Ini adalah yang
pertama bagiku. Merasakan kesedihan karena sebuah kesedihan yang tak
terekspresikan dan hanya terpendam dalam dari seseorang…..
Saat aku kecil, aku mempunyai
seorang teman bermain yang sangat baik. Dia sangat periang dan cantik bagaikan
seorang putri. Senyuman nya membuat siapapun ingin tersenyum bagaimanapun
suasana hati saat itu. Suaranya sangat dirindukan, suaranya yang lucu dan
menggemaskan. Tingkah lucunya membuat siapapun yang melihatnya ingin tertawa.
Jika kau bersama dengan nya, sepanjang haripun terasa seperti satu menit karena
saat kau berada didekatnya, kau akan masuk kedalam duanianya yang penuh dengan
warna dan menghabiskan setiap detik dengan kebahagiaan yang dipancarkan dari
dalam dirinya.
Teman kecilku itu bernama Putri. Dia
adalah satu-satunya teman yang dapat merubah kepribadianku saat itu. Aku bukan
anak yang nakal dan pemalas saat aku kecil dulu, aku cukup taat kepada perintah
kedua orang tuaku dan tidak pernah membuat mereka marah. Tapi mereka tetap saja
merasa cemas padaku karena
saat kecil aku adalah tipe anak yang sangat pendiam. Saat di TK, aku lebih memilih membaca buku cerita dari pada bermain bola bersama teman-temanku yang lain, dan aku lebih baik tidur siang dari pada menjelajahi seluruh komplek dengan sepeda bersama teman-teman yang satu komplek dengan ku.
saat kecil aku adalah tipe anak yang sangat pendiam. Saat di TK, aku lebih memilih membaca buku cerita dari pada bermain bola bersama teman-temanku yang lain, dan aku lebih baik tidur siang dari pada menjelajahi seluruh komplek dengan sepeda bersama teman-teman yang satu komplek dengan ku.
Sampai
suatu hari orangtuaku mengundang teman lamanya kerumah karena sebuah acara,
kebetulan teman nya ini baru saja pindah kedekat rumahku dan mereka memiliki
seorang anak perempuan yang satu tahun
lebih tua diatasku. Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Putri.
Egi Lastapratama
Kejadian itu sudah berlalu dua belas
tahun lalu. Aku hanya mengenal Putri selama 2 tahun karena setelah itu
keluarganya pindah rumah lagi karena suatu hal. Sejak saat itu aku tidak pernah
mendengar kabarnya lagi. Aku terus merengek kepada mamahku untuk bertanya
kepada orang tua nya dimana Putri berada sekarang, tapi mamahku selalu menjawab
dengan berbagai alasan. Semakin aku beranjak dewasa, aku mulai melupakan nya,
tidak pernah mengingat tentangnya lagi, dan dia begitu saja menghilang dari
ingatanku.
Sampai
suatu hari….
Saat itu aku sedang disekolah,
bercanda dengan teman-temanku dikantin belakang sekolah saat jam istirahat,
sampai tiba-tiba Handphone ku bergetar dengan tulisan “Mamah” berkedap-kedip di
layarnya.
“Assalamu’alaikum, mah ada apa?”
tanyaku spontan. Tak biasanya mamahku menelepon saat aku sedang disekolah, ini
pasti sesuatu yang penting. Aku langsung menjauh dari tempatku dan teman-temanku
yang masih sangat rebut membicarakan para guru.
“Wa’alaikum sallam, Egi, setelah
pulang sekolah jangan main kemana-mana yah, kamu langsung pulang. Akan ada tamu
special yang datang kerumah kita” kata mamah.
“Siapa mah?” tanyaku antusias.
“Nanti juga kamu tau, pokonya dia
itu orang yang kamu kenal banget deh. Udah lama banget kamu gak ketemu dia. Oia
pulang sekolah kamu mampir dulu ketoko coklat yah, belikan coklat yang sangat
lezat untuk tamu kita nanti.”
Sejenak aku berfikir, dia adalah
seseorang yang kukenal dan sudah lama tidak berjumpa? Temanku waktu SMP kah,
atau waktu SD kah? Dan coklat, aku rasa aku tidak punya teman yang suka makan
coklat, tapi…..
“Egi….Egi….kamu masih disitu nak?”
Suara
mamah tiba-tiba menyadarkan lamunanku.
“PUTRI….” Teriaku spontan. “Apa
Putri yang mau datang kerumah kita mah?” saat Putri masih kecil, dia sangat
menyukai coklat.
“Mmmm… Pokoknya nanti juga kamu tau.
Inget pesen mamah yah.
Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum sallam…”
Putri
akan datang kerumahku. Aku sangat yakin kalau tamu yang mamah maksud adalah
Putri. Setelah 12 tahun tidak bertemu, seperti apakah keadaan nya sekarang?
Kenapa tiba-tiba dia datang kesini? Apa dia akan melanjutkan kuliahnya disini?
(saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMA, karena dia lebih tua satu tahun
dariku sekarang seharusnya dia akan berkuliah). Aku sungguh tidak sabar
menunggu pelajaran berakhir yang kira-kira masih 3 jam lagi. Oh Putri akhirnya,
setelah sekian lama tak mendengar kabarmu, akhirnya kau kembali juga padaku.
***
Setelah melewati dua mata pelajaran
yang tidak kusimak sama sekali karena tentu saja pikiranku tidak dapat lepas
dari bayangan Putri kecil yang sangat periang dan baik hati. Seperti apakah dia
disaat umurnya 18 tahun ini? Makin cantikah dia? Atau tambah lucukah dia?
Aku mengendarai motorku dengan
kecepatan ekstrim sehingga perjalanan yang ditempuh dalam waktu 30 menit dapat
ku tempuh dalam waktu hanya 10 menit dan itu sudah termasuk dengan aku mampir
ke toko kue untuk membeli coklat. Jika mamah tau yang kulakukan ini, saat itu
juga dia akan terkena serangan jantung karena anak laki-laki satu-satunya yang
tampan dan cerdas ini telah mempertaruhkan masa depan nya yang cemerlang.
Sekarang aku sedang berdiri di depan
pintu rumahku. Sebelum aku masuk, aku masih dapat membayangkan dikepalaku ada
seorang Putri kecil yang selalu menggodaku, Egi kecil yang pendiam, lalu
tiba-tiba dia berubah menjadi gadis yang cantik dengan rambut yang panjang,
badan yang langsing, pinggul besar, baju yang seksi dan dada nya… *TEEEEEEETTTTT*
apa yang aku pikirkan, putri tidak mungkin menjelma jadi seperti itu.
Lalu bayangan itu muncul lagi, kini
putri kecil berangsur-angsur menjadi dewasa dan sekarang dia sedang berada
dihadapanku, menerima kue coklat yang kubelikan untuknya dengan anggun dan
berwibawa. Senyumnya masih sama, selalu menenangkan hati, raut wajahnya yang
lucu menggemaskan masih tersisa di wajah nya yang kini sudah dewasa.
Sudah kuputuskan. Putri yang
sekarang akan menjelma seperti yang kupikirkan tadi. Aku sangat yakin bahwa
Putri sedang berada disini, aku dapat merasakan nya. Tapi, pintu dihadapanku
tiba-tiba akan terbuka, jantungku ikut berdetak dengan kencang, Putrikah yang
membuka pintu itu? Semakin lebar pintu itu terbuka, semakin kencang pula
jantung ini berdetak. Pintu itu kini sudah terbuka sampai titik dimana aku
dapat melihat separuh dari tubuh seseorang yang berada dibaliknya. JANTUNG KU
BERHEBTI BERDETAK!!!!
“Egi, kenapa gak masuk? Malah
berdiri disini?” Kata Mamah keheranan.
“Ia mah, ini juga mau masuk.” Jawabku
lemas.
Akhirnya aku masuk kerumah ku. Tak
perlu berjalan cukup jauh karena pada akhirnya aku dapat melihat sosok wanita
yang sedang duduk mengobrol bersama ayahku di ruang tamu. Putrikah itu? Saat
mereka menyadari aku datang, wanita itu menoleh kearahku. Wajahnya tidak
berubah, masih sama seperti terakhir kali kumelihatnya. Itu adalah teman baiku
yang sangat cantik.
Setelah duduk bersama mereka, aku
hanya terdiam mengamati teman keciku itu. Dia sangat dewasa dan anggun. Cara
berbicaranya dan gerak-geriknya menandakan seseorang yang telah berumur 25
tahun dengan satu orang anak dan sebuah pekerjaan yang menumpuk. Baiklah aku
hanya sedikit berlebihan menggambarkan nya, tapi dia seperti tidak kukenali
lagi. Saat menerima pemberian kue dariku pun tak ada senyum yang tergambar
diwajahnya. Wajahnya yang dulu periang, kini berubah menjadi wajah yang serius.
Tubuhnya yang dulu lincah berlarian kemana-mana, kini hanya sesekali bergerak
dan diam dengan teratur. Suaranya yang dulu melengking dan menggemaskan, membuat
siapapun yang mendengarnya ingin tertawa, mengapa sekarang aku ingin menangis
mendengar suaranya yang sangat dewasa.
Dia memang Putri, tapi putri dengan
kepribadian yang lain. Aku tak suka itu.
Kami hanya berbincang sebentar degan
menanyakan kabar masing-masing dan aktifitas apa yang sekarang sedang
dikerjakan. Setelah itu mamahku langsung mengantarnya kekamar agar dia dapat
beristirahat. Sekarang tinggal aku dan ayahku yang berada diruang tamu. Ini
saat yang tepat untuk memulai interogasi.
“Ayah, Putri kenapa tiba-tiba pindah
kesini dan tinggal dirumah kita? Terus mana Om sama Tante, kenapa gak dateng
juga?” tanyaku penasaran.
Ayahku sempat
menghela nafas sebelum akhirnya menjawab “tunggu Mamahmu dulu” kata ayahku
singkat.
Tak
perlu menunggu lama, Mamahku kembali lagi keruang tamu dan langsung duduk
dihadapanku, disamping ayahku. Dia menatapku dengan tatapan serius, ini artinya
tidak boleh ada yang memotong tentang apa yang akan dibicarakan nya. Sesaat aku
melihat sebuah keraguan diwajah mamahku.
“Egi berhak tau, dia sudah dewasa”
Kata ayahku tiba-tiba.
“Seminggu yang lalu mamah mendapat
kabar bahwa ada sebuah rumah yang terbakar di daerah Jakarta Selatan” mamah
mulai bercerita. Raut kekhawatiran mulai tergambah jelas diwajahnya. “rumah itu adalah rumah orang tua Putri.”
Hanya
sebuah kalimat pendek, tapi itu telah cukup untuk membuat jantungku berdebar
kencang dan menimbulkan efek perih di hatiku.
“Kejadian nya terjadi pada malam
hari. Saat warga sekitar sadar, api sudah membakar separuh dari rumah itu.
Barang-barang yang ada didalam nya habis terbakar, pakaian, surat-surat
berharga, seluruh harta mereka habis terbakar disana.”
“setelah pemadam kebakaran berhasil
memadamkan api, semuanya telah musnah.” Mamah berhenti bercerita. Dia mulai
mengatur nafasnya, ada genangan air disudut matanya. Tak lama mamahpun
melanjutkan lagi ceritanya “Orang tua Putri tidak dapat diselamatkan. Mereka
terjebak didalam dan tidak dapat menyelamatkan diri. Saat itu Putri sedang di
Yogyakarta, mengikuti test untuk masuk perguruan tinggi negri. Mamah tau kabar
tentang musibah itu dan langsung mengurus pemakaman kedua orang tua Putri dan
menyelamatkan seluruh harta yang masih tersisa.”
Aku
hanya diam dan menyimak dengan serius. Aku hanya berfikir mungkin mamah hanya
bergurau tentang cerita Putri, aku akan berfikir begitu jika tidak melihat air
mata yang menggenang mulai mengalir sebulir demi sebulir dari mata mamah.
Mamahku bukan tipe orang yang dapat mencurahkan perasaan nya dengan mudah. Jika
mamah tidak menangis seperti ini, aku yakin ini hanyalah lelucon.
“Setelah selesai dan dinyatakan
lulus sebagai salah satu peserta dengan nilai terbaik, Putri memutuskan untuk
pulang dan akan memberitaukan kabar gembira itu kepada orang tua nya, tapi
kabar itu tidak pernah sampai ketelinga mereka. Sebelum nya saat di Airport,
Mamah sudah menjemputnya, mencari waktu yang pas untuk memberitaukan tentang
yang terjadi selama dia pergi. Saat itu Putri terlihat sangat dewasa. Mamah
pikir dia akan menangis meraung-raung memanggil-manggil nama ayah dan ibunya,
tapi ternyata tak ada satu tetes air matapun yang mengalir. Diapun sangat tegar
saat melihat puing-puing rumahnya yang sudah rata dengan tanah, dia sangat
dewasa menerima kepergian kedua orang tuanya yang mendadak. Saat mamah mengajak
Putri kemakam orang tuanya, dia hanya menaburkan bunga dalam diam, berdoa
dengan khusyuk.”
“Mah, Pah, Terimakasih udah
nemenin Putri didunia selama 18 tahun ini.”
“ Itu
adalah kata-kata yang terucap dari mulutnya. Setelah itu mamah tidak berani
mengungkit lagi kematian orang tuanya, bahkan mamah tidak berani menanyakan
tentang kelanjutan pencalonan nya menjadi mahasiswa Kedokteran di UGM. Mamah
memutuskan untuk membawa Putri kerumah kita, dia tidak mempunyai siapa-siapa
lagi karena kedua orang tua Putri adalah anak tunggal dan kakek neneknya jauh
dikampung. Bagaimanapun dia butuh tempat tinggal. ”
Mamahku
selessai bercerita dengan rangkulan tangan lembut ayahku dipundaknya, mamah
mulai menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan mulai tersenyum padaku.
“Mamah sanggup membiayai kuliahnya
walaupun kuliah kedokteran itu cukup mahal. Mamah lebih baik mengorbankan anak
mamah yang tidak punya harapan ini dari pada mengorbankan masa depan anak
secerah Putri.” Kini Mamah mulai menggodaku, mungkin karena melihat ekspresi
wajahku saat ini. Aku tidak tau apa yang kurasakan. Otaku berhenti bekerja,
waktu seolah berhenti bahkan aku pun tidak tau apa saat ini aku sedang bernafas
atau tidak.
Kalimat
terakhir yang mamah ucapkan tidak membuatku terusik apalagi marah. Jangankan
masa depanku, jika dia mau, aku rela membagi orang tuaku padanya, hanya sekedar
untuk melihat senyum diwajahnya seperti dulu.
Oh Putri yang malang, kenapa
gadis sebaik dan secantik kamu harus menerima cobaan seberat ini.
Saat ingin kembali kekamar, aku
melintas didepan pintu kamar Putri.
“ Kak
Putri, apa coklat yang kubelikan rasanya enak? Aku sudah bukan anak yang
pendiam lagi, sekarang aku sudah punya banyak teman. Akan ku perkenalkan dengan
teman-temanku, kau harus terus tertawa dan bahagia seperti dulu” Tak terasa air
mataku mengalir, sangat deras….
***
Dua hari
setelah kedatangan Putri ke rumahku…..
“Kak
Putri……..”
“Jangan teriak-teriak, nanti
tetangga dengar”
“Ia mamah, Kak Putri mana?”
Saat
melewati kamarnya aku melihat pintu kamarnya terbuka dan dia tidak ada didalam.
Saat kupikir dia ada dibawah, sedang sarapan dimeja makan, aku hanya bertemu
dengan Ayah dan Mamahku yang sedang menyantap makanan mereka masing-masing.
“Wawancara kerja” Jawab Ayahku.
Aku
pikir itu bagus, berdiam diri tanpa melakukan sesuatu akan membuat dia lebih
merasa sedih. Dengan disibukan oleh pekerjaan, kurahap Putri dapat melupakan
kesedihan nya.
***
Dua
hari….
Empat
hari…
Tujuh
hari….
Tak terasa sudah seminggu Putri
berada dirumahku, tapi tak satu katapun keluar dari mulutku untuknya. Dia
sangat sibuk, sibuk sekali untuk hanya sekedar bekerja di Perusahaan Majalah
bagian Editor. Dia selalu berangkat kerja saat aku masih tertidur dan pulang
sangat larut, disaat jam tidurku sudah lewat.
Karena khawatir dengan nya? karena
merindukan nya? Hentahlah, aku selalu begadang untuk hanya sekedar melihat
bagaimana keadaan nya. Dan menunjukan padanya bahwa dia tidak sendiri dan masih
ada yang peduli dengan nya. Setidak nya untuk sekedar menanyakan kabar,
bagaimana pekerjaan nya? Apa berjalan lancar? Atau, kau sudah makan, mau
kubuatkan makanan untuk mu?
Dan malam ini tepat pukul 11 malam,
Putri pulang dengan wajah yang seperti biasanya, tanpa ekspresi. Aku tidak tau
apakah ayah atau Mamahku menyadarinya, tapi seakan Putri sudah tidak ada lagi
didalam tubuhnya saat ini. Tubuhnya hanya bergerak sendiri seperti Zombie. Tak
ada gairah dalam setiap langkahnya, tak ada semangat dalam setiap katanya.
Sorotan matanya adalah sorotan mata kehampaan. Memikirkan hal itu, seketika
terbayang bila suatu saat nanti Putri tidak dapat menahan kejam nya hidup
sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri. TIDAAAKKK!!!!!
“Kakak udah pulang?” tanyaku saat
dia melintas.
Putri
hanya membalasku dengan sebuah senyuman. Bukan senyuman yang dapat menengakan
jiwa seperti saat dia masih kecil dulu, tapi sebuah senyum tanpa arti yang
membuat siapapun yang melihatnya akan merasa khawatir dan sedih.
Selalu
seperti itu. Hanya kata itu yang keluar dari mulutku setiap malamnya karena
setelah itu Putri langsung pergi kekamarnya. Sisanya, seperti bagaimana
pekerjaan mu dan yang lain nya, hanya dapat kutelan dalam mulutku.
Kak
Putri, mengapa aku seperti tidak mengenalimu lagi? Apa semua kebahagiaan yang kau
miliki telah terkubur bersama dengan mayat ayah dan ibumu? Mana tawamu yang
riang dan suaramu yang melengking? Mana senyum mu yang selalu kurindukan?
Kak
Putri, jika kau tidak merasa bahagia lagi, jika kau merasa dunia sangat kejam
padamu, mengapa kau tida menangis dengan keras? Meraung dan memaki dalam setiap
tetesan air mata yang keluar? Marahlah pada siapapun kau ingin marah.
Itu lebih baik dari pada berdiam
diri dan pura-pura tegar seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar