Kau akan ku jadikan kenangan dan rasa syukur terindah karena aku telah masuk di SMA yang sama dengan mu...
Sorry for diasppointed you
Ah…
aku gak bisa tidur….. berkali-kali kuputar dan gulingkan tubuh ini tetap saja
aku tidak bisa menutup mataku dan tidur dengan nyenyak. Ini nih kalau udah
pergi jauh dari rumah, pasti Homesick nya mulai. Kalau aku gak tidur dikamar
dan ditempat tidur ku pasti aku bener-bener gak bisa tidur.
Ku
tengok jam didinding yang menunjukan pukul setengah 12 malam. Ternyata selama
dua jam ini
aku hanya guling-guling dikasur ini tanpa tidur sama sekali. Kulihat kedua teman ku yang juga satu kasur denganku malah tertidur sangat lelap.
aku hanya guling-guling dikasur ini tanpa tidur sama sekali. Kulihat kedua teman ku yang juga satu kasur denganku malah tertidur sangat lelap.
Aku
menghela nafas sekali lagi…
Aku
putuskan untuk beranjak dari tempat tidur itu dan meraih jaket tebalku yang ada
di senderan kursi dan menggunakan nya. Aku mengendap-endap keluar kamar menuju
pintu dan keluar dari kamar yang akan aku tempati selama 2 malam itu.
Selama
3 hari 2 malam kampus ku mengadaan rekreasi ke Pantai pangandaran. Kami menyewa
tempat menginap dan akan berkeliling pantai di hari berikutnya. Sore ini kami
semua sampai di tempat ini, setelah membereskan barang bawaan, kami semua
langsung beristirahan di kamar masing-masing. Tapi nyata nya aku sama sekali
gak bisa tidur.
Aku
menengadahkan wajahku ke langit dan melihat gelapnya awan menutupi sebagian
dari bulan.
Aku
menghela nafas lagi. Mala mini sangat dingin dan sepi.
Aku
sebenarnya mengantuk, tapi aku benar-benar gak bisa tidur. Mungkin dengan
sedikit jalan-jalan dan mencari angin, aku akan sedikit bisa tidur. Akhirnya
kuputuskan untuk keluar dari halaman penginapan ini untuk menuju ke pantai.
Saat aku
berjalan keluar, ternyata aku tak sengaja bertemu seniorku sedang duduk
sendirian di bawah pohon, didekat pintu keluar penginapan.
Dia
melihat kearahku.
“Kamu
belum tidur?” Tanya cowo keren yang biasa ku panggil Ka Dimas itu.
“Belum
ka, gak bisa tidur.” Kataku.
Aku
sebenar nya ragu untuk melangkah pergi saat udah ketangkap basah ketauan mau
kabur ke pantai. Pasti senior yang menjabat sebagai panitia ini gak akan
mengizinkan ku untuk pergi ke pantai sedirian di tengah malam seperti ini.
“Kamu
mau kemana?” Tanya nya lagi.
“Ng…ng..nggak
kak, cuma jalan-jalan aja” Jawab ku sedikit gugup.
Dia
berdiri, beberapa langkah dariku. “Terus kenapa bawa kamera?” Tanya nya saat
melihat tangan kanan ku yang sedang menggenggam kamera saku.
Ah…
kenapa ngak aku kantongin aja kamera nya tadi.
“Hehehe…
sebenernya aku mau cari pemandangan yang bagus buat difoto kak… aku mau
kepantai…boleh ya kak…. Bentar aja kok…” Aku mulai memohon.
Kak
Dimas menarik nafas panjang. “Yaudah deh, tapi saya ikut yah…. Ini kan udah
malem, nanti kamu ilang lagi.”
Aku
tersenyum menyambut tawaran Kak Dimas yang diam-diam ku kagumi ini.
Selama
perjalanan kami hanya terdiam tanpa ada kata apapun untuk mengakrabkan diri,
sampai akhirnya kami berdua benar-benar berada di pantai.
“Waahh…
Pantai….” Kataku berteriak, yang tanpa kusadari membuat Kak Dimas tersenyum.
“Tapi
udah malem gini pantainya masih rame yah Kak” Kataku.
Saat
kami datang di tengah malam seperti ini, bukanya pantainya semakin sepi, tetapi
malah tambah ramai saja. Tapi dengan banyak nya orang yang berkumpul di pantai itu
tidak mengurutkan niatku untuk mengabadikan tiap momen ini.
Aku
sangat hobi mengambil foto alam atau fenomena-fenomena alam lain nya, itulah
salah satu alasan yang menguatkan ku kenapa aku ingin ikut acara kampus ku ini.
Bersama Kak Dimas, aku berkeliling pantai mencari objek yang bagus untuk
difoto.
Ombak,
Awan, Pohon kelapa, dan kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul tak luput
dari jepretan ku.
“Kamu
berbakat. Hasil foto nya bagus.” Puji Kak Dimas yang membuat mukaku terasa
sedikit panas, memerah. Saat dia melihat hasil jepretanku di kamera yang
kubawa.
“Tapi
kita udah lama disini, kamu gak mau kita foto ber-2?” Tanya Kak dimas dengan
canda.
Aku
hanya tersenyum. Aku sebenarnya juga ingin berfoto berdua dengan Kak Dimas,
tapi aku tidak mau karena aku tau dia…dan….dia tau aku menyukainya bahkan
sebelum kami dipertemukan di kampus yang sama.
“Pantai
nya gak sepi-sepi nih…. Padahal masih pengen foto lautnya…” Aku bergumam.
“Saya
tau tempat yang kayak nya sepi, kamu mau coba kesana? Tempat nya juga bagus
buat di foto, ada batu karang nya.” Kata kak Dimas yang langsung kutanggapi
dengan senyum termanis yang kupunya.
Tempat
itu ternyata tidak terlalu jauh dari tempat yang tadi kita datangi. Masih di
sekitar pantai ini , tapi agak lebih ke utara.
Ternyata
benar kata Kak Dimas, tempat nya bagus dan banyak batu karang nya. disini
sangat hening, hanya terdengar suara desiran ombak yang menyapu pasir dan
membentur karang.
Dengan
Kak Dimas yang menungguku di pinggir pantai, aku mulai asyik mencari objek
untuk fotoku.
Lama
aku asyik sendiri dengan kameraku, saat aku melihat jam tangan yang melingkar
dipergelangan tangan kiriku, betapa keget nya aku menyadari kalau saat ini
sudah hampir pukul 3 pagi. Dan kulihat Kak Dimas masih asyik bermain ombak
tidak jauh dari tempatku berada.
Aku
menghampiri Kak Dimas. “Kak, sorry yah lama, aku jadi lupa waktu gini kalau
lagi photo.” Kataku dengan tampang bersalah karena membuat Kak Dimas jadi gak tidur
semalaman karena menemaniku.
“Gak
papa. Udah selesai photonya?” Tanya Kak Dimas.
“Udah
kak, ayo kita ke penginapan lagi, lumayan masih bisa tidur 2 jam.” Kataku.
“Kamu
udah ngantuk?”
“Ng..nggak
sih, kakak emang gak ngantuk?”
“Ngak
sama sekali. Asyik malah. Oia, matahari terbit disini bagus loh, kamu gak mau
foto itu?” Tanya Kak Dimas yang membuat wajahku berseri-seri.
“Serius?
Wahhh mau kak, yaudah kita tunggu disini sampai matahari terbit yah…” Kataku
dengan semangat.
Kak
Dimas tersenyum sambil mengelus kepalaku dan mengajaku untuk duduk di pinggir
pantai.
“Putri,
loe gak inget gua?” Kak Dimas tiba-tiba berbicara padaku seakan aku adalah
teman se-umuran nya.
Aku
tertegun sebentar… berfikir…. “Mau dibahas sekarang?” Kataku.
Waktu
itu kelas 2 SMA ada murid baru yang masuk ke dalam kelasku, namanya Dimas. Dia
adalah anak yang pendiam dan sangat minterius. Jarang tertawa dan selalu
menghindari teman sekelas nya yang lain.
Itu
hanya awalnya, lama kelamaan dia mulai akrab dengan teman-teman yang lain dan
tidak pernah terlihat sendirian lagi. Mulai bergabung dan bercanda, saling
tertawa bersama teman-teman nya.
Aku
mengaguminya, mulai saat itu. Sampai kelas 3, kelas kami diacak. Aku tidak
sekelas lagi dengan nya, tapi aku masih sering memperhatikan setiap
gerak-geriknya. Saat itulah aku mulai merasakan perasaan kagum ini berubah
menjadi cinta.
Sampai
akhirnya kami semua lulus dan aku yang saat itu gagal di SNMPTN memutuskan
untuk Les dan ikut SNMPTN lagi di tahun berikutnya. Tahun berikutnya aku lulus
dan di terima di universitas dimana aku berada saat ini. Dan saat itulah aku
kembali bertemu dengan Dimas. Karena saat itu dia ada satu tingkat di atas ku,
mau tidak mau aku harus memanggilya dengan panggilan hormat “Kakak” sebelum
namanya.
Dari
teman SMAku dulu yang saat ini se-angkatan dengan Dimas, aku mendengar
bagaimana kelakuan nya saat masuk ke universitas ini.
“Putri,
si Dimas tuh jadi pura-pura gak kenal sama kita yang satu SMA sama dia… dia
malah ngaku kalau dia itu anak lulusan SMA yang dulu sebelum dia pindah ke SMA
kita. Soalnya SMA nya tempat dia dulu sekolah lebih bagus dari SMA kita.”
Itulah
penjelasan dari temanku. Dan mulai saat itu rasa Simpatiku untuk Dimas hilang
tak berbekas. Sampai suatu hari, ternyata tanpa adanya unsur kesengajaan
dariku, aku masuk UKM yang sama dengan Kak Dimas sebagai ketua nya. hanya
perasaan ku saja atau memang begitu, saat pertama melihat ku ada di barisan
mahasiswa semester awal yang akan masuk UKM tersebut ada guratan kekagetan diwajahnya.
Dan sejak saat itu Dimas menghindariku.
“Gua
sangat bangga dengan SMA gua, karena di SMA itu gua menemukan pengalaman yang
sangat berharga, teman-teman yang sangat baik, dan lingkungan yang Indah. Di
SMA itulah gua menjadi dewasa, dan menjadi lebih baik dari gua yang dulu.
Maka
dari itu, saat ada yang bertanya ke gua, ‘Putri kamu dari SMA mana?’ dengan
bangga gua akan jawab nama SMA gua. Ternyata saat disini gua berbahagia
menyandang nama alumni SMA itu, disisi lain malah ada orang yang merasa malu
dengan SMA yang sangat gua banggakan itu.” Aku tersenyum kepada Kak Dimas.
Wajahnya tampak serius.
“Jadi,
Kak dimas tenang aja… aku gak akan bilang kalau kak Dimas itu dari SMA aku, aku
gak akan ikut campur urusan kak Dimas. Sekarang kak Dimas gak perlu capek-capek
ngehindarin aku lagi” Kataku yang mulai kembali ke peranku sebagai seorang
junior.
***
“Putri…
bangun…Putri…” Terdengar suara Elin yang membangunkanku dipagi hari.
Ahh
kepalaku pusing karena baru tidur beberapa menit. Setelah aku selesai
mengabadikan Foto matahari terbit, dengan segera aku dan kak Dimas kembali ke
penginapan untuk istirahat sebelum menjalani agenda pagi nanti.
“Waahhh…
kita dipantai…..” kata teman-temanku yang langsung berlarian menuju pantai
untuk berenang membasahi tubuh mereka dan bermain di lautan yang asin itu.
Aku
tertegun sendiri di pinggir pantai, menyaksikan bahwa pantai di siang hari tak
kalah indah nya dengan pantai yang ada di malam hari.
“Putri…
minjem kameranya donk… mau foto-foto nih…” Kata Elin.
Aku
langsung mengeluarkan kamera saku itu dari dalam saku bajuku dan memberikan nya
ke Elin.
“Memory
nya penuh Putri…” Kata Elin.
Aku
langsung memeriksa semua hasil foto ku karena menurut perasaan ku tadi malam
masih ada sisa beberapa memori lagi di dalam nya.
Ku
periksa satu demi satu hasil foto yang ku ambil tadi malam, takut kalau ada
foto yang gagal, yang memakan memory lebih dari biasanya… Akhirnya aku sampai
di sebuah foto yang aku yakin bahwa aku tidak pernah memotret nya.
Photo
itu adalah photo sebuah pasir putih dengan ukiran kata-kata…
-Sorry
for disappointed you-
_Dimas_
Aku tersenyum memandangi Dimas yang
sedang asyik berenang bersama teman-teman nya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar