Tak berapa lama akhirnya Aldi
kembali dengan sebungkus obat dan segelas air putih ditangan nya. Aska langsung
meminum obat yang baru saja Diambilkan Aldi.
“Itu
obat apa?” Tanya Aldi.
“Hah,
Anemia. Hehehe” Jawab Aska masih dengan gaya nya yang cengengesan.
“Udah
tidur lagi sana, ntar kalau butuh apa-apa panggil aja, Gua ada diluar.” Kata
Aldi yang langsung beranjak pergi.
“Aldi,
Makasih….” Kata Aska sebelum Aldi keluar dari tenda. Aska senang Aldi sudah
mulai baikan dan perhatian seperti biasanya.
Malam
pertama diperkemahan memang sangat membuat tegang. Semua murid saling bersuka
ria mengelilingi api unggun yang menghangatkan malam yang dingin. Tapi Aldi tidak
ada disana, Aldi lebih memilih menyendiri didekat tenda miliknya. Aska yang
saat itu baru keluar dari tenda PRM langsung menghampiri Aldi yang berada
memang tidak jauh dari tendanya.
“Aldi,
ngapain?” Tanya Aska setelah duduk disamping Aldi. Aldi hanya menoleh sebentar
ke arah Aska lalu memalingkan kembali wajah nya ke kerumunan orang-orang di
tengah kemah.
“Jagain
kemah.” Jawab nya singkat yang membuat Aska tertawa.
“Hahaha…
apes banget loe, dateng jauh-jauh kesini Cuma buat jagain kemah” Tawa Aska
sedikit membuat rasa khawatir Aldi berkurang. Cukup lama Aska tertawa dan cukup
lama pula Aldi memandang Aska tertawa sampai akhirnya Aska berhenti. Dan
suasana canggung diantara mereka berdua kembali terjadi.
“Errmmm…
Aska, loe udah baikan?” Tanya Aldi seketika untuk mencairkan suasana. “Loe
masuk tenda lagi aja, disini dingin”
“Ngak
ah. Gua bette di tenda mulu. Gua kan dateng jauh-jauh kesini bukan buat
tidur-tiduran ditenda” Kata Aska tersenyum. Mereka berdua kembali terdiam.
“Errmmm…
Aldi, hehe loe masih marah yah sama gua karena kejadian waktu itu?” Tanya Aska
tiba-tiba yang membuat Aldi lagi-lagi menunjukan ekspresi kecemasan kepada
dirinya, sebuah ekspresi yang sangat dia benci. Namun Aldi tetap tidak menjawab
pertanyaan Aska.
“Kenapa
minta maaf?” Aldi bertanya sesuatu yang diluar dugaan Aska, membuat Aska
bingung untuk menjawab.
“Kenapa
loe gak mau gua marah sama loe? Kenapa minta maaf?” Tanya Aldi yang mengucapkan
nya dengan nada yang lebih terlihat sedih dibanding marah. Dia tetap tidak
melihat kearah Aska.
“Karen
loe temen baik gua Aldi. Gua gak nyaman kalau loe marah terus sama gua. Aldi
gua kan udah minta maaf, loe jangan kayak anak kecil donk marah lama-lama sama gua.”
Aska berusaha membuat Aldi melihat kearah nya tapi hasilnya nihil. Aldi terus
saja melihat kerumunan teman-teman yang lain di antara api unggun.
“Cuma
itu. Cuma karena loe gak suka gua cuekin?” Aldi kembali bertanya. Yang membuat
Aska bingung lagi, sebelum akhirnya Aska menjawab,
“I…iya…”
Singkat nya. dan suasana kembali sunyi.
“Aska…”
Setelah beberapa detik sunyi, akhirnya Aldi membuka mulutnya lagi memanggil
Aska dengan lembut. “Sorry Gua ungkit. Tapi apa loe bener-bener cuma anggap gua
teman selama ini?” Katanya. “Apa Gua gak lebih dari seorang temen bagi loe?”
Aldi terdiam kembali. Aska masih terdiam dan tidak berniat menjawab, menunggu
apakah ada kata-kata lain yang ingin Aldi sampaikan, mungkin cacian atau
pelampiasan kekecewaan. Itu lebih baik dari pada hanya berdiam diri seperti ini.
“Hehe
loe mau ngomong apa sih?” Tanya Aska setelah yakin bahwa Aldi sudah selesai
berbicara. Dan tentu saja Aldi gak langsung jawab. Untuk pertama kali nya
akhirnya Aldi melihat Aska, menatap mata nya dalam, berusaha mencari jawaban
atas pertanyaan nya sendiri.
“Gua
pikir selama ini loe cuma pura-pura bego, pura-pura ngak menyadari sikap gua
selama ini ke loe. Ternyata gua salah. Loe emang bener-bener bego.” Kalimat
terakhir yang Aldi sampaikan malam itu udah cukup membuat Aska tidak bisa tidur
sepanjang malam. Setelah itu, saat berpapasan diperkemahan bahkan Aldi tidak
membalas setiap senyum yang diarahkan Aska kepadanya. Satu hal yang Aska tau,
Aldi saat ini sudah tambah membencinya. Nanda menyadari keadaan itu dan
berusaha untuk menbujuk Aldi ditengah-tengah istirahat siang.
“Aska
sedih tuh loe cuekin mulu.” Kata Nanda.
“Biarin
lah, biar dia juga ngerasain sakit yang gua rasain kedia.” Jawab Aldi
asal-asalan.
“Aldi,
loe tau kan Aska itu bukan tipe orang yang bisa menyampaikan perasaan nya
dengan benar. Kalau menurut gua, Aska Cuma pengen pertemanan kita gak rusak
gara-gara loe nembak dia dan mangkanya dia pura-pura bego pas loe tembak.
Yaahh… loe ngerti lah maksud gua.” Kata Nanda.
“Ya
tapi gak gitu juga caranya. Itu ngegantung buat gua.” Jelas Aldi. “Pas gua
ngomong serius kedia dan dia selalu bales dengan candaan, itu udah cukup bikin
gondok gua numbuh”
“Iya
gua tau. Sie Aska emang sifat nya kayak anak kecil kan, jangan diambil hati lah.
Besok siang kita pulang, loe mau marahan sampe nanti masuk sekolah lagi pas
tahun ajaran baru?” kata Nanda. Aldi terdiam. “Udah yah gua ke Camp panitia
dulu… inget loe harus minta maaf, sebelum semuanya terlambat” Kata Nanda mengakhiri.
Malam
terakhir diperkemahan diisi dengan agenda yang sangat padat sehingga sama
sekali tidak ada waktu bagi Aska maupun Aldi untuk saling bertegur sapa.
Setelah semua Agenda hari ini selesai, mereka langsung pergi ke tenda
masing-masing karena kelelahan dan besok mereka harus bangun pagi untuk
membereskan tenda dan peralatan-peralatan perkemahan mereka. sebelum tidur Aldi
masih sempat berfikir tentang meminta maaf ke Aska dan mulai menerima dirinya
yang ditolak mentah-mentah olehnya, tapi teringat bagaimana Aska menolaknya dan
berfikir untuk memberikan Aska sedikit pelajaran lagi untuk bersikap lebih
dewasa, maka Aldi mengurungkan niat nya lagi untuk meminta maaf.
Keesokan
paginya tidak berbeda jauh dari tadi malam karena semua murid sibuk dengan
tugasnya masing-masing. Aska dan Nanda pun terlihat sibuk dengan urusan mereka
sehingga tidak memikirkan yang lain selain pulang kerumah yang nyaman, dan
berkumpul kembali bersama keluarga. Moment yang pas untuk mengobrol panjang
lebar dan saling bercanda adalah saat perjalanan pulang ke rumah. Tapi sayang
karena Aska dan Aldi berada di mobil yang berlainan.
Seminggu
kemudian….
Aldi
baru pulang dari rumah teman nya sekitar jam 5 sore. Saat dia masuk ke dalam
kamarnya dia baru menyadari bahwa seharian ini dia lupa membawa HP nya. saat di
cek ternyata sudah lebih dari 20X Nanda menelepon nya.
“Halo,
Nanda sorry tadi gua abis dari rumah temen, gua lupa bawa HP” Kata Aldi
ditelepon. Nanda gak langsung merespon pembicaraan nya dengan Aldi, dia cukup
lama terdiam. Dan perasaan aneh tiba-tiba masuk dan menjalar disekujur tubuh
Aldi. Hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres disini.
“Aldi…”
Suara Nanda akhirnya menyahut dari sebrang sana, suaranya yang terdengar parau
seperti habis menangis.
“Aska
meninggal….” Lanjutnya.
Dua minggu kemudian…..
Dihari
pertama masuk sekolah, Nanda dan Aldi memutuskan untuk menjenguk Aska dirumah
sakit.
“Aska
liat gua bawa siapa…???” Kata Nanda yang sangat senang melihat sahabatnya sudah
pulih kembali.
“Aldi?”
Aska sangat senang melihat Aldi datang untuk menjenguknya. Mereka berdua
langsung duduk disebelah ranjang Aska. Aldi masih terlihat aneh seperti
biasanya.
“Untuk
alasan apapun, bohong tentang kematian itu gak diperbolehkan.” Kata Aldi marah
yang langsung membuat Aska dan Nanda terdiam dan saling menatap.
“Sorry
Aldi, ini emang ide gua. Abisnya gua kagak enak dijutekin mulu sama loe” Kata
Aska.
“Loe
tau gak sih, pas gua ditelepon sama Nanda kalau loe meninggal, gua panic banget
dan gua….gua takut loe beneran mati” Aldi masih mefokuskan matanya ketempat
lain.
“Sorry
Aldi, gua juga panic banget pas nyokap nya Aska nelepon gua ngasih tau kalau
Anemia Aska kambuh. Yah gua cepet-cepet nelepon loe, tapi sama loe kagak
diangkat-angkat. Jadi karena Askanya kesel dia suruh aja gua bilang kalau Aska
udah meninggal, katanya biar loe tau rasa” Aldi masih belum menerima dirinya
dikerjain kayak gitu, dan lagi dia masih merasa gak enak sama Aska karena udah
musuhin dia selama satu semester kemaren.
“Aska,
minggu ini udah yang keberapa masuk rumah sakit lagi?” Tanya aldi tiba-tiba,
berusaha mencairkan suasana.
“Dua
kali. Hehe…. Kalau lupa minum obat gua langsung tumbang.” Canda Aska.
“Tapi
loe bisa keluar hari ini kan?” Tanya Nanda.
“Abis
transfusi selesai juga gua balik. Tapi gua masih belum bisa sekolah… gua bette
dirumah mulu.” Kata Aska.
“Tenang
aja, kita berdua pasti bakal main tiap hari kerumah loe” Kata Nanda yang
tiba-tiba merangkul Aldi yang duduk disebelahnya. Aldi kaget dengan sikap Nanda
dan menepis dengan reflek tangan Nanda.
“Galak
amet” Cetus Nanda. Yang membuat Aska tertawa.
“Hahaha….
Loe berdua emang sahabat gua yang paallliiinnnggg….. baik” kata Aska dengan
senyum nya yang khas.
Walaupun
Aska sudah sering menyebutnya sebagai ‘Sahabat’ tapi Aldi masih belum terbiasa
dengan kata-kata itu. Bagaimanapun Aldi mencoba untuk mengungkapkan perasaanya,
Aska masih tetap menangkapnya sebagai sebuah candaan. Mungkin Aska gak bodoh
karena tidak menyadari sesuatu yang bernama ‘Cinta’, tapi dia hanya ingin
menjaga persahabatan nya agar tidak menjadi rusak oleh sesuatu yang bernama
‘Cinta’ itu sendiri.
TAMAT
Cr by : Qonitarevaryandika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar