Selasa, 21 Mei 2013

Cowok? Get Away From Me!!! (END)


            Tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya, tapi perasaanya terhadap laki-laki selalu biasa saja. Umumnya, kehidupan seorang remaja dipenuhi oleh masalah percintaan, pacaran, patah hati, galau, dan bahagia. Aku Rika. Siswi kelas tiga SMA yang menjalani kehidupan remaja dengan biasa-biasa saja. Tanpa cinta dan tanpa cowo. Teman-teman yang baik dan guru-guru yang gak baik (hehe.. J). Nah, kalau ngomongin masalah cinta, aku memang belum pernah merasakan jatuh cinta. Kalau ngeliat cowo cakep biasa aja. Kalau ngeliat cowo cakep + tajir juga biasa aja, terus kalau ngeliat cowo cakep + tajir + pinter + soleh + rajin menabung, nurut sama orang tua, sayang sama saudara, hormat sama guru, masa depannya cerah, nikahin aja yak. Hahaha….. Ya pokoknya dimataku semua cowo itu biasa aja kecuali yang terakhir. HeheJ Kalau ditanya kenapa aku gak pernah suka sama cowo aku juga gak tau. Mungkin ini karena Allah sayang sama aku jadi Dia jagain aku dari makhluk yang bernama cowo, atau mungkin karena aku gak gampang jatuh cinta, atau aku kena kutukan jadi perawan tua!! atau jangan-jangan aku emang lesbian!! atau ini la’nat dari Allah!! tapi mungkin penyakit keturunan kali yak. Yasudahlah, tidak usah dibahas. Jadi berasa kayak abnormalL. Karena mukjizat atau mungkin keanehanku ini, sempat teman-temanku menjebaku untuk kencan buta dengan seorang cowo. Rencananya aku mau diajak jalan-jalan ke Mall sama temen-temen, Terus kita janjian disebuah restoran. Setelah aku tunggu ternyata mereka gak dateng-dateng. Tiba-tiba saat aku sedang duduk santai sambil menikmati khayalanku, ada seorang cowo yang datang dan duduk pada kursi kosong di depan mejaku.
            “Rika ya” kata cowo itu.
Reflek aku kaget dong tiba-tiba ada cowo hentah dari dunia fauna mana tau namaku. dengan tampang lugu dan dipolos-polosin kayak anak TK, akupun menjawab bahwa aku bukan Rika dan dia salah orang. Emang dasar cowo gila, udah aku jawab kayak gitu tetep aja dia ngotot kalau aku ini Rika.
            “ bener kok kamu Rika. Ini foto kamu kan?” dia mengeluarkan selembar foto dari saku celananya. Setelah kuperhatikan ternyata itu benar fotoku yang lagi nyengir kuda berbackground wc.

PLLAAAKK…..kayak ditampar malaikat mungkar yang nanya manrabbuka tapi aku gak bisa jawab. Darimana ini cowo dapet fotoku? Setelah berfikir jernih akupun menyadari kalau ini adalah ulah temen-temenku yang punya masalah kejiwaan. Berani-beraninya mereka perlakukanku seperti ini (sambil gaya nangis sok imut kayak disinetron). Awas kalian semua…..liat besok disekolah. Sebelum itu, kita tuntaskan dulu urusan kita dengan cumi-cumi jepang ini. Dengan kata-kata yang halus aku bilang kalau dia salah orang dan itu bukan fotoku lalu aku permisi dan pergi meninggalkannya yang tampak kebingungan. Yah daripada diladeninkan makin ribet urusannya. Ngomog-ngomong soal temen-temenku, Yah opname tiga harilah, menghabisakan dua tabung oksigen dan dua liter darah. (Kejam!!J).
***
            Hari ini adalah pelajaran matematika. Semua anak mengikuti pelajaran dengan khitmat. Lalu, ditengah-tengah pelajaran suatu keajaiban terjadi, atau mungkin musibah, atau malapetaka, kiamat lebih tepatnya. Spiker kelas yang menyambung pada ruang Informasi sekolah menyala. Seseorang darisanapun mulai berbicara. Pelajaran terhenti sejenak dan kami fokus mendengarkan yang akan dibicarakan orang tersebut.
            “ Assalamu’alaikumwr.wb” salam pembuka yang sudah biasa diucapkan sebelum menyampaikan muqodimah. Ternyata seorang murid cowo yang bicara diseberang sana. Mari kita dengarkan apa yang akan disampaikannya kepada kita.
“ mohon maaf sebelumnya kepada guru yang sedang mengajar karena ada hal penting yang harus saya sampaikan. “ kalimat basa-basi. Budaya Indonesia.
“mohon perhatiannya kepada seluruh siswa dan siswi, Maaf sebelumnya atas kelancangan saya ini Tapi saya benar-benar harus menyampaikan ini sekarang juga. Mohon kepada ibu bapak guru yang sedang melihat saya dari belakang jika saya sedang berbicara nanti jangan ada yang disensor dan dipotong, terimakasih. Dan satu lagi, untuk pak Gudi yang biasa menjadi informator, goloknya jangan diangkat-angkat dulu pak Saya jadi grogi.” Semua murid tertawa mendengar pembukaan yang aneh itu. Tak terkecuali aku yang cengar-cengir dari tadi dengerin cowo yang disana itu.
“saya memberitahukan kepada seluruh siswa di SMA ini dan seluruh Guru, Kepala sekolah, Tata Usaha dan jajarannya, bahwa saya Ridwan Kusumadhani telah jatuh cinta kepada seorang wanita yang sangat cantik seperti bidadari dengan matanya yang indah dan senyumnya yang menawan.”
Seketika kelas menjadi ramai. Orang gila dari mana yang nyolong mikrofon sekolah??
“ saya jatuh cinta pada pandangan pertama yaitu saat pertama kali saya melihatnya tersenyum, Itu adalah senyum yang paling manis yang pernah saya lihat”. Kayaknya ini cowo mau nembak cewe lewat mikrofon sekolah deh. Hahaha….lebay sekali, lebih parah dari drama korea. Sorak murd-murid semakin kencang. Akupun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku tidak dapat membayangkan nasib cewe yang lagi dia bicarakan. Pasti cewe itu akan malu sekali dan langsung pindah sekolah, pindah rumah, bikin visa dan paspor, ganti nama, ganti gendre, dan hidup bahagia selamanya. Aku jadi tak sabar ingin mengetahui siapakah cewe yang ditaksir sama cowo itu.
            “Nama wanita itu adalah Rika Okadiana kelas 3ipa 5”
Semua anak-anak terdiam, bahkan aku juga. Bumi tiba-tiba berguncang, Semua makhluk hidup menjadi linglung seperti anai-anai yang bertebaran diangkasa. Tulang belulang yang terkubur didalam tanah berabad-abadpun bangkit dengan bermacam rupa. Ya, kiamat telah tiba. Aku tak dapat menerima kenyataan pahit seperti ini. Ternyata cewe yang sial itu adalah aku. AAKUU!!! Tiba-tiba suasana kelas menjadi ramai. Semua saling sorak-menyorak, Semua saling timpal menimpal mengejeku. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku bahwa aku akan dipermalukan seperti ini. Norak banget. Memalukan. Ya Allah….. cabutlah nyawaku sekarang……. Aku langsung menyembunyikan mukaku dibalik kedua tanganku.
            “ Rika, aku harap kau mendengarkanku sekarang.” Lanjut cowo itu masih di spiker. Yaiyalah aku denger. Bahkan seluruh  anak lagi ngedengerin sekarang.
            “ Rika, maukah kau menjadi pendampingku? Permaisuri hidupku? Bidadariku? Aku harap kau mau. Kita memang belum pernah kenal, tapi masih banyak waktu bagi kita untuk dapat saling mengenal satu sama lainnya. Aku akan menunggu jawabanmu pulang sekolah nanti. Terimakasih atas perhatiannya. Dan terima kasih kepada pak Gudi yang telah mengizinkan saya untuk berbicara disini. Wassalamu’alaikum wr wb”
            Tak heran sekarang sekolah menjadi ramai. Semua orang membicarakan tentang orang gila itu dan aku. AKKUUU!! Aku juga jadi kena batunya gara-gara simaniak prontal itu. Siiiaaalllll. Bahkan sekarang semua orangpun menunggu saat pulang sekolah. Semua ingin mengetahui kelanjutan kisah cinta dan malapetaka ini.  Hari ini benar-benar hari yang sangat aneh, hal yang paling aku takuti didunia ini setelah Allah dan Ibuku adalah Cowo, apalagi cowo yang punya penyakit kejiwaan kayak gitu. Ya Allah, segitu banyakah dosa yang telah hamba buat sehingga Engkau menghukum hamba seperti ini?
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Ini tandanya malapetaka akan segera dimulai. Aku sungguh tak berani keluar dari kelasku. Aku binggung, apa yang harus aku lakukan. Semua anak ternyata telah bergerombol didepan kelas untuk melihat aku dan si prontal maniak yang sudah menghancurkan masa depanku itu. Aku harus tenang. Aku tidak boleh menyerahan harga diriku ini hanya untuk orang yang tak kukenal itu. Memang Allah maha baik. Tiba-tiba aku terfikir untuk kabur keluar lewat jendela, lalu keliling menelusuru pinggir sekolah dan bebas dengan selamat. Saat tak ada seorangpun dikelas, aku langsung memanjat jendela dan berlari sekencang-kencangnya menuju kebebasan. Hampir sampai, sedikit lagi, dan….
            “AAAAaaaaaa”  aku hampir saja menabrak seseorang. “maaf”
            “Rika, ternyata benar kau akan kabur lewat sini” kata cowo itu setelah menatapku lama.
            “siapa kamu?” tanyaku
            “aku Ridwan yang tadi berbicara di spiker sekolah” jawabnya santai.
Ternyata dia orang yang telah merampas masa depanku yang gemerlap. Dasar prontal makiak. Dia ternyata sudah menungguku dipinggir sekolah. Sepertinya dia sudah merencanakannya dengan matang. Dia tau bahwa aku akan kabur lewat sini jadi dia tidak menunggu didepan kelasku.
 “tapi tidak apa-apa. Tempat ini bagus dan romantis serta tak ada satupun orang yang akan menggangu kita berdua.” Katanya kemudian.
            “Apa mau kamu?” tanyaku marah “puas kamu bikin gua malu? Kalau mau bikin sensasi terjun aja dari atap sekolah.”
            “maaf. Aku bukan mau mencari sensasi, aku hanya seorang remaja yang sedang jatuh cinta tapi aku tak berani mangatakannya langsung dihadapanmu, jadi aku memakai cara yang romantis seperti itu biar semua orang tau akan cintaku. Jadi apa jawabanmu?”
            “romantis kau bilang? jangan tampakin muka kamu dihadapan aku lagi. Jijik aku ngeliat kamu”
Aku langsung pergi meninggalkannya. Sebenarnya aku tak ingin menyakiti hatinya dengan ucapanku yang kasar seperti tadi, tapi ini juga demi kebaikannya dan yang terpenting untuk kebaikanku juga. Hari ini diselesaikan dengan indah.
***
            Keesokan paginya disekolah, aku menemukan setangkai bunga mawar merah dia atas meja belajarku dengan secarik kertas yang bertuliskan bahwa bunga itu untukku dari seseorang yang selalu mencintaiku. Aku kaget, Ternyata dia belum menyerah. Aku jadi semakin takut dengannya. Sebaiknya aku buang saja bunga ini, dari pada aku terima nanti dia senang lagi. Setelah kubuang bunga itu, aku langsung masuk kekelasku kembali. Ridwan melihatku membuang bunga pemberiannya ke tong sampah. Walaupun hatinya hancur, tapi dia masih tetap bertekad untuk terus mendapatkan pengakuanku setidaknya. Hari-hariku pun terlewati dengan setangkai bunga mawar yang setiap pagi ada di atas mejaku, Surat-surat cinta, bertubi-tubi salam, makan siang, dan masih banyak lagi. Tapi semuanya aku buang ke tempat sampah kecuali makanan. (hehe..kan mubazir kalau dibuangJ).
            Pada suatu pagi, aku heran karena tak menemukan setangkai bunga di atas mejaku seperti biasanya, kupikir Ridwan sudah capek dengan ketidak pedulianku itu. Rada nyesel juga karena gak ada lagi yang ngasih puisi dan bunga. Kuakui surat-surat yang dia buat itu bagus-bagus dan bunga yang dia bawakan itu cantik-cantik. Aku tidak sungguh-sungguh mambuangnya, aku tau kalau dia memperhatikanku dari jauh saat aku membuang barang pemberiannya. Tak ada maksud lain, aku hanya tak ingin di mendekat padaku. Biarlah aku jelek dimatanya. Walaupun akhirnya, saat pulang sekolah kupungut lagi bunga dan puisi dari tempat sampah dan kusimpan dengan rapi dikamarku. Teman, seberapapun tidak  sukanya kita dengan orang, kita tetap harus menghargai barang pemberiannya yang tulus kepada kita.
            Sudah beberapa hari ini tidak ada surat cinta maupun setangkai bungapun dari cowo yang bernama Ridwan itu. Hariku kini mulai terasa normal. Murid-murid juga sudah melupakan tragedi spiker cinta itu. Tapi ternyata saat kupikir dunia sudah aman diatas atap sebuah kelas ternyata ada seorang murid yang sedang berdiri mematung, dibawahnya murid-murid dan guru-guru bergerombol membujuknya turun. Setelah kuperhatikan ternyata itu adalah Ridwan, siprontal maniak itu. Sedang apa dia diatas sana? Apakah dia mau bunuh diri gara-gara dia kuabaikan? Oh tidaaakkk….dosa besarlah aku nanti. Saat ridwan melihatku memperhatikannya dari bawah, dia mulai berbicara.
            “Rika, taukah kau cintaku tulus padamu? Taukah kau pengorbanan yang telah kulakukan untuk mengejarmu sampai kesini? Aku rela pindah sekolah demi untuk melihatmu setiap hari, Aku rela pindah dari sekolahku yang lama hanya untuk melihat senyummu Rika. Tak ingatkah kau siapa aku ini? Aku adalah laki-laki yang dulu akan kencan buta denganmu disebuah restoran yang ternyata itu adalah ulah teman-temanmu, Dari situ pertama kalinya aku melihat senyum manismu itu dan aku mulai jatuh cinta padamu dan mencari informasi dari teman-temanmu dan akhirnya disinilah aku. Setelah aku disini ternyata kau tak melihatku sama sekali, kau bahkan benci padaku. Aku pikir sebaiknya aku mati saja jika kau tidak memperdulikanku. Semua barang dariku kau buang dan sedikit-demi sedikit kau telah menolak kehadiranku. Lebih baik aku mati saja sekarang.” Gilla!! dia cowo yang waktu itu mau dicomblangin sama aku? Pantesan kayak pernah liat. Sampai rela pindah sekolah segala? Bener-bener sakit jiwa. Ridwan mulai menangis. Pertama kalinya kau melihat laki-laki menangis. Dia sangat melankolis sekali, aku jadi tak tega melihatnya.
            “Ridwan” mukanya sedikit berbinar-binar saat kusebut namanya diakhir hidupnya. “agamamu apa? Islam bukan? Taukahkau bahwa bunuh diri itu dosa besar? Taukahkau akan kemana saat kau mati nanti? Neraka. Aku tau cintamu tulus padaku, aku tau karena dengan semua perhatian yang telah kau berikan padaku, aku tidak membencimu sama sekali, aku takut jatuh cinta padamu mangkanya kau menjaga jarak darimu. Aku takut dosa. Kita masih muda, hidup kita masih panjang. Aku tak ingin hidupku terbuang sia-sia Cuma buat cowo, tolong hargai prinsip hidupku. Aku sangat menghargai setiap jerih payahmu ridwan. Semua barang kau kau berikan padaku tersimpan rapi didalam kamarku, percayalah padaku dan turun sekarang juga. Jika memang suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bersama, Allah akan mempertemukan kita pada waktu den tempat yang lebih indah dari sekarang. Ridwan, dulu aku takut dengan semua cowo, tapi saat aku mengenalmu, semua persepsiku tentang cowopun berubah. Kau cowo yang baik hati dan aku tidak mau kehilangan cowo sebaik dirimu Ridwan. Aku ingin mengenalmu dan menjadi teman, maukah kau turun dan menjadi temanku?”
Ridwanpun akhirnya turun dari atas atap. Semua murid dan guru berteriak dan bertepuk tangan bahkan ada yang menangis karena terharu. Aku malah tak menyangka bisa mengatakan hal sebijak itu pada situasi seekstrim ini. Tidak setiap hari dapat menonton adengan sinetron kehidupan seperti sekarang yang pemeran utamanya adalah aku sendiri. Sungguh permainan yang indah wahai Allah, kau telah banyak mengubahku kali ini. Kini aku sudah tidak takut lagi dengan cowo. Setiap hari aku selalu bercanda dan tertawa dengan teman baruku, Ridwan. Sekian ceritaku.
JJJ




BIOGRAFI
Nama               : Qonita Tanjung
Alamat                        : Jln Raya Cikopo 06/03 Bungursari, Purwakarta
Sekolah           : SMAN 1 CIKAMPEK
Nama Pena      : Qonita
No Hp             : 085810649776










Tidak ada komentar:

Posting Komentar