ketika mahatahari, bumi dan bulan
berada disatu garis lurus, saat itulah terjadi sebuah gerhana. Dua puluh lima
meter arah barat daya samudra pasifik terjadi gelombang besar setinggi 3 kaki sebanyak
tiga kali.
“sudah menonton nya, ayo cepat
tidur Ara” teriak Ibu.
“Ia bu” jawabku.
Tak terasa sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah
dua belas malam, ternyata aku terlalu asyik menonton TV sampai lupa waktu
begini- ini sungguh gayaku.
…….
Seperti
pada umumnya kesibukan anak remaja 17 tahun yang masih labil, ketika jam sudah
menunjukan pukul setengah tujuh pagi itu adalah hari yang sangat tenang antara
aku dan ibu sebelum berangkat sekolah.
“Ara,
kamu ini mau sekolah gak sih, ayo berangkat nanti terlambat” teriak ibu dari
dapur yang saat itu sedang mengiris-iris bawang dengan pisaunya.
“nanggung
Bu, acaranya lagi seru” jawabku datar.
“Apa?”
teriak ibu.
seketika hawa dingin merayap masuk kedalam tubuhku, kegelapan
mulai menyelimuti ruangan ini, ternyata ibu sudah mengacungkan pisau yang di
gunakan untuk mengiris bawang itu tepat dibelakangku. Dengan mata merah, raut
wajah yang akan meledak dan kobaran api
yang keluar dari tubuhnya tiba-tiba…
“sayur…..sayur…..”
terdengar suara tukang sayur memanggil dari luar rumah.
“bu, tukang sayur” kataku
memberitau.
Seketika ibu langsung berlari keluar rumah seperti pelari
marathon yang namanya dipertaruhkan untuk pertandingan itu. Lagi-lagi ternyata
aku selamat dari maut yang selalu mengancamku setiap pagi. SETIAP PAGI.
……..
Disekolah adalah tempat yang
paling menyenangkan bagiku, aku punya segalanya disini. Kesenangan, teman,
Pekerjaan. Pekerjaan? Kalian pasti bertanya-tanya apa pekerjaanku di sekolah-
Ini adalah bagian favoritku. Jadi tugasku disekolah ini bisa dibilang sangat
berat yaitu menjadi pemimpin dari sebuah kelompok keadilan yang membasmi
kejahatan disekolah. Kayak gini nih contohnya.
“Reno,
Bu Hani manggil loe tuh dikantor” kata tersangka
Pengenalan tokoh:
(Reno adalah
murid katro, ndeso, kuper yang hidupnya di balik tempurung kura-kura yang
isinya Cuma buku pelajaran. Dia punya koleksi lengkap jilid manga Fisika, novel
Biologi, cerpen Kimia dan cerita roman matematika. Moto hidupnya adalah jika di neraka ada buku, dia akan tetap
betah tinggal disana. Saat semua orang meringis kesakitan karena terbakar,
dia akan terseyum bahagia dengan membaca)
(Bu Hani, guru bahasa
inggris yang cerewet karena diusianya yang sudah berkepala Sembilan tidak juga
ada lelaki yang meminangnya. Setiap hari dia akan mengomelimu bahkan saat kau
sedang tidak berbuat salah. Contohnya Saat
kau berseragam rapi, bu Hani akan mengomel bahwa pakaianmu itu terlalu formal
untuk anak seusiamu, berpakaianlah yang sewajarnya dan jangan berpakaian seperti
kau ingin mencari muka di depan gurumu untuk mendapatkan nilai tinggi dirapot.)
(Tersangka, cowo
super iseng yang akan kenyang hanya dengan tertawa melihat temannya menderita)
“ada
apa bu Hani manggil aku?” Tanya Reno.
“mane
gue tau, udeh sane ntar diomelin lagi gue gara-gara loe lama” kata tersangka.
Dengan polosnya Reno pergi ke kantor guru dan menemui bu
Hani yang sedang Berdandan di mejanya. (Warning: apapun anda, siapapun anda, dan seberapa kayapun anda, jangan pernah mengajak
bu Hani berbicara saat dia sedang berdandan, karena jika tidak maka dia akan
dengan seketika berubah menjadi warewolf yang akan mengoyak tubuhmu dengan
taringnya dan setelah selesai dia akan pergi kerumahmu untuk mengoyak ibumu, lalu ayahmu, kakakmu, adikmu, nenekmu,
kakekmu, tetanggamu,dan siapapun yang pernah mengenalmu dan berkontak fisik
denganmu)
“Selamat
pagi ibu, ibu memanggil saya?” Tanya Reno sopan.
dengan tatapan matanya yang tajam bu Hani menoleh untu
melihat siapa yang berani-berani mengganggunya berdandan dan mengingat-ingat siapa
saja keluarga si calon korban, semua orang yang mengenalnya dan pernah
berkontak fisik dengan si calon korban.
“oh
kamu Reno, ibu kira siapa. Tidak Reno, ibu tidak memanggilmu.” kata bu Heni dengan
lembut.
“Oh,
mungkin ada kesalahan bu, kalau begitu saya permisi dulu bu” kata Reno sopan.
Si tersangka yang
mengintip dari jendela merasa sangat kecewa karena dia tidak berhasil
menyaksikan yang diharapkannya itu.
(Note: tak pedulu siapapun
anda, siapa orang tua anda dan seberapa
kayapun anda, saat nilai rapot anda mendekati sempurna, bahkan singapun akan menjilati
muka anda seperti anjing).
“lapor
boss saya gagal menjaili si Reno” kata tersangka lemas.
“tidak
apa-apa, berarti aku menang taruhan dan cepat belikan baso untuku”
Kalian pasti bertanya-tanya siapa boss jahat yang rela menjaili
anak lemah yang tak berdaya itu kan? itu aku, Ara. Atau lebih dikenal dengan
Boss Ara. Inilah pekerjaanku di sekolah, membuat akrab satu dengan yang lain,
guru dengan murid, murid dengan murid lainnya. Sungguh pekerjaan yang sangat
berat dan beresiko. Pada perkerjaan ini aku dibantu oleh dua anak buahku yaitu
si tersangka orang yang terjun langsung kelapangan dan seorang sekretaris. Akan
ku jelaskan tugas sekretarisku nanti.
Sayangnya hari-hari seperti itu
sudah berlalu, setidaknya untuk jangka waktu tertentu karena besok sudah libur
kenaikan kelas yang akan berlangsung selama dua minggu kedepan. Aku rasa akan
membosankan dengan hanya aku dan ibuku serta ayahku dirumah, tidak akan ada
kesenangan, kejailan dan taruhan antara aku dan si tersangka selama liburan.
Tapi ternyata sebuah keajaiban muncul dari mulut si tersangka.
“selama
dua minggu kita akan pergi berkemah di hutan” katanya dengan nyaring.
Jujur aku sangat bahagia mendengarnya. Jika itu terjadi maka
liburan kali ini bukanlah sebuah TV hitam putih jaman belanda yang acaranya
perang-perangan antara aku dan ibuku. Aku akan langsung menyetujuinya dan
berteriak dengan nyaring bahwa aku setuju lalu memeluk si tersangka untuk
mengucapkan terima kasih karena telah hadir di dunia ini untuk menjadi anak
buahku yang cerdas. tapi karena aku adalah seorang boss jadi menjaga image di
depan anak buah adalah yang paling penting. Aku hanya mengangguk pelan
menandakan setuju.
“sekrataris,
siapkan semuanya” titahku.
Sesuai namanya, jabatannya sebagai sekretaris. Dialah otak
dari semua rencana jahat kita, dari mulai strategi, scenario sampai calon
korban. Tugasku hanya memprediksi hasil dari penjailan ini. Sekretaris akan mencatat
apapun, kapanpun dan dimanapun untuk mendapatkan hasil yang memuaskan bagi
tugas yang diembannya. Benar-benar sekretaris yang professional.
“boss,
akan lebih baik jika mengajak orang dewasa juga serta orang yang tau tentang
seluk- beluk berkemah di hutan” usul si sekretaris.
“aku
rasa kau benar, baiklah kalau begitu kita ajak si kura-kura Reno dan Si perawan
tua bu Hani”
Perkemahanpun dimulai.
Rencana pertama :
Berkumpul di terminal bus jam 07.00 am
“
sekraterisku, maaf aku terlambat. Tadi malam aku menonton TV sampai lupa waktu-
benar-benar gayaku.” Kataku terengah-engah karena terburu-buru datang.
“mmm”
katanya santai sambil mengetik-ngetik di notebooknya.
“Mana yang lain?” aku bertanya
bagitu karena aku hanya bertemu dengan si sekretarisku ini dan tidak melihat si
tersangka, bu Hani, dan si kura-kura Reno.
“belum datang” jawab si
sekretaris singkat.
“apa? Mereka itu benar-benar,
terlambat sampai seperti ini.” Kataku marah “Kau datang jam berapa?”
“jam tujuh sesuai perjanjian
kita” katanya tanpa berpaling dari apa yang sedang ia kerjakan.
“lalu jam berapa
sekarang?”tanyaku lagi dengan emosi.
“sepuluh”
Aku benar-benar kaget, ternyata aku sama saja dengan mereka,
terlambat sampai segininya. Akhirnya aku putuskan untuk diam tak berkomentar
dan menunggu yang lain datang. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pada jam
11.00 am kami lengkap semua.
Rencana kedua : pergi
ke tempat tujuan dengan bis ac yang nyaman lalu bernyanyi-nyanyi kecil untuk
mengisi waktu sampai bis tiba ditempat tujuan.
Kalian
tau kan kalau kita semua terlambat, lalu kami ketinggalan bis dan akhirnya kami
menumpang pada mobil pick up pembawa sayuran yang akan diantar ke daerah tempat
tujuan kami. Di tengah matahari yang panas dan jalanan yang berdebu, cukup menyenangkan dengan semua wortel serta
brokoli disekelilingmu, ditemani suara merdu bu Hani yang mengomeli kami
sepanjang jalan.
Rencana ketiga : kita
sampai di tempat tujuan sekitar sore hari dan kamipun langsung mendirikan tenda
dan membuat api unggun. Duduk melingkar sambil bercanda ria menunggu matahari
terbenam.
“sekretaris,
jam berapa sekarang?” tanyaku geram.
“jam
lima sore Boss”
“jam
lima sore dan saya belum mandi, saya pikir akan menyenangkan berkemah dengan
kalian tapi ternyata bla…..bla….bla…..” omelan bu Hani akan terus berlanjut.
Jam lima sore dan hari sudah hampir gelap, badan lemas dan
perut lapar setelah berjalan ber jam-jam tidak tau ada dimana dan mau kemana,
ditambah dengan omelan perawan tua.
“hey
kura-kura, jangan hanya membaca terus, coba pikirkan bagaimana ini? Aku tidak
mau tidur di jalanan.” Bentak si tersangka.
“kenapa
kita tidak istirahat saja dulu diwarung” usul Reno.
“apa
kau gila? Mana ada warung ditempat seperti ini” balas si tersangka.
Reno menunjuk kebelakang kita dan disepanjang jalan yang
kita lalui berjejer warung-warung makan
atau warteg kecil pinggir jalan.
“aku
rasa aku akan gila” gumam si sekretaris.
“idiot”
umpatku.
Akhirnya kita berlima langsung mencari warung yang akan kita
singgahi, kami putuskan pada sebuah warung kecil yang terdapat disudut jalan.
“sepertinya
ini lebih tepat dibilang tempat pemujaan daripada warung” kata Reno.
“tidak
ada yang bertanya komentarmu” kata si tersangka.
Aku pikir benar dengan apa yang dikatakan oleh Reno tadi,
tempat ini memang lebih tepat dibilang tempat pemujaan dari pada warung. Tempat
ini terletak di sudut jalan seperti warung remang-remang. Dengan pencahayaan
yang seadanya ditambah disudut ruangan warung ini ada sebuah patung kecil menyeramkan
dan berdebu seperti patung seorang wanita sedang melingkarkan tangannya didada.
Sepertinya sudah lama tidak dibersihkan sehingga terlihat kusam dan kotor,
Patung mistik untuk pemujaan.
“mau
pesan apa?”
Serontak kami dikagetkan oleh nenek-nenek yang tiba-tiba
muncul dari bawah meja kecil panjang yang ada dihadapan kami.
“maaf
mengagetkan, tadi ada yang jatuh ke bawah meja lalu nenek ambil” jelas si
nenek.
“nasi
ayam nek” kataku singkat
“sama
nek,” lanjut sekretaris
Begitu selanjutnya sampai kami semua selasai memesan. Tapi
ada satu masalah lagi yaitu dimana kami akan makan, disini tidak terlihat
satupun kursi maupun meja atau apapun yang bisa dipakai untuk menaruh makanan
kami. Melihat keherananku, Reno menjawab…
“ini
warung prasmanan, kita boleh makan dimana aja”
Aku mengangguk tanda mengerti. Setelah makanan datang, kita
langsung melahap makanan itu seperti anak anjing tersesat yang akhirnya
mendapat daging segar.
“tempat
ini memang aneh tapi makanan disini enak” kata si sekretaris.
“kau
benar, tapi dimana bu Hani?” Tanya si tersangka.
“tidak
tau, tadi dia makan disampingku tapi sekarang malah menghilang” jawabku santai.
“aku
merinding boss, jangan-jangan tempat ini angker dan nenek-nenek tadi adalah
hantu kesepian yang akan menculik kita semua” kata si tersangka.
“cerdas
sedikit, mana ada hal seperti itu di dunia ini” jelas Reno.
“hey
kura-kura katro, dunia kita berbeda. Kau dengan tempurung kura-kuramu dan aku
dengan bumiku” jelas si tersangka.
“aku
rasa Tersangka ada benarnya juga” kataku mendukung.
“boss,
kau jangan membuatku takut” kata si sekretaris.
“Ara,
boleh aku bertanya, Kenapa kau selalu memanggilku tersangka?” Tanya si
tersangka.
“dan
boleh aku bertanya, kenapa kau memanggilku Ara?” Tanya Ara.
“that
is your name, right?”
“ and that
is your name too”
“aku
senang Ara memanggilku sekretaris ” sambung si sekretaris.
“tapi
kenapa aku harus jadi tersangka” gumam si tersangka
Saat kami sedang asyik mengobrol, bu Hani datang dari
pinggir warung dan bergabung bersama kami.
“ibu
dari mana?” Tanya Reno
“ternyata
nenek tadi adalah seorang peramal. Tadi ibu dari kamar mandi dan bertemu dengan
nenek itu di belakang, dia menawarkan untuk meramal ibu. Dia bahkan tau ibu
belum menikah”
“siapapun
yang melihat wajah ibu akan mengetahui bahwa ibu belum menikah” kataku
bergumam.
“are you
said something Ara?” Tanya Bu Hani dengan nada yang sedikit ditinggikan.
(artinya dia tidak senang jika ada yang memotong pembicaraannya)
“memangnya
dia bilang apa tentang ibu?” itu Reno yang nanya. Aku sih gak mau denger si
nenek itu bilang apa tentang masa depannya bu Hani, pasti menyeramkan.
“Dia
bilang ibu akan terjebak disebuah lingkaran cinta, tapi ibu tidak terlalu
mengerti yang dia katakan, tapi terakhir dia bilang bahwa sebentar lagi ibu
akan menikah.” Kata bu Hani bahagia.
“semua
peramal memang seperti itu, hanya mengatakan yang ingin didengar oleh orang
yang diramalnya” gumamku lagi.
“ what do
you say ara, I’m not hear that?” kali ini nada suara bu Hani naik jadi 5 oktav
“kita
udah selesai bu makan nya. Bagaimana jika kita menginap dulu semalam disini
lalu besok pagi kita baru mencari mobil tumpangan untuk pergi ke hutan tempat
kita akan berkemah.” Jelas si sekretaris
Semua menyetujui saran dari sekretaris dan kami meminta ijin
kepada nenek pemilih warung untuk tidur semalam diwarungnya dan dengan senang
hati si nenek pemilik warung ini mempersilahkan kami tidur diwarungnya asal
jangan pernah menyetuh patung yang ada dipojok ruangan itu. saat kami Tanya
mengapa, nenek itu hanya menjawab bahwa patung itu sangat kotor dan banyak
debunya. Jika kalian menyentuhnya maka tangan kalian akan kotor. Alasan yang
masuk akal menurutku. Karena kami sangat lelah akhirnya kami terlelap di warung
yang kecil dengan beralaskan tikar pandan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar