Senin, 09 September 2013

Sorry for diasppointed you (end)

Aku berharap, dia yang dulu kukagumi tidak menjadi Dimas yang merasa malu akan almamater SMA nya.
Kau akan ku jadikan kenangan dan rasa syukur terindah karena aku telah masuk di SMA yang sama dengan mu...


Sorry for diasppointed you


            Ah… aku gak bisa tidur….. berkali-kali kuputar dan gulingkan tubuh ini tetap saja aku tidak bisa menutup mataku dan tidur dengan nyenyak. Ini nih kalau udah pergi jauh dari rumah, pasti Homesick nya mulai. Kalau aku gak tidur dikamar dan ditempat tidur ku pasti aku bener-bener gak bisa tidur.
            Ku tengok jam didinding yang menunjukan pukul setengah 12 malam. Ternyata selama dua jam ini
aku hanya guling-guling dikasur ini tanpa tidur sama sekali. Kulihat kedua teman ku yang juga satu kasur denganku malah tertidur sangat lelap.
            Aku menghela nafas sekali lagi…
            Aku putuskan untuk beranjak dari tempat tidur itu dan meraih jaket tebalku yang ada di senderan kursi dan menggunakan nya. Aku mengendap-endap keluar kamar menuju pintu dan keluar dari kamar yang akan aku tempati selama 2 malam itu.
            Selama 3 hari 2 malam kampus ku mengadaan rekreasi ke Pantai pangandaran. Kami menyewa tempat menginap dan akan berkeliling pantai di hari berikutnya. Sore ini kami semua sampai di tempat ini, setelah membereskan barang bawaan, kami semua langsung beristirahan di kamar masing-masing. Tapi nyata nya aku sama sekali gak bisa tidur.
            Aku menengadahkan wajahku ke langit dan melihat gelapnya awan menutupi sebagian dari bulan.
            Aku menghela nafas lagi. Mala mini sangat dingin dan sepi.
            Aku sebenarnya mengantuk, tapi aku benar-benar gak bisa tidur. Mungkin dengan sedikit jalan-jalan dan mencari angin, aku akan sedikit bisa tidur. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari halaman penginapan ini untuk menuju ke pantai.
Saat aku berjalan keluar, ternyata aku tak sengaja bertemu seniorku sedang duduk sendirian di bawah pohon, didekat pintu keluar penginapan.
            Dia melihat kearahku.
            “Kamu belum tidur?” Tanya cowo keren yang biasa ku panggil Ka Dimas itu.
            “Belum ka, gak bisa tidur.” Kataku.
            Aku sebenar nya ragu untuk melangkah pergi saat udah ketangkap basah ketauan mau kabur ke pantai. Pasti senior yang menjabat sebagai panitia ini gak akan mengizinkan ku untuk pergi ke pantai sedirian di tengah malam seperti ini.
            “Kamu mau kemana?” Tanya nya lagi.
            “Ng…ng..nggak kak, cuma jalan-jalan aja” Jawab ku sedikit gugup.
            Dia berdiri, beberapa langkah dariku. “Terus kenapa bawa kamera?” Tanya nya saat melihat tangan kanan ku yang sedang menggenggam kamera saku.
            Ah… kenapa ngak aku kantongin aja kamera nya tadi.
            “Hehehe… sebenernya aku mau cari pemandangan yang bagus buat difoto kak… aku mau kepantai…boleh ya kak…. Bentar aja kok…” Aku mulai memohon.
            Kak Dimas menarik nafas panjang. “Yaudah deh, tapi saya ikut yah…. Ini kan udah malem, nanti kamu ilang lagi.”
            Aku tersenyum menyambut tawaran Kak Dimas yang diam-diam ku kagumi ini.

            Selama perjalanan kami hanya terdiam tanpa ada kata apapun untuk mengakrabkan diri, sampai akhirnya kami berdua benar-benar berada di pantai.
            “Waahh… Pantai….” Kataku berteriak, yang tanpa kusadari membuat Kak Dimas tersenyum.
            “Tapi udah malem gini pantainya masih rame yah Kak” Kataku.
            Saat kami datang di tengah malam seperti ini, bukanya pantainya semakin sepi, tetapi malah tambah ramai saja. Tapi dengan banyak nya orang yang berkumpul di pantai itu tidak mengurutkan niatku untuk mengabadikan tiap momen ini.
            Aku sangat hobi mengambil foto alam atau fenomena-fenomena alam lain nya, itulah salah satu alasan yang menguatkan ku kenapa aku ingin ikut acara kampus ku ini. Bersama Kak Dimas, aku berkeliling pantai mencari objek yang bagus untuk difoto.
            Ombak, Awan, Pohon kelapa, dan kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul tak luput dari jepretan ku.
            “Kamu berbakat. Hasil foto nya bagus.” Puji Kak Dimas yang membuat mukaku terasa sedikit panas, memerah. Saat dia melihat hasil jepretanku di kamera yang kubawa.
            “Tapi kita udah lama disini, kamu gak mau kita foto ber-2?” Tanya Kak dimas dengan canda.
            Aku hanya tersenyum. Aku sebenarnya juga ingin berfoto berdua dengan Kak Dimas, tapi aku tidak mau karena aku tau dia…dan….dia tau aku menyukainya bahkan sebelum kami dipertemukan di kampus yang sama.
            “Pantai nya gak sepi-sepi nih…. Padahal masih pengen foto lautnya…” Aku bergumam.
            “Saya tau tempat yang kayak nya sepi, kamu mau coba kesana? Tempat nya juga bagus buat di foto, ada batu karang nya.” Kata kak Dimas yang langsung kutanggapi dengan senyum termanis yang kupunya.
            Tempat itu ternyata tidak terlalu jauh dari tempat yang tadi kita datangi. Masih di sekitar pantai ini , tapi agak lebih ke utara.
            Ternyata benar kata Kak Dimas, tempat nya bagus dan banyak batu karang nya. disini sangat hening, hanya terdengar suara desiran ombak yang menyapu pasir dan membentur karang.
            Dengan Kak Dimas yang menungguku di pinggir pantai, aku mulai asyik mencari objek untuk fotoku.
            Lama aku asyik sendiri dengan kameraku, saat aku melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku, betapa keget nya aku menyadari kalau saat ini sudah hampir pukul 3 pagi. Dan kulihat Kak Dimas masih asyik bermain ombak tidak jauh dari tempatku berada.
            Aku menghampiri Kak Dimas. “Kak, sorry yah lama, aku jadi lupa waktu gini kalau lagi photo.” Kataku dengan tampang bersalah karena membuat Kak Dimas jadi gak tidur semalaman karena menemaniku.
            “Gak papa. Udah selesai photonya?” Tanya Kak Dimas.
            “Udah kak, ayo kita ke penginapan lagi, lumayan masih bisa tidur 2 jam.” Kataku.
            “Kamu udah ngantuk?”
            “Ng..nggak sih, kakak emang gak ngantuk?”
            “Ngak sama sekali. Asyik malah. Oia, matahari terbit disini bagus loh, kamu gak mau foto itu?” Tanya Kak Dimas yang membuat wajahku berseri-seri.
            “Serius? Wahhh mau kak, yaudah kita tunggu disini sampai matahari terbit yah…” Kataku dengan semangat.
            Kak Dimas tersenyum sambil mengelus kepalaku dan mengajaku untuk duduk di pinggir pantai.
            “Putri, loe gak inget gua?” Kak Dimas tiba-tiba berbicara padaku seakan aku adalah teman se-umuran nya.
            Aku tertegun sebentar… berfikir…. “Mau dibahas sekarang?” Kataku.
           
            Waktu itu kelas 2 SMA ada murid baru yang masuk ke dalam kelasku, namanya Dimas. Dia adalah anak yang pendiam dan sangat minterius. Jarang tertawa dan selalu menghindari teman sekelas nya yang lain.
            Itu hanya awalnya, lama kelamaan dia mulai akrab dengan teman-teman yang lain dan tidak pernah terlihat sendirian lagi. Mulai bergabung dan bercanda, saling tertawa bersama teman-teman nya.
            Aku mengaguminya, mulai saat itu. Sampai kelas 3, kelas kami diacak. Aku tidak sekelas lagi dengan nya, tapi aku masih sering memperhatikan setiap gerak-geriknya. Saat itulah aku mulai merasakan perasaan kagum ini berubah menjadi cinta.
            Sampai akhirnya kami semua lulus dan aku yang saat itu gagal di SNMPTN memutuskan untuk Les dan ikut SNMPTN lagi di tahun berikutnya. Tahun berikutnya aku lulus dan di terima di universitas dimana aku berada saat ini. Dan saat itulah aku kembali bertemu dengan Dimas. Karena saat itu dia ada satu tingkat di atas ku, mau tidak mau aku harus memanggilya dengan panggilan hormat “Kakak” sebelum namanya.
            Dari teman SMAku dulu yang saat ini se-angkatan dengan Dimas, aku mendengar bagaimana kelakuan nya saat masuk ke universitas ini.
            “Putri, si Dimas tuh jadi pura-pura gak kenal sama kita yang satu SMA sama dia… dia malah ngaku kalau dia itu anak lulusan SMA yang dulu sebelum dia pindah ke SMA kita. Soalnya SMA nya tempat dia dulu sekolah lebih bagus dari SMA kita.”
            Itulah penjelasan dari temanku. Dan mulai saat itu rasa Simpatiku untuk Dimas hilang tak berbekas. Sampai suatu hari, ternyata tanpa adanya unsur kesengajaan dariku, aku masuk UKM yang sama dengan Kak Dimas sebagai ketua nya. hanya perasaan ku saja atau memang begitu, saat pertama melihat ku ada di barisan mahasiswa semester awal yang akan masuk UKM tersebut ada guratan kekagetan diwajahnya. Dan sejak saat itu Dimas menghindariku.

            “Gua sangat bangga dengan SMA gua, karena di SMA itu gua menemukan pengalaman yang sangat berharga, teman-teman yang sangat baik, dan lingkungan yang Indah. Di SMA itulah gua menjadi dewasa, dan menjadi lebih baik dari gua yang dulu.
            Maka dari itu, saat ada yang bertanya ke gua, ‘Putri kamu dari SMA mana?’ dengan bangga gua akan jawab nama SMA gua. Ternyata saat disini gua berbahagia menyandang nama alumni SMA itu, disisi lain malah ada orang yang merasa malu dengan SMA yang sangat gua banggakan itu.” Aku tersenyum kepada Kak Dimas. Wajahnya tampak serius.
            “Jadi, Kak dimas tenang aja… aku gak akan bilang kalau kak Dimas itu dari SMA aku, aku gak akan ikut campur urusan kak Dimas. Sekarang kak Dimas gak perlu capek-capek ngehindarin aku lagi” Kataku yang mulai kembali ke peranku sebagai seorang junior.
***
            “Putri… bangun…Putri…” Terdengar suara Elin yang membangunkanku dipagi hari.
            Ahh kepalaku pusing karena baru tidur beberapa menit. Setelah aku selesai mengabadikan Foto matahari terbit, dengan segera aku dan kak Dimas kembali ke penginapan untuk istirahat sebelum menjalani agenda pagi nanti.

            “Waahhh… kita dipantai…..” kata teman-temanku yang langsung berlarian menuju pantai untuk berenang membasahi tubuh mereka dan bermain di lautan yang asin itu.
            Aku tertegun sendiri di pinggir pantai, menyaksikan bahwa pantai di siang hari tak kalah indah nya dengan pantai yang ada di malam hari.
            “Putri… minjem kameranya donk… mau foto-foto nih…” Kata Elin.
            Aku langsung mengeluarkan kamera saku itu dari dalam saku bajuku dan memberikan nya ke Elin.
            “Memory nya penuh Putri…” Kata Elin.
            Aku langsung memeriksa semua hasil foto ku karena menurut perasaan ku tadi malam masih ada sisa beberapa memori lagi di dalam nya.
            Ku periksa satu demi satu hasil foto yang ku ambil tadi malam, takut kalau ada foto yang gagal, yang memakan memory lebih dari biasanya… Akhirnya aku sampai di sebuah foto yang aku yakin bahwa aku tidak pernah memotret nya.
            Photo itu adalah photo sebuah pasir putih dengan ukiran kata-kata…


-Sorry for disappointed you-
_Dimas_
           
 Aku tersenyum memandangi Dimas yang sedang asyik berenang bersama teman-teman nya.

TAMAT
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar