Rabu, 24 Juli 2013

Adegan "Cinta yang Bodoh" Part1


Di dunia ini ada seseorang yang sangat bodoh, terlalu bodoh bahkan untuk kata bodoh itu sendiri, Lebih bodoh dari siapapun juga….. 
“Aska, gua seneng bisa kenal sama loe, gua seneng bisa deket sama loe, ngobrol bareng, bercanda, smsan sama loe, gua seneng ngelakuin hal berdua bareng sama loe….” Lelaki itu bahkan tidak berani menegakan kepalanya dan menatap lawan bicara nya.
“Aska, Gua suka sama loe…” Akhirnya kata-kata itu muncul juga dari mulutnya setelah dia menyiapkan diri selama ini, setelah dia meyakinkan dirinya tentang perasaan yang dia rasakan selama ini, akhirnya semuanya terungkap sudah.
“Gua juga suka sama loe” Kata wanita yang berada dihadapan nya. Dia mengatakan nya dengan tersenyum. “Gua juga suka sama loe, apalagi waktu loe beliin gua makanan. Gua sukkaaa…. Banget sama loe”

………..Bodoh karena tidak menyadari sebuah Cinta.

“Aldi, Loe kenapa dikelas diem mulu?” Tanya Nanda menghampiri.
“Eh, Nanda. Gua gak papa.” Jawab Aldi tersenyum.
“Errmm… Sorry Gua sok tau, tapi… Loe ditolak Aska yah?”
“Hahaha…. Gua ditolak mentah-mentah.” Aldi menatap ke arah lain.

Beberapa hari kemudian….

Setelah jam pelajaran berakhir Aska memutuskan untuk tidak pulang dulu kerumah karena dia ingin lebih lama di sekolah. Dia menghabiskan berjam-jam di taman belakang sekolah hanya untuk browsing dengan Wifi. Sadar kalau Aska terlalu asyik internetan ternyata hari sudah mulai sore dan sekolah sudah sepi. Askapun memutuskan untuk pulang. Saat melewati lorong kelas tiba-tiba dia melihat ada dua orang murid lain yang masih ada didalam kelas. Saat Aska mengenali salah satu nya dia memutuskan untuk menyapa, tapi saat baru didepan pintu dia melihat orang yang dikenalinya itu, Aldi, sedang berciuman dengan seorang wanita. Aska sempat kaget melihat adegan yang ada dihadapan nya itu. Ternyata Aldi juga menyadari kalau Aska sedang melihat nya sehingga cepat-cepat melepas ciuman itu.
“So…so…sorry…. Gua gak ada maksud buat ganggu” Kata Aska meninggalkan kelas itu. Aldi langsung mengejarnya dan buru-buru menarik tangan nya untuk menahan Aska agar tidak pergi.
“Hahaha…. Aldi sorry yah, Gua ganggu yah?” Kata Aska sambil tersenyum.
“Aska…” Panggil Aldi.
“Cewe itu cewe baru loe? Jahat loe kagak cerita ke Gua kalau Loe udah punya cewe. Waahh… Gua kagak dianggap temen lagi” Lanjut Aska dengan canda.
“Aska……Sorry…” Aldi menatap Aska dengan wajah penuh sesal.
“Kenapa jadi Loe yang minta maaf. Udah, gua bali yah. Gua tunggu cerita kalian jadian oke…” Aska pamit dan meneruskan perjalanan nya pulang kerumah.
Sebenar nya cewe yang dikira Aska adalah cewe baru Aldi bukan lah siapa-siapa. Kemaren saat Aldi ditolak Aska dia merasa sangat sedih dan kebetulan juga ada seorang cewe yang nembak dia. Karena Aldi berfikir mungkin Aska akan menyesa menolaknya jadi ia menerima cewe itu dan berpacaran dengan nya. Aldi tidak menyangka bahwa perasaan nya akan sangat menyesal seperti ini karena melakukan hal bodoh seperti tadi. Tapi Aldi menyadari sesuatu, Aska memang sudah menolak nya dengan tegas. Aska jelas-jelas hanya melihat nya sebagai teman sekelas nya saja, seorang teman untuk tertawa dan bercanda. Gak lebih. Aska gak ada perasaan sama sekali kepada nya. Aska bahkan gak cemburu melihat nya bermesraan dengan wanita lain. Aldi gak berarti apa-apa buat Aska. Aldi berusaha menerima kenyataan ini.
Malam ini Aska berbaring ditampat tidurnya dengan sambil asyik membaca komik yang baru dipinjamkan Nanda. Tiba-tiba HP Aska berbunyi. Aldi mengiriminya pesan.
“Aska, untuk tugas wawancara ke perusahaan, kalau besok ngerjain nya gimana?”
“Iya. Kita janjian disekolah dulu yah, jam 8 kan?” Ketik Aska.
Aldi memutuskan untuk berusaha menjadi normal seperti biasanya.
Keesokan harinya…

Aska sedikit terlambat karena tadi malam dia tidak tidur. Aldi terus menelepon nya sepanjang pagi ini. Jika Aldi tidak menelepon untuk membangunkan nya Aska mungkin akan tidur sampai nanti siang.
“Aldi sorry Gua telat, Tadi malem Gua gak tidur.” Kata Aska yang masih ngos-ngosan lari ke halaman sekolah. Tapi dengan dingin nya Aldi tidak menjawab dan malah langsung menaiki motor yang ada disamping nya. setelah Aldi memberi insyarat, Aska pun naik dibelakan Aldi. Aska merasa aneh dan canggung dengan sikap Aldi barusan. Aldi tidak pernah mendiamkan nya seperti itu selama dia mengenal nya. Ada perasaan perih dihatinya saat ini. Dia mulai menyalahkan dirinya karena membiarkan dirinya terjaga semalaman dan membuat Aldi menunggu lama.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam, diam yang aneh, canggung dan tidak seperti biasanya. Setelah satu jam lebih berkendara Aldi masih tidak berbicara apa-apa pada Aska, Selama wawancara untuk tugas sekolah mereka pun bahkan tak sedikitpun Aldi menoleh pada Aska. Aldi mebih banyak bertanya dan Aska hanya sibuk mencatat poin-poin penting nya. Setelah semua selesai karena Aska merasa tidak nyaman dengan sikap Aldi seharian ini yang cuekin dia, akhirnya saat mereka berdua sedang menuju parkiran Aska memutuskan untuk meminta maaf.
“Aldi…..” Panggil Aska, namun Aldi terus saja berjalan tanpa menghiraukan nya.
“ALDI….” Aska memanggilnya lebih kencang membuat langkah Aldi terhenti dan dia menoleh pada Aska yang berhenti beberapa meter dibelakang nya.
“Apa?” Katanya masih dengan ekspresi yang sama, datar.
“Ini kan udah siang, kita makan dulu yuk Gua yang traktir atas permintaan maaf gua karena terlambat” Usul Aska dengan menyuguhkan senyum terbaik yang dia miliki.
“Kalau gak iklas, mending gak usah nraktir” Tanpa melihat ekspresi Aska yang langsung berubah sedih, Aldi langsung melangkah pergi menuju tempat dimana motornya diparkir. Dan Aska hanya mengikutinya dari belakang dengan wajah yang cemberut. Tapi Aska tidak mau dicuekin kayak gini sama teman terbaiknya, akhirnya Aska mencoba untuk meminta maaf lagi kepada Aldi kali ini dengan sunggug-sungguh.
“Maaf….maaf….maaf….maaf…. maaf tadi gua dateng telat, maaf karena loe harus lama nungguin gua, maaf karena kita hampir gak bisa wawancara karena kita telat, maaf udah bikin loe marah, maaf….maaf….maaf….” Aska terus memohon pada Aldi agar tidak mendiamkan nya lagi dan mau untuk memaafkan nya. Sebenarnya Aldi gak terlalu peduli kalau hari ini Aska dateng terlambat. Bukan itu sebenarnya yang bikin dia marah.
“Loe tuh Egois, Ka. Loe gak pernah mikirin perasaan orang, loe selalu nyepelein perasaan orang lain. Loe tau gua udah nunggu loe lama banget….” Ekspresi Aldi berubah sedih, tatapan matanya menjadi sangat dalam kepada Aska. “Gua udah nunggu lama banget…..”  
“Maaf….maaf…maaf… Gua janji gak akan ngulang lagi, Gua janji..” Aska terdiam. Dia melihat sesuatu disebrang jalan yang akan membuat teman nya ini gak akan marah lagi padanya. “Aldi liat ada ketoprak. Gua beliin yah, loe kan suka ketoprak, tunggu sini oke” Aska langsung pergi meninggalkan Aldi yang masih duduk diparkiran diatas motornya. Lalu tiba-tiba Aldi mendengar sebuah teriakan tidak jauh dari tempatnya. Suara teriakan itu adalah suara yang sangat dia kenal. Seketika itu juga jantung nya berdetup sangat kencang, dia menoleh kearah teriakan tadi dan melihat sudah banyak orang yang berkerumun disana. Dia berlari keluar pagar menuju kerumunan itu. Semakin dekat jaraknya dari kerumunan orang tersebut, semakin kencang pula jantung nya berdetup. Aldi berusaha masuk melewati kerumunan orang-orang dan melihat Aska terduduk di aspal tepat dipinggir jalan didekat sebuah mobil caravan silver. Seseorang yang sepertinya sang pemilik mobil tersebut berjongkok didekat Aska dan memastikan bahwa seseorang yang baru saja diserempet nya tidak terluka parah. Si penyerempet itu bersedia bertanggugn jawab untuk membawa Aska kerumah sakit dan membayar biaya pengotaban nya.

 Setelah Aska meminta maaf dan berterima kasih kepada seseorang yang telah menyerempetnya itu, dia mencari Aldi yang dia yakin akan semakin marah kepadanya. Tak perlu lama mencari karena sejak tadi Aldi duduk didepan ruang pemeriksaan nya. Aska berusaha tersenyum dan menghampiri teman baik nya itu.
“Aldi…” Panggilnya lembut yang membuat Aldi seketika menoleh kearahnya.
Hati Aldi sangat miris, perih dan sakit melihat seseorang yang harus nya ia jaga terluka karena dirinya. Dia tidak akan mengampuni dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada orang yang sangat disayang nya ini. Melihat balutan kain kasa yang membungkus tangan kanan dan kepala Aska membuatnya teringat dengan kebodohan yang dia lakukan seharian ini.
            “Aldi…Sorry…Sorry banget udah ngerepotin loe…”Aska memberanikan diri untuk duduk disebelah Aldi dan meminta maaf kepada nya untuk yang kesekian kalinya. Aldi hanya menoleh kearahnya beberapa detik lalu memalingkan lagi wajahnya, memandang lantai. Aska merasa bener-bener gak enak sama Aldi dan bingung dengan apa yang harus dia lakukan agar teman nya ini tidak marah lagi padanya. Hasilnya mereka berdua hanya saling berdiam diri, membiarkan diri mereka masing-masing terluka.
            Kata terakhir yang Aldi ucapkan untuk Aska dihari itu adalah “Ayo Pulang” untuk mengajaknya pergi dari rumah sakit itu. Setelah mengantar Aska kerumahnya, Aldi bahkan gak ngomong selamat tinggal atau untuk memarahinya. Dia pergi begitu saja tanpa menanyakan tentang luka ditubuhnya. Selama ini Aldi sangat perhatian ke Aska, melihat Aldi yang tiba-tiba cuek membuat Aska sangat sedih dan merasa gak enak ke Aldi. Besok dia harus minta maaf biar Aldi gak marah lagi.
           
            Keesokan harinya…

            Kelas langsung heboh dengan berita yang terjadi sama Aska kemarin. Dia langsung ditanya-tanya tentang kejadian yang membuatnya harus mendapatkan luka benturan dikepala dan goresan luka karena terhantam aspal. Nanda, teman baik Askapun merasa sangat khawatir mendengar kecelakaan yang menimpa Aska kemarin. Tapi hanya Nanda lah yang paling mengerti bahwa sebenarnya yang paling terluka dari semua kejadian itu adalah Aldi.
            Setelah kejadian kecelakaan yang menimpa Aska kemarin, jarak antara Aska dan Aldi terasa semakin jauh. Walaupun mereka sekelas, Aldi sudah tidak pernah menyapa nya lagi dan dia selalu menghindar saat ada Aska disana. Menyadari bahwa Aldi sengaja menghindarinya, Aska mulai jengkel dan langsung menghampiri Aldi saat pulang sekolah.
            “Aldi sini, gua mau ngomong.” Aska tiba-tiba langsung menarik tangan Aldi ke belakang bangunan sekolah yang kebetulan lagi sepi.
            “Mau ngomong apa? Gua abis ini ada janji sama temen gua.” Aldi berusaha terlihat santai, bersikap seperti biasa.
            “Gua gak lama.” Kata Aska. “Loe sengaja ngehindarin gua?” Pertanyaan yang membuat Aldi terdiam.
            “Sorry… yah pokok nya gua udah minta maaf sama loe. Jadi kalau loe gak maafin berarti yang dosa itu loe.” Aska berusaha mencairkan suasana dengan sedikit candaan. Tapi Aldi masih tetap tidak bergeming.
            “loe mau marah sampai kapan sie? Bentar lagi ujian, kalau loe masih marah sama guan tar gua gak konsen belajar” Kata Aska mulai jengel.
            “Oh, gua pengen liat seberapa jelek nilai loe nanti.” Aldi hanya mengatakan ini dan langsung pergi meninggalkan Aska yang dia yakin mulai jengkel dengan jawaban nya. tapi bagaimanapun Aldi merasa senang bisa berbicara dengan Aska hari ini.
           
Seminggu kemudian…

Gak kerasa akhirnya ujian kenaikan kelas pun berakhir. Untuk mengisi liburan, kelas kami memutuskan untuk berkemah 3 hari 2 malan di sebuah hutan lindung didaerah Bandung. Aska, Nanda dan Aldi ikut berpartisipasi dalam acara liburan kali ini.
            “Sekarang kita bagi-bagi tugas yah…. Karena jumlah nya disini ada 28 murid, jadi kita bagi kelompok dengan masing-masing 7 orang.” Nanda yang saat itu bertugas sebagai koordinator lapangan mulai sigap untuk menjalankan tugasnya.
            “Kelompok pertama cari kayu bakar, lalu kelompok kedua bertugas nyari air…” Nanda menghentikan bicaranya saat tiba-tiba Aska mengacukan tangan nya diantara barisan murid-murid. Aska menghampiri Nanda dan berbisik kepadanya. Aldi yang saat itu tidak terlalu jauh dari mereka diam-diam memperhatikan. Dia kurang yakin dengan apa yang terjadi tapi ada sesuatu yang dikatakan oleh aska yang membuat raut wajah Nanda berubah menjadi sangat cemas. Setelah membacakan semua agenda yang akan dilakukan hari ini semua murid langsung bergegas meninggalkan kemah untuk menjalankan tugas nya masing-masing. Sebelum pergi, Nanda tiba-tiba menghampiri Aldi.
            “Aldi, loe kebagian apa?” Tanya Nanda.
            “Cari daun kering buat bikin api unggun.” Aldi terlihat sudah bersiap-siap untuk pergi.
            “Aldi loe gak usah cari daun kering yah. Loe disini aja temenin Aska, dia lagi gak enak badan. Gua gak bisa nemenin karena gua harus koordinasiin anak-anak.” Mendengar bahwa Aska sakit membuat Aldi ikut merasa sedih. Seperti ada sesuatu yang menghantam hati nya sehingga menjadi sangat sesak bahkan untuk bernafas dengan normal.
            “Oke. Dia dimana sekarang?”
            “Di tenda PMR. Kayaknya dia tidur. Yaudah, Aldi gua pergi dulu yah” Aldi menaruh kembali ransel besar nya dan berjalan ke arah tenda dimana Aska sedang tertidur lalu duduk didepan nya.
            “ Nanda….Nanda….” Suara parau Aska yang memanggil dari dalam tenda menyadarkan lamunan Aldi. Aldi langung bergegas masuk kedalam tenda dan menghampiri nya. Aska yang saat itu sudah terbangun sempat kaget melihat yang datang ternyata Aldi.
            “Eh Aldi, hehe Ngapain disini?” Tanya Aska cengengesan. Aldi hanya terdiam memperhatikan wajah Aska yang pucat.
            “Gua kebagian jagain kemah” Jawab Aldi singkat.
            “Oh. Gua boleh minta tolong gak? Ambilin obat gua donk didalem tas. Tas Gua ada dideket pohon, yang warna merah” Kata Aska masih dengan senyum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar