Dia datang begitu saja… hanya
begitu saja…
“Jangan
tertawa!”
“Kenapa?”
“Jangan
tertawa saat hatimu sedang menangis!!! Kau menjijikan!”
Dia yang
menyadarkan ku dari kepalsuan ini…
***
Aku mulai
merasa nyaman di tempatku yang baru. Aku sudah punya banyak teman yang juga
menyayangiku di sini… aku rasa aku bahagia…
Tapi…
“Kau
berkumpul bersama mereka hanya karena kau kesepian, bukan?”
“Tidak. Aku
bahagia saat bersama mereka.”
“Kau hanya
tidak mau sendirian. Bodoh!”
Aku
membencinya… dia tida tau sama sekali tentang diriku. Dia hanya sirik padaku
karena aku sangat bahagia di sini… ya, aku cukup bahagia, kurasa…
***
Aku
bahagia…
“Bohong!!!”
Aku tertawa
sekarang…
“Palsu!!!”
Ini aku…
“Itu bukan
kau!!!”
***
Aku bahagia
di sini… aku bahagia… mereka tertawa bersama ku… mereka tertawa… mereka…
Bukan aku…
***
“Aku merasa
selama ini aku bahagia…”
“Ya, aku
tau.”
“Aku merasa
ini adalah tempatku…”
“Ya, aku
tau.”
“Siapa
mereka? siapa yang selama ini tertawa bersamaku?”
“Mereka,
hanya mereka.”
“Apa aku
bahagia?”
“Tidak,
kurasa.”
“Apa aku
memang tertawa?”
“Tidak,
kurasa.”
“Lalu apa
yang aku lakukan?”
“Kau hanya
zombie.”
“Seburuk
itukah aku?”
“Tidak.
Bahkan lebih buruk lagi… kau bahkan tidak menyadari bahwa kau zombie.”
“Ya, kau
benar. Aku tidak menyadarinya… Aku berpura-pura bahagia selama ini, aku takut
sendirian… jadi aku harus bahagia.”
“Kau tau,
kau menjijikan.”
“Ya, aku
sangat menjijikan.”
***
Ya, aku
memang menjijikan. Ternyata airmata ini sudah lama terbendung dalam hatiku… sudah
lama ku tahan untuk tidak keluar… sudah lama… terlalu lama…
Hatiku
sakit… sangat sakit… otaku yang memaksa setiap realitas membekukan perasaanku…
otaku memanipulasiku dengan baik… sangat baik…
Aku ingin
menangis… aku hanya ingin menangis sekarang…
“Sekarang
aku sendiri, kau tau?”
“Pada
dasarnya kita memang sendiri.”
“Maksudmu?”
“Kau tak
bisa selamanya dengan orang lain, bahkan dengan orang tuamu sekalipun. Kau
benar-benar sendiri di dunia ini…”
“Ya, kau
benar.”
“Kau harus
terbiasa sendirian, mulai dari sekarang.”
Aku melamun… tenggelam dalam pikiranku sendiri…
“Mereka,
teman-temanmu, buatlah batas dengan mereka… mereka hanya memanfaatkan mu… kau
tau, kan?”
“Ya, aku
tau…”
“Lalu
kenapa kau masih bersama mereka?”
Aku tersenyum, memandangnya dengan senyum termanis yang
kupunya.
“Aku takut
sendirian…”
“Bodoh!”
“Ya, aku
memang bodoh…”
Dia mengusap kepalaku lembut.
“Panggil
aku jika kau kesepian…”
Dan dia pergi…
***
“Ya Allah…
Aku memanggilmu karena saat ini aku sedang kesepian… kau telah janji akan
menemaniku saat aku kesepian…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar