Jumat, 10 Mei 2013

THE CURSE OF LOVE CIRCLE part1


ketika mahatahari, bumi dan bulan berada disatu garis lurus, saat itulah terjadi sebuah gerhana. Dua puluh lima meter arah barat daya samudra pasifik terjadi gelombang besar setinggi 3 kaki sebanyak tiga kali.
“sudah menonton nya, ayo cepat tidur Ara” teriak Ibu.
“Ia bu” jawabku.
Tak terasa sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, ternyata aku terlalu asyik menonton TV sampai lupa waktu begini- ini sungguh gayaku.
…….
                Seperti pada umumnya kesibukan anak remaja 17 tahun yang masih labil, ketika jam sudah
menunjukan pukul setengah tujuh pagi itu adalah hari yang sangat tenang antara aku dan ibu sebelum berangkat sekolah.
                “Ara, kamu ini mau sekolah gak sih, ayo berangkat nanti terlambat” teriak ibu dari dapur yang saat itu sedang mengiris-iris bawang dengan pisaunya.
                “nanggung Bu, acaranya lagi seru” jawabku datar.
                “Apa?” teriak ibu.
seketika hawa dingin merayap masuk kedalam tubuhku, kegelapan mulai menyelimuti ruangan ini, ternyata ibu sudah mengacungkan pisau yang di gunakan untuk mengiris bawang itu tepat dibelakangku. Dengan mata merah, raut wajah yang akan meledak  dan kobaran api yang keluar dari tubuhnya tiba-tiba…
                “sayur…..sayur…..” terdengar suara tukang sayur memanggil dari luar rumah.
                “bu, tukang sayur” kataku memberitau.
Seketika ibu langsung berlari keluar rumah seperti pelari marathon yang namanya dipertaruhkan untuk pertandingan itu. Lagi-lagi ternyata aku selamat dari maut yang selalu mengancamku setiap pagi. SETIAP PAGI.
……..
Disekolah adalah tempat yang paling menyenangkan bagiku, aku punya segalanya disini. Kesenangan, teman, Pekerjaan. Pekerjaan? Kalian pasti bertanya-tanya apa pekerjaanku di sekolah- Ini adalah bagian favoritku. Jadi tugasku disekolah ini bisa dibilang sangat berat yaitu menjadi pemimpin dari sebuah kelompok keadilan yang membasmi kejahatan disekolah. Kayak gini nih contohnya.
                “Reno, Bu Hani manggil loe tuh dikantor” kata tersangka
Pengenalan tokoh:
(Reno adalah murid katro, ndeso, kuper yang hidupnya di balik tempurung kura-kura yang isinya Cuma buku pelajaran. Dia punya koleksi lengkap jilid manga Fisika, novel Biologi, cerpen Kimia dan cerita roman matematika. Moto hidupnya adalah jika di neraka ada buku, dia akan tetap betah tinggal disana. Saat semua orang meringis kesakitan karena terbakar, dia akan terseyum bahagia dengan membaca)
(Bu Hani, guru bahasa inggris yang cerewet karena diusianya yang sudah berkepala Sembilan tidak juga ada lelaki yang meminangnya. Setiap hari dia akan mengomelimu bahkan saat kau sedang tidak berbuat salah. Contohnya  Saat kau berseragam rapi, bu Hani akan mengomel bahwa pakaianmu itu terlalu formal untuk anak seusiamu, berpakaianlah yang sewajarnya dan jangan berpakaian seperti kau ingin mencari muka di depan gurumu untuk mendapatkan nilai tinggi dirapot.)
(Tersangka, cowo super iseng yang akan kenyang hanya dengan tertawa melihat temannya menderita)
                “ada apa bu Hani manggil aku?” Tanya Reno.
                “mane gue tau, udeh sane ntar diomelin lagi gue gara-gara loe lama” kata tersangka.
Dengan polosnya Reno pergi ke kantor guru dan menemui bu Hani yang sedang Berdandan di mejanya. (Warning: apapun anda, siapapun anda, dan  seberapa kayapun anda, jangan pernah mengajak bu Hani berbicara saat dia sedang berdandan, karena jika tidak maka dia akan dengan seketika berubah menjadi warewolf yang akan mengoyak tubuhmu dengan taringnya dan setelah selesai dia akan pergi kerumahmu untuk mengoyak  ibumu, lalu ayahmu, kakakmu, adikmu, nenekmu, kakekmu, tetanggamu,dan siapapun yang pernah mengenalmu dan berkontak fisik denganmu)
                “Selamat pagi ibu, ibu memanggil saya?” Tanya Reno sopan.
dengan tatapan matanya yang tajam bu Hani menoleh untu melihat siapa yang berani-berani mengganggunya berdandan dan mengingat-ingat siapa saja keluarga si calon korban, semua orang yang mengenalnya dan pernah berkontak fisik dengan si calon korban.
                “oh kamu Reno, ibu kira siapa. Tidak Reno, ibu tidak memanggilmu.” kata bu Heni dengan lembut.
                “Oh, mungkin ada kesalahan bu, kalau begitu saya permisi dulu bu” kata Reno sopan.
Si tersangka  yang mengintip dari jendela merasa sangat kecewa karena dia tidak berhasil menyaksikan yang diharapkannya itu.
(Note: tak pedulu siapapun anda, siapa orang tua anda dan  seberapa kayapun anda, saat nilai rapot anda mendekati sempurna, bahkan singapun akan menjilati muka anda seperti anjing).
                “lapor boss saya gagal menjaili si Reno” kata tersangka lemas.
                “tidak apa-apa, berarti aku menang taruhan dan cepat belikan baso untuku”
Kalian pasti bertanya-tanya siapa boss jahat yang rela menjaili anak lemah yang tak berdaya itu kan? itu aku, Ara. Atau lebih dikenal dengan Boss Ara. Inilah pekerjaanku di sekolah, membuat akrab satu dengan yang lain, guru dengan murid, murid dengan murid lainnya. Sungguh pekerjaan yang sangat berat dan beresiko. Pada perkerjaan ini aku dibantu oleh dua anak buahku yaitu si tersangka orang yang terjun langsung kelapangan dan seorang sekretaris. Akan ku jelaskan tugas sekretarisku nanti.
Sayangnya hari-hari seperti itu sudah berlalu, setidaknya untuk jangka waktu tertentu karena besok sudah libur kenaikan kelas yang akan berlangsung selama dua minggu kedepan. Aku rasa akan membosankan dengan hanya aku dan ibuku serta ayahku dirumah, tidak akan ada kesenangan, kejailan dan taruhan antara aku dan si tersangka selama liburan. Tapi ternyata sebuah keajaiban muncul dari mulut si tersangka.
                “selama dua minggu kita akan pergi berkemah di hutan” katanya dengan nyaring.
Jujur aku sangat bahagia mendengarnya. Jika itu terjadi maka liburan kali ini bukanlah sebuah TV hitam putih jaman belanda yang acaranya perang-perangan antara aku dan ibuku. Aku akan langsung menyetujuinya dan berteriak dengan nyaring bahwa aku setuju lalu memeluk si tersangka untuk mengucapkan terima kasih karena telah hadir di dunia ini untuk menjadi anak buahku yang cerdas. tapi karena aku adalah seorang boss jadi menjaga image di depan anak buah adalah yang paling penting. Aku hanya mengangguk pelan menandakan setuju.
                “sekrataris, siapkan semuanya” titahku.
Sesuai namanya, jabatannya sebagai sekretaris. Dialah otak dari semua rencana jahat kita, dari mulai strategi, scenario sampai calon korban. Tugasku hanya memprediksi hasil dari penjailan ini. Sekretaris akan mencatat apapun, kapanpun dan dimanapun untuk mendapatkan hasil yang memuaskan bagi tugas yang diembannya. Benar-benar sekretaris yang professional.
                “boss, akan lebih baik jika mengajak orang dewasa juga serta orang yang tau tentang seluk- beluk berkemah di hutan” usul si sekretaris.
                “aku rasa kau benar, baiklah kalau begitu kita ajak si kura-kura Reno dan Si perawan tua bu Hani”
Perkemahanpun dimulai.
Rencana pertama : Berkumpul di terminal bus jam 07.00 am
                “ sekraterisku, maaf aku terlambat. Tadi malam aku menonton TV sampai lupa waktu- benar-benar gayaku.” Kataku terengah-engah karena terburu-buru datang.
                “mmm” katanya santai sambil mengetik-ngetik di notebooknya.
“Mana yang lain?” aku bertanya bagitu karena aku hanya bertemu dengan si sekretarisku ini dan tidak melihat si tersangka, bu Hani, dan si kura-kura Reno.
“belum datang” jawab si sekretaris singkat.
“apa? Mereka itu benar-benar, terlambat sampai seperti ini.” Kataku marah “Kau datang jam berapa?”
“jam tujuh sesuai perjanjian kita” katanya tanpa berpaling dari apa yang sedang ia kerjakan.
“lalu jam berapa sekarang?”tanyaku lagi dengan emosi.
“sepuluh”
Aku benar-benar kaget, ternyata aku sama saja dengan mereka, terlambat sampai segininya. Akhirnya aku putuskan untuk diam tak berkomentar dan menunggu yang lain datang. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pada jam 11.00 am kami lengkap semua.
Rencana kedua : pergi ke tempat tujuan dengan bis ac yang nyaman lalu bernyanyi-nyanyi kecil untuk mengisi waktu sampai bis tiba ditempat tujuan.
                Kalian tau kan kalau kita semua terlambat, lalu kami ketinggalan bis dan akhirnya kami menumpang pada mobil pick up pembawa sayuran yang akan diantar ke daerah tempat tujuan kami. Di tengah matahari yang panas dan jalanan yang berdebu,  cukup menyenangkan dengan semua wortel serta brokoli disekelilingmu, ditemani suara merdu bu Hani yang mengomeli kami sepanjang jalan.
Rencana ketiga : kita sampai di tempat tujuan sekitar sore hari dan kamipun langsung mendirikan tenda dan membuat api unggun. Duduk melingkar sambil bercanda ria menunggu matahari terbenam.
                “sekretaris, jam berapa sekarang?” tanyaku geram.
                “jam lima sore Boss”
                “jam lima sore dan saya belum mandi, saya pikir akan menyenangkan berkemah dengan kalian tapi ternyata bla…..bla….bla…..” omelan bu Hani akan terus berlanjut.
Jam lima sore dan hari sudah hampir gelap, badan lemas dan perut lapar setelah berjalan ber jam-jam tidak tau ada dimana dan mau kemana, ditambah dengan omelan perawan tua.
                “hey kura-kura, jangan hanya membaca terus, coba pikirkan bagaimana ini? Aku tidak mau tidur di jalanan.” Bentak si tersangka.
                “kenapa kita tidak istirahat saja dulu diwarung” usul Reno.
                “apa kau gila? Mana ada warung ditempat seperti ini” balas si tersangka.
Reno menunjuk kebelakang kita dan disepanjang jalan yang kita lalui berjejer warung-warung makan  atau warteg kecil pinggir jalan.
                “aku rasa aku akan gila” gumam si sekretaris.
                “idiot” umpatku.
Akhirnya kita berlima langsung mencari warung yang akan kita singgahi, kami putuskan pada sebuah warung kecil yang terdapat disudut jalan.
                “sepertinya ini lebih tepat dibilang tempat pemujaan daripada warung” kata Reno.
                “tidak ada yang bertanya komentarmu” kata si tersangka.
Aku pikir benar dengan apa yang dikatakan oleh Reno tadi, tempat ini memang lebih tepat dibilang tempat pemujaan dari pada warung. Tempat ini terletak di sudut jalan seperti warung remang-remang. Dengan pencahayaan yang seadanya ditambah disudut ruangan warung ini ada sebuah patung kecil menyeramkan dan berdebu seperti patung seorang wanita sedang melingkarkan tangannya didada. Sepertinya sudah lama tidak dibersihkan sehingga terlihat kusam dan kotor, Patung mistik untuk pemujaan.
                “mau pesan apa?”
Serontak kami dikagetkan oleh nenek-nenek yang tiba-tiba muncul dari bawah meja kecil panjang yang ada dihadapan kami.
                “maaf mengagetkan, tadi ada yang jatuh ke bawah meja lalu nenek ambil” jelas si nenek.
                “nasi ayam nek” kataku singkat
                “sama nek,” lanjut sekretaris
Begitu selanjutnya sampai kami semua selasai memesan. Tapi ada satu masalah lagi yaitu dimana kami akan makan, disini tidak terlihat satupun kursi maupun meja atau apapun yang bisa dipakai untuk menaruh makanan kami. Melihat keherananku, Reno menjawab…
                “ini warung prasmanan, kita boleh makan dimana aja”
Aku mengangguk tanda mengerti. Setelah makanan datang, kita langsung melahap makanan itu seperti anak anjing tersesat yang akhirnya mendapat daging segar.
                “tempat ini memang aneh tapi makanan disini enak” kata si sekretaris.
                “kau benar, tapi dimana bu Hani?” Tanya si tersangka.
                “tidak tau, tadi dia makan disampingku tapi sekarang malah menghilang” jawabku santai.
                “aku merinding boss, jangan-jangan tempat ini angker dan nenek-nenek tadi adalah hantu kesepian yang akan menculik kita semua” kata si tersangka.
                “cerdas sedikit, mana ada hal seperti itu di dunia ini” jelas Reno.
                “hey kura-kura katro, dunia kita berbeda. Kau dengan tempurung kura-kuramu dan aku dengan bumiku” jelas si tersangka.
                “aku rasa Tersangka ada benarnya juga” kataku mendukung.
                “boss, kau jangan membuatku takut” kata si sekretaris.
                “Ara, boleh aku bertanya, Kenapa kau selalu memanggilku tersangka?” Tanya si tersangka.
                “dan boleh aku bertanya, kenapa kau memanggilku Ara?” Tanya Ara.
                “that is your name, right?”
                “ and that is your name too”
                “aku senang Ara memanggilku sekretaris ” sambung si sekretaris.
                “tapi kenapa aku harus jadi tersangka” gumam si tersangka
Saat kami sedang asyik mengobrol, bu Hani datang dari pinggir warung dan bergabung bersama kami.
                “ibu dari mana?” Tanya Reno
                “ternyata nenek tadi adalah seorang peramal. Tadi ibu dari kamar mandi dan bertemu dengan nenek itu di belakang, dia menawarkan untuk meramal ibu. Dia bahkan tau ibu belum menikah”
                “siapapun yang melihat wajah ibu akan mengetahui bahwa ibu belum menikah” kataku bergumam.
                “are you said something Ara?” Tanya Bu Hani dengan nada yang sedikit ditinggikan. (artinya dia tidak senang jika ada yang memotong pembicaraannya)
                “memangnya dia bilang apa tentang ibu?” itu Reno yang nanya. Aku sih gak mau denger si nenek itu bilang apa tentang masa depannya bu Hani, pasti menyeramkan.
                “Dia bilang ibu akan terjebak disebuah lingkaran cinta, tapi ibu tidak terlalu mengerti yang dia katakan, tapi terakhir dia bilang bahwa sebentar lagi ibu akan menikah.” Kata bu Hani bahagia.
                “semua peramal memang seperti itu, hanya mengatakan yang ingin didengar oleh orang yang diramalnya” gumamku lagi.
                “ what do you say ara, I’m not hear that?” kali ini nada suara bu Hani naik jadi 5 oktav
                “kita udah selesai bu makan nya. Bagaimana jika kita menginap dulu semalam disini lalu besok pagi kita baru mencari mobil tumpangan untuk pergi ke hutan tempat kita akan berkemah.” Jelas si sekretaris
Semua menyetujui saran dari sekretaris dan kami meminta ijin kepada nenek pemilih warung untuk tidur semalam diwarungnya dan dengan senang hati si nenek pemilik warung ini mempersilahkan kami tidur diwarungnya asal jangan pernah menyetuh patung yang ada dipojok ruangan itu. saat kami Tanya mengapa, nenek itu hanya menjawab bahwa patung itu sangat kotor dan banyak debunya. Jika kalian menyentuhnya maka tangan kalian akan kotor. Alasan yang masuk akal menurutku. Karena kami sangat lelah akhirnya kami terlelap di warung yang kecil dengan beralaskan tikar pandan.
                                                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar