Tidak
tau apa yang terjadi dengan dirinya, tapi perasaanya terhadap laki-laki selalu
biasa saja. Umumnya, kehidupan seorang remaja dipenuhi oleh masalah percintaan,
pacaran, patah hati, galau, dan bahagia. Aku Rika. Siswi kelas tiga SMA yang menjalani
kehidupan remaja dengan biasa-biasa saja. Tanpa cinta dan tanpa cowo.
Teman-teman yang baik dan guru-guru yang gak baik (hehe.. J). Nah, kalau ngomongin masalah cinta, aku memang
belum pernah merasakan jatuh cinta. Kalau ngeliat cowo cakep biasa aja. Kalau
ngeliat cowo cakep + tajir juga biasa aja, terus kalau ngeliat cowo cakep +
tajir + pinter + soleh + rajin menabung, nurut sama orang tua, sayang sama
saudara, hormat sama guru, masa depannya cerah, nikahin aja yak. Hahaha….. Ya pokoknya
dimataku semua cowo itu biasa aja kecuali yang terakhir. HeheJ Kalau ditanya kenapa aku gak pernah suka sama cowo
aku juga gak tau. Mungkin ini karena Allah sayang sama aku jadi Dia jagain aku
dari makhluk yang bernama cowo, atau mungkin karena aku gak gampang jatuh
cinta, atau aku kena kutukan jadi perawan tua!! atau jangan-jangan aku emang
lesbian!! atau ini la’nat dari Allah!! tapi mungkin penyakit keturunan kali
yak. Yasudahlah, tidak usah dibahas. Jadi berasa kayak abnormalL. Karena mukjizat atau mungkin keanehanku ini, sempat
teman-temanku menjebaku untuk kencan buta dengan seorang cowo. Rencananya aku
mau diajak jalan-jalan ke Mall sama temen-temen, Terus kita janjian disebuah
restoran. Setelah aku tunggu ternyata mereka gak dateng-dateng. Tiba-tiba saat
aku sedang duduk santai sambil menikmati khayalanku, ada seorang cowo yang
datang dan duduk pada kursi kosong di depan mejaku.
“Rika
ya” kata cowo itu.
Reflek aku kaget dong tiba-tiba ada cowo hentah dari
dunia fauna mana tau namaku. dengan tampang lugu dan dipolos-polosin kayak anak
TK, akupun menjawab bahwa aku bukan Rika dan dia salah orang. Emang dasar cowo
gila, udah aku jawab kayak gitu tetep aja dia ngotot kalau aku ini Rika.
“
bener kok kamu Rika. Ini foto kamu kan?” dia mengeluarkan selembar foto dari
saku celananya. Setelah kuperhatikan ternyata itu benar fotoku yang lagi
nyengir kuda berbackground wc.
PLLAAAKK…..kayak ditampar malaikat mungkar yang nanya
manrabbuka tapi aku gak bisa jawab. Darimana ini cowo dapet fotoku? Setelah berfikir
jernih akupun menyadari kalau ini adalah ulah temen-temenku yang punya masalah
kejiwaan. Berani-beraninya mereka perlakukanku seperti ini (sambil gaya nangis
sok imut kayak disinetron). Awas kalian semua…..liat besok disekolah. Sebelum
itu, kita tuntaskan dulu urusan kita dengan cumi-cumi jepang ini. Dengan
kata-kata yang halus aku bilang kalau dia salah orang dan itu bukan fotoku lalu
aku permisi dan pergi meninggalkannya yang tampak kebingungan. Yah daripada
diladeninkan makin ribet urusannya. Ngomog-ngomong soal temen-temenku, Yah
opname tiga harilah, menghabisakan dua tabung oksigen dan dua liter darah.
(Kejam!!J).
***
Hari
ini adalah pelajaran matematika. Semua anak mengikuti pelajaran dengan khitmat.
Lalu, ditengah-tengah pelajaran suatu keajaiban terjadi, atau mungkin musibah,
atau malapetaka, kiamat lebih tepatnya. Spiker kelas yang menyambung pada ruang
Informasi sekolah menyala. Seseorang darisanapun mulai berbicara. Pelajaran
terhenti sejenak dan kami fokus mendengarkan yang akan dibicarakan orang
tersebut.
“
Assalamu’alaikumwr.wb” salam pembuka yang sudah biasa diucapkan sebelum menyampaikan
muqodimah. Ternyata seorang murid cowo yang bicara diseberang sana. Mari kita
dengarkan apa yang akan disampaikannya kepada kita.
“ mohon maaf sebelumnya kepada guru yang sedang
mengajar karena ada hal penting yang harus saya sampaikan. “ kalimat basa-basi.
Budaya Indonesia.
“mohon perhatiannya kepada seluruh siswa dan siswi,
Maaf sebelumnya atas kelancangan saya ini Tapi saya benar-benar harus
menyampaikan ini sekarang juga. Mohon kepada ibu bapak guru yang sedang melihat
saya dari belakang jika saya sedang berbicara nanti jangan ada yang disensor
dan dipotong, terimakasih. Dan satu lagi, untuk pak Gudi yang biasa menjadi
informator, goloknya jangan diangkat-angkat dulu pak Saya jadi grogi.” Semua
murid tertawa mendengar pembukaan yang aneh itu. Tak terkecuali aku yang
cengar-cengir dari tadi dengerin cowo yang disana itu.
“saya memberitahukan kepada seluruh siswa di SMA ini
dan seluruh Guru, Kepala sekolah, Tata Usaha dan jajarannya, bahwa saya Ridwan
Kusumadhani telah jatuh cinta kepada seorang wanita yang sangat cantik seperti
bidadari dengan matanya yang indah dan senyumnya yang menawan.”
Seketika kelas menjadi ramai. Orang gila dari mana
yang nyolong mikrofon sekolah??
“ saya jatuh cinta pada pandangan pertama yaitu saat
pertama kali saya melihatnya tersenyum, Itu adalah senyum yang paling manis
yang pernah saya lihat”. Kayaknya ini cowo mau nembak cewe lewat mikrofon
sekolah deh. Hahaha….lebay sekali, lebih parah dari drama korea. Sorak murd-murid
semakin kencang. Akupun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku tidak dapat
membayangkan nasib cewe yang lagi dia bicarakan. Pasti cewe itu akan malu
sekali dan langsung pindah sekolah, pindah rumah, bikin visa dan paspor, ganti
nama, ganti gendre, dan hidup bahagia selamanya. Aku jadi tak sabar ingin
mengetahui siapakah cewe yang ditaksir sama cowo itu.
“Nama
wanita itu adalah Rika Okadiana kelas 3ipa 5”
Semua anak-anak terdiam, bahkan aku juga. Bumi
tiba-tiba berguncang, Semua makhluk hidup menjadi linglung seperti anai-anai
yang bertebaran diangkasa. Tulang belulang yang terkubur didalam tanah
berabad-abadpun bangkit dengan bermacam rupa. Ya, kiamat telah tiba. Aku tak
dapat menerima kenyataan pahit seperti ini. Ternyata cewe yang sial itu adalah
aku. AAKUU!!! Tiba-tiba suasana kelas menjadi ramai. Semua saling sorak-menyorak,
Semua saling timpal menimpal mengejeku. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku
bahwa aku akan dipermalukan seperti ini. Norak banget. Memalukan. Ya Allah…..
cabutlah nyawaku sekarang……. Aku langsung menyembunyikan mukaku dibalik kedua
tanganku.
“
Rika, aku harap kau mendengarkanku sekarang.” Lanjut cowo itu masih di spiker.
Yaiyalah aku denger. Bahkan seluruh anak
lagi ngedengerin sekarang.
“
Rika, maukah kau menjadi pendampingku? Permaisuri hidupku? Bidadariku? Aku
harap kau mau. Kita memang belum pernah kenal, tapi masih banyak waktu bagi
kita untuk dapat saling mengenal satu sama lainnya. Aku akan menunggu jawabanmu
pulang sekolah nanti. Terimakasih atas perhatiannya. Dan terima kasih kepada
pak Gudi yang telah mengizinkan saya untuk berbicara disini. Wassalamu’alaikum
wr wb”
Tak
heran sekarang sekolah menjadi ramai. Semua orang membicarakan tentang orang gila
itu dan aku. AKKUUU!! Aku juga jadi kena batunya gara-gara simaniak prontal
itu. Siiiaaalllll. Bahkan sekarang semua orangpun menunggu saat pulang sekolah.
Semua ingin mengetahui kelanjutan kisah cinta dan malapetaka ini. Hari ini benar-benar hari yang sangat aneh, hal
yang paling aku takuti didunia ini setelah Allah dan Ibuku adalah Cowo, apalagi
cowo yang punya penyakit kejiwaan kayak gitu. Ya Allah, segitu banyakah dosa
yang telah hamba buat sehingga Engkau menghukum hamba seperti ini?
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Ini tandanya
malapetaka akan segera dimulai. Aku sungguh tak berani keluar dari kelasku. Aku
binggung, apa yang harus aku lakukan. Semua anak ternyata telah bergerombol
didepan kelas untuk melihat aku dan si prontal maniak yang sudah menghancurkan
masa depanku itu. Aku harus tenang. Aku tidak boleh menyerahan harga diriku ini
hanya untuk orang yang tak kukenal itu. Memang Allah maha baik. Tiba-tiba aku
terfikir untuk kabur keluar lewat jendela, lalu keliling menelusuru pinggir
sekolah dan bebas dengan selamat. Saat tak ada seorangpun dikelas, aku langsung
memanjat jendela dan berlari sekencang-kencangnya menuju kebebasan. Hampir
sampai, sedikit lagi, dan….
“AAAAaaaaaa”
aku hampir saja menabrak seseorang.
“maaf”
“Rika,
ternyata benar kau akan kabur lewat sini” kata cowo itu setelah menatapku lama.
“siapa
kamu?” tanyaku
“aku
Ridwan yang tadi berbicara di spiker sekolah” jawabnya santai.
Ternyata dia orang yang telah merampas masa depanku
yang gemerlap. Dasar prontal makiak. Dia ternyata sudah menungguku dipinggir
sekolah. Sepertinya dia sudah merencanakannya dengan matang. Dia tau bahwa aku
akan kabur lewat sini jadi dia tidak menunggu didepan kelasku.
“tapi tidak
apa-apa. Tempat ini bagus dan romantis serta tak ada satupun orang yang akan
menggangu kita berdua.” Katanya kemudian.
“Apa
mau kamu?” tanyaku marah “puas kamu bikin gua malu? Kalau mau bikin sensasi
terjun aja dari atap sekolah.”
“maaf.
Aku bukan mau mencari sensasi, aku hanya seorang remaja yang sedang jatuh cinta
tapi aku tak berani mangatakannya langsung dihadapanmu, jadi aku memakai cara
yang romantis seperti itu biar semua orang tau akan cintaku. Jadi apa jawabanmu?”
“romantis
kau bilang? jangan tampakin muka kamu dihadapan aku lagi. Jijik aku ngeliat
kamu”
Aku langsung pergi meninggalkannya. Sebenarnya aku tak
ingin menyakiti hatinya dengan ucapanku yang kasar seperti tadi, tapi ini juga
demi kebaikannya dan yang terpenting untuk kebaikanku juga. Hari ini
diselesaikan dengan indah.
***
Keesokan
paginya disekolah, aku menemukan setangkai bunga mawar merah dia atas meja
belajarku dengan secarik kertas yang bertuliskan bahwa bunga itu untukku dari
seseorang yang selalu mencintaiku. Aku kaget, Ternyata dia belum menyerah. Aku
jadi semakin takut dengannya. Sebaiknya aku buang saja bunga ini, dari pada aku
terima nanti dia senang lagi. Setelah kubuang bunga itu, aku langsung masuk
kekelasku kembali. Ridwan melihatku membuang bunga pemberiannya ke tong sampah.
Walaupun hatinya hancur, tapi dia masih tetap bertekad untuk terus mendapatkan
pengakuanku setidaknya. Hari-hariku pun terlewati dengan setangkai bunga mawar
yang setiap pagi ada di atas mejaku, Surat-surat cinta, bertubi-tubi salam,
makan siang, dan masih banyak lagi. Tapi semuanya aku buang ke tempat sampah
kecuali makanan. (hehe..kan mubazir kalau dibuangJ).
Pada
suatu pagi, aku heran karena tak menemukan setangkai bunga di atas mejaku
seperti biasanya, kupikir Ridwan sudah capek dengan ketidak pedulianku itu.
Rada nyesel juga karena gak ada lagi yang ngasih puisi dan bunga. Kuakui
surat-surat yang dia buat itu bagus-bagus dan bunga yang dia bawakan itu
cantik-cantik. Aku tidak sungguh-sungguh mambuangnya, aku tau kalau dia
memperhatikanku dari jauh saat aku membuang barang pemberiannya. Tak ada maksud
lain, aku hanya tak ingin di mendekat padaku. Biarlah aku jelek dimatanya.
Walaupun akhirnya, saat pulang sekolah kupungut lagi bunga dan puisi dari
tempat sampah dan kusimpan dengan rapi dikamarku. Teman, seberapapun tidak sukanya kita dengan orang, kita tetap harus
menghargai barang pemberiannya yang tulus kepada kita.
Sudah
beberapa hari ini tidak ada surat cinta maupun setangkai bungapun dari cowo
yang bernama Ridwan itu. Hariku kini mulai terasa normal. Murid-murid juga
sudah melupakan tragedi spiker cinta itu. Tapi ternyata saat kupikir dunia sudah
aman diatas atap sebuah kelas ternyata ada seorang murid yang sedang berdiri
mematung, dibawahnya murid-murid dan guru-guru bergerombol membujuknya turun.
Setelah kuperhatikan ternyata itu adalah Ridwan, siprontal maniak itu. Sedang
apa dia diatas sana? Apakah dia mau bunuh diri gara-gara dia kuabaikan? Oh
tidaaakkk….dosa besarlah aku nanti. Saat ridwan melihatku memperhatikannya dari
bawah, dia mulai berbicara.
“Rika,
taukah kau cintaku tulus padamu? Taukah kau pengorbanan yang telah kulakukan
untuk mengejarmu sampai kesini? Aku rela pindah sekolah demi untuk melihatmu
setiap hari, Aku rela pindah dari sekolahku yang lama hanya untuk melihat
senyummu Rika. Tak ingatkah kau siapa aku ini? Aku adalah laki-laki yang dulu
akan kencan buta denganmu disebuah restoran yang ternyata itu adalah ulah
teman-temanmu, Dari situ pertama kalinya aku melihat senyum manismu itu dan aku
mulai jatuh cinta padamu dan mencari informasi dari teman-temanmu dan akhirnya
disinilah aku. Setelah aku disini ternyata kau tak melihatku sama sekali, kau
bahkan benci padaku. Aku pikir sebaiknya aku mati saja jika kau tidak
memperdulikanku. Semua barang dariku kau buang dan sedikit-demi sedikit kau
telah menolak kehadiranku. Lebih baik aku mati saja sekarang.” Gilla!! dia cowo
yang waktu itu mau dicomblangin sama aku? Pantesan kayak pernah liat. Sampai
rela pindah sekolah segala? Bener-bener sakit jiwa. Ridwan mulai menangis.
Pertama kalinya kau melihat laki-laki menangis. Dia sangat melankolis sekali,
aku jadi tak tega melihatnya.
“Ridwan”
mukanya sedikit berbinar-binar saat kusebut namanya diakhir hidupnya. “agamamu
apa? Islam bukan? Taukahkau bahwa bunuh diri itu dosa besar? Taukahkau akan
kemana saat kau mati nanti? Neraka. Aku tau cintamu tulus padaku, aku tau karena
dengan semua perhatian yang telah kau berikan padaku, aku tidak membencimu sama
sekali, aku takut jatuh cinta padamu mangkanya kau menjaga jarak darimu. Aku
takut dosa. Kita masih muda, hidup kita masih panjang. Aku tak ingin hidupku
terbuang sia-sia Cuma buat cowo, tolong hargai prinsip hidupku. Aku sangat
menghargai setiap jerih payahmu ridwan. Semua barang kau kau berikan padaku
tersimpan rapi didalam kamarku, percayalah padaku dan turun sekarang juga. Jika
memang suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk bersama, Allah akan
mempertemukan kita pada waktu den tempat yang lebih indah dari sekarang.
Ridwan, dulu aku takut dengan semua cowo, tapi saat aku mengenalmu, semua
persepsiku tentang cowopun berubah. Kau cowo yang baik hati dan aku tidak mau
kehilangan cowo sebaik dirimu Ridwan. Aku ingin mengenalmu dan menjadi teman,
maukah kau turun dan menjadi temanku?”
Ridwanpun akhirnya turun dari atas atap. Semua murid
dan guru berteriak dan bertepuk tangan bahkan ada yang menangis karena terharu.
Aku malah tak menyangka bisa mengatakan hal sebijak itu pada situasi seekstrim
ini. Tidak setiap hari dapat menonton adengan sinetron kehidupan seperti
sekarang yang pemeran utamanya adalah aku sendiri. Sungguh permainan yang indah
wahai Allah, kau telah banyak mengubahku kali ini. Kini aku sudah tidak takut
lagi dengan cowo. Setiap hari aku selalu bercanda dan tertawa dengan teman
baruku, Ridwan. Sekian ceritaku.
JJJ
BIOGRAFI
Nama :
Qonita Tanjung
Alamat :
Jln Raya Cikopo 06/03 Bungursari, Purwakarta
Sekolah :
SMAN 1 CIKAMPEK
Nama Pena :
Qonita
No Hp :
085810649776
Tidak ada komentar:
Posting Komentar