dan Aldi berada di mobil yang berlainan.

            Seminggu kemudian….

            Aldi baru pulang dari rumah teman nya sekitar jam 5 sore. Saat dia masuk ke dalam kamarnya dia baru menyadari bahwa seharian ini dia lupa membawa HP nya. saat di cek ternyata sudah lebih dari 20X Nanda menelepon nya.
            “Halo, Nanda sorry tadi gua abis dari rumah temen, gua lupa bawa HP” Kata Aldi ditelepon. Nanda gak langsung merespon pembicaraan nya dengan Aldi, dia cukup lama terdiam. Dan perasaan aneh tiba-tiba masuk dan menjalar disekujur tubuh Aldi. Hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres disini.
            “Aldi…” Suara Nanda akhirnya menyahut dari sebrang sana, suaranya yang terdengar parau seperti habis menangis.
            “Aska meninggal….” Lanjutnya.

Dua minggu kemudian…..
            Dihari pertama masuk sekolah, Nanda dan Aldi memutuskan untuk menjenguk Aska dirumah sakit.
            “Aska liat gua bawa siapa…???” Kata Nanda yang sangat senang melihat sahabatnya sudah pulih kembali.
            “Aldi?” Aska sangat senang melihat Aldi datang untuk menjenguknya. Mereka berdua langsung duduk disebelah ranjang Aska. Aldi masih terlihat aneh seperti biasanya.
            “Untuk alasan apapun, bohong tentang kematian itu gak diperbolehkan.” Kata Aldi marah yang langsung membuat Aska dan Nanda terdiam dan saling menatap.
            “Sorry Aldi, ini emang ide gua. Abisnya gua kagak enak dijutekin mulu sama loe” Kata Aska.
            “Loe tau gak sih, pas gua ditelepon sama Nanda kalau loe meninggal, gua panic banget dan gua….gua takut loe beneran mati” Aldi masih mefokuskan matanya ketempat lain.
            “Sorry Aldi, gua juga panic banget pas nyokap nya Aska nelepon gua ngasih tau kalau Anemia Aska kambuh. Yah gua cepet-cepet nelepon loe, tapi sama loe kagak diangkat-angkat. Jadi karena Askanya kesel dia suruh aja gua bilang kalau Aska udah meninggal, katanya biar loe tau rasa” Aldi masih belum menerima dirinya dikerjain kayak gitu, dan lagi dia masih merasa gak enak sama Aska karena udah musuhin dia selama satu semester kemaren.
            “Aska, minggu ini udah yang keberapa masuk rumah sakit lagi?” Tanya aldi tiba-tiba, berusaha mencairkan suasana.
            “Dua kali. Hehe…. Kalau lupa minum obat gua langsung tumbang.” Canda Aska.
            “Tapi loe bisa keluar hari ini kan?” Tanya Nanda.
            “Abis transfusi selesai juga gua balik. Tapi gua masih belum bisa sekolah… gua bette dirumah mulu.” Kata Aska.
            “Tenang aja, kita berdua pasti bakal main tiap hari kerumah loe” Kata Nanda yang tiba-tiba merangkul Aldi yang duduk disebelahnya. Aldi kaget dengan sikap Nanda dan menepis dengan reflek tangan Nanda.
            “Galak amet” Cetus Nanda. Yang membuat Aska tertawa.
            “Hahaha…. Loe berdua emang sahabat gua yang paallliiinnnggg….. baik” kata Aska dengan senyum nya yang khas.
            Walaupun Aska sudah sering menyebutnya sebagai ‘Sahabat’ tapi Aldi masih belum terbiasa dengan kata-kata itu. Bagaimanapun Aldi mencoba untuk mengungkapkan perasaanya, Aska masih tetap menangkapnya sebagai sebuah candaan. Mungkin Aska gak bodoh karena tidak menyadari sesuatu yang bernama ‘Cinta’, tapi dia hanya ingin menjaga persahabatan nya agar tidak menjadi rusak oleh sesuatu yang bernama ‘Cinta’ itu sendiri.

TAMAT
 Cr by : Qonitarevaryandika  
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar