Terkadang
kita harus mencintai tanpa memiliki. Aku geli setiap mendengar kata-kata itu
keluar dari sebuah film romantis atau lagu-lagu percintaan. Mencintai tanpa
memiliki sama saja dengan omong kosong, bagaimana bisa mencintai seseorang yang
tidak kita miliki? Hahaha… kalimat hiperbola yang membuat perutku geli, sampai…
Aku
mengerti perasaan yang terpancar dari sorotan matanya, aku mengerti sakit yang
menghantam hatinya. Dia tersenyum, senyum yang sangat tulus tapi aku yakin saat
ini hati nya sedang meraung, merintih… sama seperti yang kurasakan saat
melihatnya.
Dia adalah
pria yang sangat baik, paling baik dari pria yang pernah kutemui. Dia lembut
pada siapapun, sopan dan ramah. Yang paling ku sukai darinya adalah dia
mempunyai sorotan mata teduh, yang membuat siapapun akan merasa nyaman jika
bersama nya. tapi sayang, sorot mata yang teduh itu tak pernah menjadi miliku,
tak pernah hanya terpancar untuku… sorot mata itu adalah milik seseorang yang
tidak pernah menyadari keberadaan nya.
Ini cinta
segitiga jika dari sudut pandangku, tapi jika dari sudut pandang nya itu hanya
sebuah cinta tak berbalas.
“Kamu gak
makan La?” Kak Juan bertanya lembut padaku.
Aku
tersenyum. Itu hanya sebuah basa-basi seorang senior kepada junior nya jadi aku
tidak harus merasa senang dan gembira atas perhatian yang dia berikan.
“Nih, kamu
makan dulu” Kak Juan dengan tidak memperdulikan perasaanku, menyodorkan kotak
makan jatahnya ke arahku.
“Gak usah
ka, iya nanti aku makan.” Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum padanya. Senyum
yang bahkan tak sampai pada kelopak matanya.
Dia
berpaling, mengacuhkan ku. Matanya tertuju pada seorang wanita yang tidak lain
adalah sahabat dekatku sendiri, sahabat terbodoh yang tidak menyadari cinta di
sekitarnya.
“Lala…” Dia
berteriak, menghampiriku dan kak Juan.
Dia
menyapaku dengan senyum nya, dia juga menyapa kak Juan dengan segala keceriaan
nya. Chika, dia memang anak yang ceria, dia selalu bisa merubah suasana di
sekitarnnya menjadi menyenangkan. Dia adalah sahabat sejati, soulmate dariku yang
sangat pendiam ini. Kita cocok, setidaknya saat dia yang cerewet menceritakan
segala hal, aku dengan setia mendengarkan nya. Dari situlah aku sangat
mengetahui apa yang ada di pikiran nya, semua tentang nya, segala hal… termasuk
orang yang dia suka.
“Kak Juan,
mana makanan buat aku… laper…” Chika menyodoran tangan nya meminta kotak makan.
Aku melirik
laki-laki yang duduk di sebelahku itu, aku melakukan nya hanya ingin mengetahui
seperti apa reaksinya. Ternyata dia sangat pintar menyelimuti debaran jantung
nya dengan ekspresinya yang datar itu.
“Bentar
saya ambilin.” Kak Juan berlalu.
Chika,
ingin aku memberitahu mu betapa kak Juan sangat menyukaimu bahkan lebih dari
apapun. Aku tau, aku bisa merasakan nya. Tapi, aku sahabatmu, aku tau bagaimana
pandanganmu tentang kak Juan. Aku yakin jika aku memberitahu mu, mungkin akan
ada yang sakit hati. Aku memutuskan untuk tetap diam, biarkan semua ini
berlalu, tertelan oleh waktu.
***
“Reza itu
baik banget sama aku… dia pengertian, gak suka ngelarang-larang aku, ngebebasin
aku mau kemana aja, pergi sama siapa aja… jadi makin cinta deh…” Chika sangat
bersemangat menceritakan cowok yang sudah di pacarinya lebih dari 4 bulan itu.
Aku tidak
terlalu menyimak Chika memuji-muji cowok nya itu, aku terlalu sibuk mereka-reka
perasaan apa yang sedang dirasakan kak Juan saat ini, saat mendengar wanita
yang di sukainya dengan semangat menceritakan pria lain di depan nya.
Kak,
bisakah sebentar saja kau palingkan wajahmu itu ke arahku, apakah rasa sakit
yang ku rasakan ini juga sedang kau rasakan? Apa tekanan hebat di paru-paruku
yang membuat nafas ini menjadi sesak juga kau rasakan? Marah, jengkel, putus
asa dan kekecewaan ini juga muncul dalam hatimu, sama seperti yang muncul dalam
hatiku?
***
Kak Juan, kalau seandainya aku
dan Chika di gantung di antara dua tali dan butuh pertolongan mu, siapa yang
akan kau selamatkan… jika kau menyelamatkan nya, maka taliku akan putus, dan
jika kau menyelamatkan ku, maka tali Chika akan putus dan kau tidak akan pernah
melihatnya lagi seumur hidupmu. Kak Juan, mana yang kau pilih?
Aku rasa
aku tau jawaban nya. aku hanya bisa tersenyum menyadari semua ini, betapa
bodohnya perasaan yang tertanam di hatiku saat ini.
***
Kak juan,
Chika menangis… kak Juan, kau baik sekali mau menghibur nya, kau baik sekali
mau menemaninya sampai air mata nya kering, berhenti mengalir dari mata bulat
nya. Kak Juan, di saat air mata itu kering, di sini ada air mata baru yang
mengalir. Aku juga ingin dihibur olehmu, aku juga ingin kau ada di sini untuk
menemaniku.
Aku
menampar diriku sendiri. Aku tidak tau akan sebodoh apa lagi diriku nanti.
Kenapa aku tidak bisa menyadari apa yang ada di depan mataku ini, kenapa aku
tidak menyadari bukti yang sangat jelas tepat di depan kornea mataku, bahwa aku
hanya angin yang berlalu di sekeliling kak Juan dan Chika.
Aku
berpaling, aku kembali ke tempat asalku berada. Setidaknya di sini aku dapat
berfikir jernih. Biarlah angin membawa pikiranku melambung sejauh-jauh nya dari
tempat dimana ku berada saat ini. Tubuhku, hatiku, jantungku mungkin saat ini
tidak bebas, tapi otaku masih bisa ku manipulasi untuk tidak memikirkan nya.
***
“Kak Juan
baik banget sihh… jadi pengen jadi pacarnya deh” Chika tertawa dengan lepas.
Jangan
ngomong seperti itu pada kak Juan Chika, aku tau pasti dia tidak bisa menahan
diri untuk tersenyum. Ternyata benar. Kulirik dia sedang merekahkan senyum
dengan kepala tertuduk.
Chika,
jangan bercanda seperti itu dengan kak Juan, aku tau betapa besar harapan kak
Juan untuk membuat itu semua bukan candaan, tapi sebuah kenyataan. Chika,
berhentilah terlalu santai mengobrol, bercanda dan bersentuhan fisik dengan kak
Juan. Semakin tinggi kau membawa kak Jaun terbang, akan semakin sakit dia
terjatuh.
Begitu pula
dengan diriku, semakin aku mengetahui perasaan nya, semakin aku merasa sakit…
sakit yang tak dapat ku gambarkan.
***
Chika, ada
kalanya dimana aku menatapmu dengan sinis, berbicara dalam hati “Apa kelebihan
dia, kenapa kak Juan sampai tergila-gila padanya,” namun aku menyadari satu hal
dari dirimu yang bahkan aku sendiri pun tak dapat menahan nya. kau, ada sebuah
pancaran aneh dalam dirimu yang membuat siapapun akan tertarik padamu. Pertama karena
keceriaanmu, lalu gaya bicaramu yang simple dan apa adanya, oh… bahkan lebih
dari itu, kau cantik dan menarik, aku jelas tidak ada apa-apa darimu. Mungkin
itu yang membuat kak Juan jatuh cinta padamu.
***
Ini hanya sepenggal perjalanan
sebuah burung tak berparuh. Cacat. Ya, dia burung yang cacat. Tak punya paruh,
sehingga dia tidak bisa mengeluarkan nyanyian-nyanyian merdu yang ingin di
nyanyikan nya, dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
Ini cerita tentang burung tak
berparuh, yang menangis tanpa suara, bahagia tanpa tawa. Burung tak berparuh
yang tak akan bisa mengungkapkan isi hatinya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar