Kamis, 21 November 2013

Burung Tak Berparuh


            Terkadang kita harus mencintai tanpa memiliki. Aku geli setiap mendengar kata-kata itu keluar dari sebuah film romantis atau lagu-lagu percintaan. Mencintai tanpa memiliki sama saja dengan omong kosong, bagaimana bisa mencintai seseorang yang tidak kita miliki? Hahaha… kalimat hiperbola yang membuat perutku geli, sampai…
            Aku mengerti perasaan yang terpancar dari sorotan matanya, aku mengerti sakit yang menghantam hatinya. Dia tersenyum, senyum yang sangat tulus tapi aku yakin saat ini hati nya sedang meraung, merintih… sama seperti yang kurasakan saat melihatnya.
            Dia adalah pria yang sangat baik, paling baik dari pria yang pernah kutemui. Dia lembut pada siapapun, sopan dan ramah. Yang paling ku sukai darinya adalah dia mempunyai sorotan mata teduh, yang membuat siapapun akan merasa nyaman jika bersama nya. tapi sayang, sorot mata yang teduh itu tak pernah menjadi miliku, tak pernah hanya terpancar untuku… sorot mata itu adalah milik seseorang yang tidak pernah menyadari keberadaan nya.
            Ini cinta segitiga jika dari sudut pandangku, tapi jika dari sudut pandang nya itu hanya sebuah cinta tak berbalas.
            “Kamu gak makan La?” Kak Juan bertanya lembut padaku.
            Aku tersenyum. Itu hanya sebuah basa-basi seorang senior kepada junior nya jadi aku tidak harus merasa senang dan gembira atas perhatian yang dia berikan.
            “Nih, kamu makan dulu” Kak Juan dengan tidak memperdulikan perasaanku, menyodorkan kotak makan jatahnya ke arahku.
            “Gak usah ka, iya nanti aku makan.” Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum padanya. Senyum yang bahkan tak sampai pada kelopak matanya.
            Dia berpaling, mengacuhkan ku. Matanya tertuju pada seorang wanita yang tidak lain adalah sahabat dekatku sendiri, sahabat terbodoh yang tidak menyadari cinta di sekitarnya.
            “Lala…” Dia berteriak, menghampiriku dan kak Juan.
            Dia menyapaku dengan senyum nya, dia juga menyapa kak Juan dengan segala keceriaan nya. Chika, dia memang anak yang ceria, dia selalu bisa merubah suasana di sekitarnnya menjadi menyenangkan. Dia adalah sahabat sejati, soulmate dariku yang sangat pendiam ini. Kita cocok, setidaknya saat dia yang cerewet menceritakan segala hal, aku dengan setia mendengarkan nya. Dari situlah aku sangat mengetahui apa yang ada di pikiran nya, semua tentang nya, segala hal… termasuk orang yang dia suka.
            “Kak Juan, mana makanan buat aku… laper…” Chika menyodoran tangan nya meminta kotak makan.
            Aku melirik laki-laki yang duduk di sebelahku itu, aku melakukan nya hanya ingin mengetahui seperti apa reaksinya. Ternyata dia sangat pintar menyelimuti debaran jantung nya dengan ekspresinya yang datar itu.
            “Bentar saya ambilin.” Kak Juan berlalu.
            Chika, ingin aku memberitahu mu betapa kak Juan sangat menyukaimu bahkan lebih dari apapun. Aku tau, aku bisa merasakan nya. Tapi, aku sahabatmu, aku tau bagaimana pandanganmu tentang kak Juan. Aku yakin jika aku memberitahu mu, mungkin akan ada yang sakit hati. Aku memutuskan untuk tetap diam, biarkan semua ini berlalu, tertelan oleh waktu.
***
            “Reza itu baik banget sama aku… dia pengertian, gak suka ngelarang-larang aku, ngebebasin aku mau kemana aja, pergi sama siapa aja… jadi makin cinta deh…” Chika sangat bersemangat menceritakan cowok yang sudah di pacarinya lebih dari 4 bulan itu.
            Aku tidak terlalu menyimak Chika memuji-muji cowok nya itu, aku terlalu sibuk mereka-reka perasaan apa yang sedang dirasakan kak Juan saat ini, saat mendengar wanita yang di sukainya dengan semangat menceritakan pria lain di depan nya.
            Kak, bisakah sebentar saja kau palingkan wajahmu itu ke arahku, apakah rasa sakit yang ku rasakan ini juga sedang kau rasakan? Apa tekanan hebat di paru-paruku yang membuat nafas ini menjadi sesak juga kau rasakan? Marah, jengkel, putus asa dan kekecewaan ini juga muncul dalam hatimu, sama seperti yang muncul dalam hatiku?
***
Kak Juan, kalau seandainya aku dan Chika di gantung di antara dua tali dan butuh pertolongan mu, siapa yang akan kau selamatkan… jika kau menyelamatkan nya, maka taliku akan putus, dan jika kau menyelamatkan ku, maka tali Chika akan putus dan kau tidak akan pernah melihatnya lagi seumur hidupmu. Kak Juan, mana yang kau pilih?
            Aku rasa aku tau jawaban nya. aku hanya bisa tersenyum menyadari semua ini, betapa bodohnya perasaan yang tertanam di hatiku saat ini.
***
            Kak juan, Chika menangis… kak Juan, kau baik sekali mau menghibur nya, kau baik sekali mau menemaninya sampai air mata nya kering, berhenti mengalir dari mata bulat nya. Kak Juan, di saat air mata itu kering, di sini ada air mata baru yang mengalir. Aku juga ingin dihibur olehmu, aku juga ingin kau ada di sini untuk menemaniku.
            Aku menampar diriku sendiri. Aku tidak tau akan sebodoh apa lagi diriku nanti. Kenapa aku tidak bisa menyadari apa yang ada di depan mataku ini, kenapa aku tidak menyadari bukti yang sangat jelas tepat di depan kornea mataku, bahwa aku hanya angin yang berlalu di sekeliling kak Juan dan Chika.
            Aku berpaling, aku kembali ke tempat asalku berada. Setidaknya di sini aku dapat berfikir jernih. Biarlah angin membawa pikiranku melambung sejauh-jauh nya dari tempat dimana ku berada saat ini. Tubuhku, hatiku, jantungku mungkin saat ini tidak bebas, tapi otaku masih bisa ku manipulasi untuk tidak memikirkan nya.
***
            “Kak Juan baik banget sihh… jadi pengen jadi pacarnya deh” Chika tertawa dengan lepas.
            Jangan ngomong seperti itu pada kak Juan Chika, aku tau pasti dia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Ternyata benar. Kulirik dia sedang merekahkan senyum dengan kepala tertuduk.
            Chika, jangan bercanda seperti itu dengan kak Juan, aku tau betapa besar harapan kak Juan untuk membuat itu semua bukan candaan, tapi sebuah kenyataan. Chika, berhentilah terlalu santai mengobrol, bercanda dan bersentuhan fisik dengan kak Juan. Semakin tinggi kau membawa kak Jaun terbang, akan semakin sakit dia terjatuh.
            Begitu pula dengan diriku, semakin aku mengetahui perasaan nya, semakin aku merasa sakit… sakit yang tak dapat ku gambarkan.
***
            Chika, ada kalanya dimana aku menatapmu dengan sinis, berbicara dalam hati “Apa kelebihan dia, kenapa kak Juan sampai tergila-gila padanya,” namun aku menyadari satu hal dari dirimu yang bahkan aku sendiri pun tak dapat menahan nya. kau, ada sebuah pancaran aneh dalam dirimu yang membuat siapapun akan tertarik padamu. Pertama karena keceriaanmu, lalu gaya bicaramu yang simple dan apa adanya, oh… bahkan lebih dari itu, kau cantik dan menarik, aku jelas tidak ada apa-apa darimu. Mungkin itu yang membuat kak Juan jatuh cinta padamu.
***
Ini hanya sepenggal perjalanan sebuah burung tak berparuh. Cacat. Ya, dia burung yang cacat. Tak punya paruh, sehingga dia tidak bisa mengeluarkan nyanyian-nyanyian merdu yang ingin di nyanyikan nya, dia tak bisa mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
Ini cerita tentang burung tak berparuh, yang menangis tanpa suara, bahagia tanpa tawa. Burung tak berparuh yang tak akan bisa mengungkapkan isi hatinya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar