Di dunia ini ada seseorang yang sangat
bodoh, terlalu bodoh bahkan untuk kata bodoh itu sendiri, Lebih bodoh dari
siapapun juga…..
“Aska, gua
seneng bisa kenal sama loe, gua seneng bisa deket sama loe, ngobrol bareng,
bercanda, smsan sama loe, gua seneng ngelakuin hal berdua bareng sama loe….”
Lelaki itu bahkan tidak berani menegakan kepalanya dan menatap lawan bicara
nya.
“Aska, Gua suka
sama loe…” Akhirnya kata-kata itu muncul juga dari mulutnya setelah dia menyiapkan
diri selama ini, setelah dia meyakinkan dirinya tentang perasaan yang dia
rasakan selama ini, akhirnya semuanya terungkap sudah.
“Gua juga suka
sama loe” Kata wanita yang berada dihadapan nya. Dia mengatakan nya dengan
tersenyum. “Gua juga suka sama loe, apalagi waktu loe beliin gua makanan. Gua
sukkaaa…. Banget sama loe”
………..Bodoh karena tidak menyadari sebuah
Cinta.
“Aldi, Loe
kenapa dikelas diem mulu?” Tanya Nanda menghampiri.
“Eh, Nanda. Gua
gak papa.” Jawab Aldi tersenyum.
“Errmm… Sorry
Gua sok tau, tapi… Loe ditolak Aska yah?”
“Hahaha…. Gua
ditolak mentah-mentah.” Aldi menatap ke arah lain.
Beberapa hari
kemudian….
Setelah jam
pelajaran berakhir Aska memutuskan untuk tidak pulang dulu kerumah karena dia
ingin lebih lama di sekolah. Dia menghabiskan berjam-jam di taman belakang
sekolah hanya untuk browsing dengan Wifi. Sadar kalau Aska terlalu asyik
internetan ternyata hari sudah mulai sore dan sekolah sudah sepi. Askapun memutuskan
untuk pulang. Saat melewati lorong kelas tiba-tiba dia melihat ada dua orang
murid lain yang masih ada didalam kelas. Saat Aska mengenali salah satu nya dia
memutuskan untuk menyapa, tapi saat baru didepan pintu dia melihat orang yang
dikenalinya itu, Aldi, sedang berciuman dengan seorang wanita. Aska sempat
kaget melihat adegan yang ada dihadapan nya itu. Ternyata Aldi juga menyadari
kalau Aska sedang melihat nya sehingga cepat-cepat melepas ciuman itu.
“So…so…sorry….
Gua gak ada maksud buat ganggu” Kata Aska meninggalkan kelas itu. Aldi langsung
mengejarnya dan buru-buru menarik tangan nya untuk menahan Aska agar tidak
pergi.
“Hahaha…. Aldi
sorry yah, Gua ganggu yah?” Kata Aska sambil tersenyum.
“Aska…” Panggil
Aldi.
“Cewe itu cewe
baru loe? Jahat loe kagak cerita ke Gua kalau Loe udah punya cewe. Waahh… Gua
kagak dianggap temen lagi” Lanjut Aska dengan canda.
“Aska……Sorry…”
Aldi menatap Aska dengan wajah penuh sesal.
“Kenapa jadi Loe
yang minta maaf. Udah, gua bali yah. Gua tunggu cerita kalian jadian oke…” Aska
pamit dan meneruskan perjalanan nya pulang kerumah.
Sebenar nya cewe
yang dikira Aska adalah cewe baru Aldi bukan lah siapa-siapa. Kemaren saat Aldi
ditolak Aska dia merasa sangat sedih dan kebetulan juga ada seorang cewe yang
nembak dia. Karena Aldi berfikir mungkin Aska akan menyesa menolaknya jadi ia
menerima cewe itu dan berpacaran dengan nya. Aldi tidak menyangka bahwa perasaan
nya akan sangat menyesal seperti ini karena melakukan hal bodoh seperti tadi.
Tapi Aldi menyadari sesuatu, Aska memang sudah menolak nya dengan tegas. Aska
jelas-jelas hanya melihat nya sebagai teman sekelas nya saja, seorang teman
untuk tertawa dan bercanda. Gak lebih. Aska gak ada perasaan sama sekali kepada
nya. Aska bahkan gak cemburu melihat nya bermesraan dengan wanita lain. Aldi
gak berarti apa-apa buat Aska. Aldi berusaha menerima kenyataan ini.
Malam ini Aska
berbaring ditampat tidurnya dengan sambil asyik membaca komik yang baru
dipinjamkan Nanda. Tiba-tiba HP Aska berbunyi. Aldi mengiriminya pesan.
“Aska, untuk
tugas wawancara ke perusahaan, kalau besok ngerjain nya gimana?”
“Iya. Kita
janjian disekolah dulu yah, jam 8 kan?” Ketik Aska.
Aldi memutuskan
untuk berusaha menjadi normal seperti biasanya.
Keesokan
harinya…
Aska sedikit
terlambat karena tadi malam dia tidak tidur. Aldi terus menelepon nya sepanjang
pagi ini. Jika Aldi tidak menelepon untuk membangunkan nya Aska mungkin akan
tidur sampai nanti siang.
“Aldi sorry Gua
telat, Tadi malem Gua gak tidur.” Kata Aska yang masih ngos-ngosan lari ke
halaman sekolah. Tapi dengan dingin nya Aldi tidak menjawab dan malah langsung
menaiki motor yang ada disamping nya. setelah Aldi memberi insyarat, Aska pun
naik dibelakan Aldi. Aska merasa aneh dan canggung dengan sikap Aldi barusan. Aldi
tidak pernah mendiamkan nya seperti itu selama dia mengenal nya. Ada perasaan
perih dihatinya saat ini. Dia mulai menyalahkan dirinya karena membiarkan dirinya
terjaga semalaman dan membuat Aldi menunggu lama.
Sepanjang
perjalanan mereka berdua hanya terdiam, diam yang aneh, canggung dan tidak seperti
biasanya. Setelah satu jam lebih berkendara Aldi masih tidak berbicara apa-apa
pada Aska, Selama wawancara untuk tugas sekolah mereka pun bahkan tak
sedikitpun Aldi menoleh pada Aska. Aldi mebih banyak bertanya dan Aska hanya
sibuk mencatat poin-poin penting nya. Setelah semua selesai karena Aska merasa
tidak nyaman dengan sikap Aldi seharian ini yang cuekin dia, akhirnya saat
mereka berdua sedang menuju parkiran Aska memutuskan untuk meminta maaf.
“Aldi…..” Panggil
Aska, namun Aldi terus saja berjalan tanpa menghiraukan nya.
“ALDI….” Aska
memanggilnya lebih kencang membuat langkah Aldi terhenti dan dia menoleh pada
Aska yang berhenti beberapa meter dibelakang nya.
“Apa?” Katanya
masih dengan ekspresi yang sama, datar.
“Ini kan udah
siang, kita makan dulu yuk Gua yang traktir atas permintaan maaf gua karena
terlambat” Usul Aska dengan menyuguhkan senyum terbaik yang dia miliki.
“Kalau gak
iklas, mending gak usah nraktir” Tanpa melihat ekspresi Aska yang langsung
berubah sedih, Aldi langsung melangkah pergi menuju tempat dimana motornya
diparkir. Dan Aska hanya mengikutinya dari belakang dengan wajah yang cemberut.
Tapi Aska tidak mau dicuekin kayak gini sama teman terbaiknya, akhirnya Aska
mencoba untuk meminta maaf lagi kepada Aldi kali ini dengan sunggug-sungguh.
“Maaf….maaf….maaf….maaf….
maaf tadi gua dateng telat, maaf karena loe harus lama nungguin gua, maaf
karena kita hampir gak bisa wawancara karena kita telat, maaf udah bikin loe
marah, maaf….maaf….maaf….” Aska terus memohon pada Aldi agar tidak mendiamkan
nya lagi dan mau untuk memaafkan nya. Sebenarnya Aldi gak terlalu peduli kalau
hari ini Aska dateng terlambat. Bukan itu sebenarnya yang bikin dia marah.
“Loe tuh Egois,
Ka. Loe gak pernah mikirin perasaan orang, loe selalu nyepelein perasaan orang
lain. Loe tau gua udah nunggu loe lama banget….” Ekspresi Aldi berubah sedih,
tatapan matanya menjadi sangat dalam kepada Aska. “Gua udah nunggu lama
banget…..”
“Maaf….maaf…maaf…
Gua janji gak akan ngulang lagi, Gua janji..” Aska terdiam. Dia melihat sesuatu
disebrang jalan yang akan membuat teman nya ini gak akan marah lagi padanya.
“Aldi liat ada ketoprak. Gua beliin yah, loe kan suka ketoprak, tunggu sini
oke” Aska langsung pergi meninggalkan Aldi yang masih duduk diparkiran diatas
motornya. Lalu tiba-tiba Aldi mendengar sebuah teriakan tidak jauh dari
tempatnya. Suara teriakan itu adalah suara yang sangat dia kenal. Seketika itu
juga jantung nya berdetup sangat kencang, dia menoleh kearah teriakan tadi dan
melihat sudah banyak orang yang berkerumun disana. Dia berlari keluar pagar
menuju kerumunan itu. Semakin dekat jaraknya dari kerumunan orang tersebut,
semakin kencang pula jantung nya berdetup. Aldi berusaha masuk melewati
kerumunan orang-orang dan melihat Aska terduduk di aspal tepat dipinggir jalan
didekat sebuah mobil caravan silver. Seseorang yang sepertinya sang pemilik
mobil tersebut berjongkok didekat Aska dan memastikan bahwa seseorang yang baru
saja diserempet nya tidak terluka parah. Si penyerempet itu bersedia
bertanggugn jawab untuk membawa Aska kerumah sakit dan membayar biaya
pengotaban nya.
Setelah Aska meminta maaf dan berterima kasih
kepada seseorang yang telah menyerempetnya itu, dia mencari Aldi yang dia yakin
akan semakin marah kepadanya. Tak perlu lama mencari karena sejak tadi Aldi
duduk didepan ruang pemeriksaan nya. Aska berusaha tersenyum dan menghampiri
teman baik nya itu.
“Aldi…”
Panggilnya lembut yang membuat Aldi seketika menoleh kearahnya.
Hati Aldi sangat miris, perih dan
sakit melihat seseorang yang harus nya ia jaga terluka karena dirinya. Dia tidak
akan mengampuni dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada orang yang sangat
disayang nya ini. Melihat balutan kain kasa yang membungkus tangan kanan dan
kepala Aska membuatnya teringat dengan kebodohan yang dia lakukan seharian ini.
“Aldi…Sorry…Sorry
banget udah ngerepotin loe…”Aska memberanikan diri untuk duduk disebelah Aldi
dan meminta maaf kepada nya untuk yang kesekian kalinya. Aldi hanya menoleh
kearahnya beberapa detik lalu memalingkan lagi wajahnya, memandang lantai. Aska
merasa bener-bener gak enak sama Aldi dan bingung dengan apa yang harus dia
lakukan agar teman nya ini tidak marah lagi padanya. Hasilnya mereka berdua hanya
saling berdiam diri, membiarkan diri mereka masing-masing terluka.
Kata
terakhir yang Aldi ucapkan untuk Aska dihari itu adalah “Ayo Pulang” untuk
mengajaknya pergi dari rumah sakit itu. Setelah mengantar Aska kerumahnya, Aldi
bahkan gak ngomong selamat tinggal atau untuk memarahinya. Dia pergi begitu
saja tanpa menanyakan tentang luka ditubuhnya. Selama ini Aldi sangat perhatian
ke Aska, melihat Aldi yang tiba-tiba cuek membuat Aska sangat sedih dan merasa
gak enak ke Aldi. Besok dia harus minta maaf biar Aldi gak marah lagi.
Keesokan
harinya…
Kelas
langsung heboh dengan berita yang terjadi sama Aska kemarin. Dia langsung
ditanya-tanya tentang kejadian yang membuatnya harus mendapatkan luka benturan
dikepala dan goresan luka karena terhantam aspal. Nanda, teman baik Askapun
merasa sangat khawatir mendengar kecelakaan yang menimpa Aska kemarin. Tapi
hanya Nanda lah yang paling mengerti bahwa sebenarnya yang paling terluka dari
semua kejadian itu adalah Aldi.
Setelah
kejadian kecelakaan yang menimpa Aska kemarin, jarak antara Aska dan Aldi
terasa semakin jauh. Walaupun mereka sekelas, Aldi sudah tidak pernah menyapa nya
lagi dan dia selalu menghindar saat ada Aska disana. Menyadari bahwa Aldi
sengaja menghindarinya, Aska mulai jengkel dan langsung menghampiri Aldi saat
pulang sekolah.
“Aldi
sini, gua mau ngomong.” Aska tiba-tiba langsung menarik tangan Aldi ke belakang
bangunan sekolah yang kebetulan lagi sepi.
“Mau
ngomong apa? Gua abis ini ada janji sama temen gua.” Aldi berusaha terlihat
santai, bersikap seperti biasa.
“Gua
gak lama.” Kata Aska. “Loe sengaja ngehindarin gua?” Pertanyaan yang membuat
Aldi terdiam.
“Sorry…
yah pokok nya gua udah minta maaf sama loe. Jadi kalau loe gak maafin berarti
yang dosa itu loe.” Aska berusaha mencairkan suasana dengan sedikit candaan.
Tapi Aldi masih tetap tidak bergeming.
“loe
mau marah sampai kapan sie? Bentar lagi ujian, kalau loe masih marah sama guan
tar gua gak konsen belajar” Kata Aska mulai jengel.
“Oh,
gua pengen liat seberapa jelek nilai loe nanti.” Aldi hanya mengatakan ini dan
langsung pergi meninggalkan Aska yang dia yakin mulai jengkel dengan jawaban
nya. tapi bagaimanapun Aldi merasa senang bisa berbicara dengan Aska hari ini.
Seminggu kemudian…
Gak kerasa
akhirnya ujian kenaikan kelas pun berakhir. Untuk mengisi liburan, kelas kami
memutuskan untuk berkemah 3 hari 2 malan di sebuah hutan lindung didaerah Bandung.
Aska, Nanda dan Aldi ikut berpartisipasi dalam acara liburan kali ini.
“Sekarang
kita bagi-bagi tugas yah…. Karena jumlah nya disini ada 28 murid, jadi kita
bagi kelompok dengan masing-masing 7 orang.” Nanda yang saat itu bertugas
sebagai koordinator lapangan mulai sigap untuk menjalankan tugasnya.
“Kelompok
pertama cari kayu bakar, lalu kelompok kedua bertugas nyari air…” Nanda
menghentikan bicaranya saat tiba-tiba Aska mengacukan tangan nya diantara
barisan murid-murid. Aska menghampiri Nanda dan berbisik kepadanya. Aldi yang
saat itu tidak terlalu jauh dari mereka diam-diam memperhatikan. Dia kurang
yakin dengan apa yang terjadi tapi ada sesuatu yang dikatakan oleh aska yang
membuat raut wajah Nanda berubah menjadi sangat cemas. Setelah membacakan semua
agenda yang akan dilakukan hari ini semua murid langsung bergegas meninggalkan
kemah untuk menjalankan tugas nya masing-masing. Sebelum pergi, Nanda tiba-tiba
menghampiri Aldi.
“Aldi,
loe kebagian apa?” Tanya Nanda.
“Cari
daun kering buat bikin api unggun.” Aldi terlihat sudah bersiap-siap untuk
pergi.
“Aldi
loe gak usah cari daun kering yah. Loe disini aja temenin Aska, dia lagi gak
enak badan. Gua gak bisa nemenin karena gua harus koordinasiin anak-anak.”
Mendengar bahwa Aska sakit membuat Aldi ikut merasa sedih. Seperti ada sesuatu
yang menghantam hati nya sehingga menjadi sangat sesak bahkan untuk bernafas
dengan normal.
“Oke.
Dia dimana sekarang?”
“Di
tenda PMR. Kayaknya dia tidur. Yaudah, Aldi gua pergi dulu yah” Aldi menaruh
kembali ransel besar nya dan berjalan ke arah tenda dimana Aska sedang tertidur
lalu duduk didepan nya.
“
Nanda….Nanda….” Suara parau Aska yang memanggil dari dalam tenda menyadarkan
lamunan Aldi. Aldi langung bergegas masuk kedalam tenda dan menghampiri nya.
Aska yang saat itu sudah terbangun sempat kaget melihat yang datang ternyata
Aldi.
“Eh
Aldi, hehe Ngapain disini?” Tanya Aska cengengesan. Aldi hanya terdiam
memperhatikan wajah Aska yang pucat.
“Gua
kebagian jagain kemah” Jawab Aldi singkat.
“Oh.
Gua boleh minta tolong gak? Ambilin obat gua donk didalem tas. Tas Gua ada
dideket pohon, yang warna merah” Kata Aska masih dengan senyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar