Selasa, 21 Mei 2013

Arti Sebuah Air Mata Part1


Ini adalah yang pertama bagiku. Merasakan kesedihan karena sebuah kesedihan yang tak terekspresikan dan hanya terpendam dalam dari seseorang…..
            Saat aku kecil, aku mempunyai seorang teman bermain yang sangat baik. Dia sangat periang dan cantik bagaikan seorang putri. Senyuman nya membuat siapapun ingin tersenyum bagaimanapun suasana hati saat itu. Suaranya sangat dirindukan, suaranya yang lucu dan menggemaskan. Tingkah lucunya membuat siapapun yang melihatnya ingin tertawa. Jika kau bersama dengan nya, sepanjang haripun terasa seperti satu menit karena saat kau berada didekatnya, kau akan masuk kedalam duanianya yang penuh dengan warna dan menghabiskan setiap detik dengan kebahagiaan yang dipancarkan dari dalam dirinya.
            Teman kecilku itu bernama Putri. Dia adalah satu-satunya teman yang dapat merubah kepribadianku saat itu. Aku bukan anak yang nakal dan pemalas saat aku kecil dulu, aku cukup taat kepada perintah kedua orang tuaku dan tidak pernah membuat mereka marah. Tapi mereka tetap saja merasa cemas padaku karena
saat kecil aku adalah tipe anak yang sangat pendiam. Saat di TK, aku lebih memilih membaca buku cerita dari pada bermain bola bersama teman-temanku yang lain, dan aku lebih baik tidur siang dari pada menjelajahi seluruh komplek dengan sepeda bersama teman-teman yang satu komplek dengan ku.
Sampai suatu hari orangtuaku mengundang teman lamanya kerumah karena sebuah acara, kebetulan teman nya ini baru saja pindah kedekat rumahku dan mereka memiliki seorang anak perempuan  yang satu tahun lebih tua diatasku. Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan Putri.
Egi Lastapratama
            Kejadian itu sudah berlalu dua belas tahun lalu. Aku hanya mengenal Putri selama 2 tahun karena setelah itu keluarganya pindah rumah lagi karena suatu hal. Sejak saat itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku terus merengek kepada mamahku untuk bertanya kepada orang tua nya dimana Putri berada sekarang, tapi mamahku selalu menjawab dengan berbagai alasan. Semakin aku beranjak dewasa, aku mulai melupakan nya, tidak pernah mengingat tentangnya lagi, dan dia begitu saja menghilang dari ingatanku.
Sampai suatu hari….
            Saat itu aku sedang disekolah, bercanda dengan teman-temanku dikantin belakang sekolah saat jam istirahat, sampai tiba-tiba Handphone ku bergetar dengan tulisan “Mamah” berkedap-kedip di layarnya.
            “Assalamu’alaikum, mah ada apa?” tanyaku spontan. Tak biasanya mamahku menelepon saat aku sedang disekolah, ini pasti sesuatu yang penting. Aku langsung menjauh dari tempatku dan teman-temanku yang masih sangat rebut membicarakan para guru.
            “Wa’alaikum sallam, Egi, setelah pulang sekolah jangan main kemana-mana yah, kamu langsung pulang. Akan ada tamu special yang datang kerumah kita” kata mamah.
            “Siapa mah?” tanyaku antusias.
            “Nanti juga kamu tau, pokonya dia itu orang yang kamu kenal banget deh. Udah lama banget kamu gak ketemu dia. Oia pulang sekolah kamu mampir dulu ketoko coklat yah, belikan coklat yang sangat lezat untuk tamu kita nanti.”
            Sejenak aku berfikir, dia adalah seseorang yang kukenal dan sudah lama tidak berjumpa? Temanku waktu SMP kah, atau waktu SD kah? Dan coklat, aku rasa aku tidak punya teman yang suka makan coklat, tapi…..
            “Egi….Egi….kamu masih disitu nak?”
Suara mamah tiba-tiba menyadarkan lamunanku.
            “PUTRI….” Teriaku spontan. “Apa Putri yang mau datang kerumah kita mah?” saat Putri masih kecil, dia sangat menyukai coklat.
            “Mmmm… Pokoknya nanti juga kamu tau. Inget pesen mamah yah.  Assalamu’alaikum…”
            “Wa’alaikum sallam…”
Putri akan datang kerumahku. Aku sangat yakin kalau tamu yang mamah maksud adalah Putri. Setelah 12 tahun tidak bertemu, seperti apakah keadaan nya sekarang? Kenapa tiba-tiba dia datang kesini? Apa dia akan melanjutkan kuliahnya disini? (saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMA, karena dia lebih tua satu tahun dariku sekarang seharusnya dia akan berkuliah). Aku sungguh tidak sabar menunggu pelajaran berakhir yang kira-kira masih 3 jam lagi. Oh Putri akhirnya, setelah sekian lama tak mendengar kabarmu, akhirnya kau kembali juga padaku.
***
            Setelah melewati dua mata pelajaran yang tidak kusimak sama sekali karena tentu saja pikiranku tidak dapat lepas dari bayangan Putri kecil yang sangat periang dan baik hati. Seperti apakah dia disaat umurnya 18 tahun ini? Makin cantikah dia? Atau tambah lucukah dia?
            Aku mengendarai motorku dengan kecepatan ekstrim sehingga perjalanan yang ditempuh dalam waktu 30 menit dapat ku tempuh dalam waktu hanya 10 menit dan itu sudah termasuk dengan aku mampir ke toko kue untuk membeli coklat. Jika mamah tau yang kulakukan ini, saat itu juga dia akan terkena serangan jantung karena anak laki-laki satu-satunya yang tampan dan cerdas ini telah mempertaruhkan masa depan nya yang cemerlang.
            Sekarang aku sedang berdiri di depan pintu rumahku. Sebelum aku masuk, aku masih dapat membayangkan dikepalaku ada seorang Putri kecil yang selalu menggodaku, Egi kecil yang pendiam, lalu tiba-tiba dia berubah menjadi gadis yang cantik dengan rambut yang panjang, badan yang langsing, pinggul besar, baju yang seksi dan dada nya… *TEEEEEEETTTTT* apa yang aku pikirkan, putri tidak mungkin menjelma jadi seperti itu.
            Lalu bayangan itu muncul lagi, kini putri kecil berangsur-angsur menjadi dewasa dan sekarang dia sedang berada dihadapanku, menerima kue coklat yang kubelikan untuknya dengan anggun dan berwibawa. Senyumnya masih sama, selalu menenangkan hati, raut wajahnya yang lucu menggemaskan masih tersisa di wajah nya yang kini sudah dewasa.
            Sudah kuputuskan. Putri yang sekarang akan menjelma seperti yang kupikirkan tadi. Aku sangat yakin bahwa Putri sedang berada disini, aku dapat merasakan nya. Tapi, pintu dihadapanku tiba-tiba akan terbuka, jantungku ikut berdetak dengan kencang, Putrikah yang membuka pintu itu? Semakin lebar pintu itu terbuka, semakin kencang pula jantung ini berdetak. Pintu itu kini sudah terbuka sampai titik dimana aku dapat melihat separuh dari tubuh seseorang yang berada dibaliknya. JANTUNG KU BERHEBTI BERDETAK!!!!
            “Egi, kenapa gak masuk? Malah berdiri disini?” Kata Mamah keheranan.
            “Ia mah, ini juga mau masuk.” Jawabku lemas.
            Akhirnya aku masuk kerumah ku. Tak perlu berjalan cukup jauh karena pada akhirnya aku dapat melihat sosok wanita yang sedang duduk mengobrol bersama ayahku di ruang tamu. Putrikah itu? Saat mereka menyadari aku datang, wanita itu menoleh kearahku. Wajahnya tidak berubah, masih sama seperti terakhir kali kumelihatnya. Itu adalah teman baiku yang sangat cantik.
            Setelah duduk bersama mereka, aku hanya terdiam mengamati teman keciku itu. Dia sangat dewasa dan anggun. Cara berbicaranya dan gerak-geriknya menandakan seseorang yang telah berumur 25 tahun dengan satu orang anak dan sebuah pekerjaan yang menumpuk. Baiklah aku hanya sedikit berlebihan menggambarkan nya, tapi dia seperti tidak kukenali lagi. Saat menerima pemberian kue dariku pun tak ada senyum yang tergambar diwajahnya. Wajahnya yang dulu periang, kini berubah menjadi wajah yang serius. Tubuhnya yang dulu lincah berlarian kemana-mana, kini hanya sesekali bergerak dan diam dengan teratur. Suaranya yang dulu melengking dan menggemaskan, membuat siapapun yang mendengarnya ingin tertawa, mengapa sekarang aku ingin menangis mendengar suaranya yang sangat dewasa.
            Dia memang Putri, tapi putri dengan kepribadian yang lain. Aku tak suka itu.
            Kami hanya berbincang sebentar degan menanyakan kabar masing-masing dan aktifitas apa yang sekarang sedang dikerjakan. Setelah itu mamahku langsung mengantarnya kekamar agar dia dapat beristirahat. Sekarang tinggal aku dan ayahku yang berada diruang tamu. Ini saat yang tepat untuk memulai interogasi.
            “Ayah, Putri kenapa tiba-tiba pindah kesini dan tinggal dirumah kita? Terus mana Om sama Tante, kenapa gak dateng juga?” tanyaku penasaran.
Ayahku sempat menghela nafas sebelum akhirnya menjawab “tunggu Mamahmu dulu” kata ayahku singkat.
Tak perlu menunggu lama, Mamahku kembali lagi keruang tamu dan langsung duduk dihadapanku, disamping ayahku. Dia menatapku dengan tatapan serius, ini artinya tidak boleh ada yang memotong tentang apa yang akan dibicarakan nya. Sesaat aku melihat sebuah keraguan diwajah mamahku.
            “Egi berhak tau, dia sudah dewasa” Kata ayahku tiba-tiba.
            “Seminggu yang lalu mamah mendapat kabar bahwa ada sebuah rumah yang terbakar di daerah Jakarta Selatan” mamah mulai bercerita. Raut kekhawatiran mulai tergambah jelas diwajahnya.  “rumah itu adalah rumah orang tua Putri.”
Hanya sebuah kalimat pendek, tapi itu telah cukup untuk membuat jantungku berdebar kencang dan menimbulkan efek perih di hatiku.
            “Kejadian nya terjadi pada malam hari. Saat warga sekitar sadar, api sudah membakar separuh dari rumah itu. Barang-barang yang ada didalam nya habis terbakar, pakaian, surat-surat berharga, seluruh harta mereka habis terbakar disana.”
            “setelah pemadam kebakaran berhasil memadamkan api, semuanya telah musnah.” Mamah berhenti bercerita. Dia mulai mengatur nafasnya, ada genangan air disudut matanya. Tak lama mamahpun melanjutkan lagi ceritanya “Orang tua Putri tidak dapat diselamatkan. Mereka terjebak didalam dan tidak dapat menyelamatkan diri. Saat itu Putri sedang di Yogyakarta, mengikuti test untuk masuk perguruan tinggi negri. Mamah tau kabar tentang musibah itu dan langsung mengurus pemakaman kedua orang tua Putri dan menyelamatkan seluruh harta yang masih tersisa.”
Aku hanya diam dan menyimak dengan serius. Aku hanya berfikir mungkin mamah hanya bergurau tentang cerita Putri, aku akan berfikir begitu jika tidak melihat air mata yang menggenang mulai mengalir sebulir demi sebulir dari mata mamah. Mamahku bukan tipe orang yang dapat mencurahkan perasaan nya dengan mudah. Jika mamah tidak menangis seperti ini, aku yakin ini hanyalah lelucon.
            “Setelah selesai dan dinyatakan lulus sebagai salah satu peserta dengan nilai terbaik, Putri memutuskan untuk pulang dan akan memberitaukan kabar gembira itu kepada orang tua nya, tapi kabar itu tidak pernah sampai ketelinga mereka. Sebelum nya saat di Airport, Mamah sudah menjemputnya, mencari waktu yang pas untuk memberitaukan tentang yang terjadi selama dia pergi. Saat itu Putri terlihat sangat dewasa. Mamah pikir dia akan menangis meraung-raung memanggil-manggil nama ayah dan ibunya, tapi ternyata tak ada satu tetes air matapun yang mengalir. Diapun sangat tegar saat melihat puing-puing rumahnya yang sudah rata dengan tanah, dia sangat dewasa menerima kepergian kedua orang tuanya yang mendadak. Saat mamah mengajak Putri kemakam orang tuanya, dia hanya menaburkan bunga dalam diam, berdoa dengan khusyuk.”
“Mah, Pah, Terimakasih udah nemenin Putri didunia selama 18 tahun ini.”
“ Itu adalah kata-kata yang terucap dari mulutnya. Setelah itu mamah tidak berani mengungkit lagi kematian orang tuanya, bahkan mamah tidak berani menanyakan tentang kelanjutan pencalonan nya menjadi mahasiswa Kedokteran di UGM. Mamah memutuskan untuk membawa Putri kerumah kita, dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi karena kedua orang tua Putri adalah anak tunggal dan kakek neneknya jauh dikampung. Bagaimanapun dia butuh tempat tinggal. ”
Mamahku selessai bercerita dengan rangkulan tangan lembut ayahku dipundaknya, mamah mulai menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dan mulai tersenyum padaku.
            “Mamah sanggup membiayai kuliahnya walaupun kuliah kedokteran itu cukup mahal. Mamah lebih baik mengorbankan anak mamah yang tidak punya harapan ini dari pada mengorbankan masa depan anak secerah Putri.” Kini Mamah mulai menggodaku, mungkin karena melihat ekspresi wajahku saat ini. Aku tidak tau apa yang kurasakan. Otaku berhenti bekerja, waktu seolah berhenti bahkan aku pun tidak tau apa saat ini aku sedang bernafas atau tidak.
Kalimat terakhir yang mamah ucapkan tidak membuatku terusik apalagi marah. Jangankan masa depanku, jika dia mau, aku rela membagi orang tuaku padanya, hanya sekedar untuk melihat senyum diwajahnya seperti dulu.
Oh Putri yang malang, kenapa gadis sebaik dan secantik kamu harus menerima cobaan seberat ini.
            Saat ingin kembali kekamar, aku melintas didepan pintu kamar Putri.
“ Kak Putri, apa coklat yang kubelikan rasanya enak? Aku sudah bukan anak yang pendiam lagi, sekarang aku sudah punya banyak teman. Akan ku perkenalkan dengan teman-temanku, kau harus terus tertawa dan bahagia seperti dulu” Tak terasa air mataku mengalir, sangat deras….
***
Dua hari setelah kedatangan Putri ke rumahku…..     
“Kak Putri……..”
            “Jangan teriak-teriak, nanti tetangga dengar”
            “Ia mamah, Kak Putri mana?”
Saat melewati kamarnya aku melihat pintu kamarnya terbuka dan dia tidak ada didalam. Saat kupikir dia ada dibawah, sedang sarapan dimeja makan, aku hanya bertemu dengan Ayah dan Mamahku yang sedang menyantap makanan mereka masing-masing.
            “Wawancara kerja” Jawab Ayahku.
Aku pikir itu bagus, berdiam diri tanpa melakukan sesuatu akan membuat dia lebih merasa sedih. Dengan disibukan oleh pekerjaan, kurahap Putri dapat melupakan kesedihan nya.
***
Dua hari….
Empat hari…
Tujuh hari….
            Tak terasa sudah seminggu Putri berada dirumahku, tapi tak satu katapun keluar dari mulutku untuknya. Dia sangat sibuk, sibuk sekali untuk hanya sekedar bekerja di Perusahaan Majalah bagian Editor. Dia selalu berangkat kerja saat aku masih tertidur dan pulang sangat larut, disaat jam tidurku sudah lewat.
            Karena khawatir dengan nya? karena merindukan nya? Hentahlah, aku selalu begadang untuk hanya sekedar melihat bagaimana keadaan nya. Dan menunjukan padanya bahwa dia tidak sendiri dan masih ada yang peduli dengan nya. Setidak nya untuk sekedar menanyakan kabar, bagaimana pekerjaan nya? Apa berjalan lancar? Atau, kau sudah makan, mau kubuatkan makanan untuk mu?
            Dan malam ini tepat pukul 11 malam, Putri pulang dengan wajah yang seperti biasanya, tanpa ekspresi. Aku tidak tau apakah ayah atau Mamahku menyadarinya, tapi seakan Putri sudah tidak ada lagi didalam tubuhnya saat ini. Tubuhnya hanya bergerak sendiri seperti Zombie. Tak ada gairah dalam setiap langkahnya, tak ada semangat dalam setiap katanya. Sorotan matanya adalah sorotan mata kehampaan. Memikirkan hal itu, seketika terbayang bila suatu saat nanti Putri tidak dapat menahan kejam nya hidup sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri. TIDAAAKKK!!!!!
            “Kakak udah pulang?” tanyaku saat dia melintas.
Putri hanya membalasku dengan sebuah senyuman. Bukan senyuman yang dapat menengakan jiwa seperti saat dia masih kecil dulu, tapi sebuah senyum tanpa arti yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa khawatir dan sedih.
Selalu seperti itu. Hanya kata itu yang keluar dari mulutku setiap malamnya karena setelah itu Putri langsung pergi kekamarnya. Sisanya, seperti bagaimana pekerjaan mu dan yang lain nya, hanya dapat kutelan dalam mulutku.
            Kak Putri, mengapa aku seperti tidak mengenalimu lagi? Apa semua kebahagiaan yang kau miliki telah terkubur bersama dengan mayat ayah dan ibumu? Mana tawamu yang riang dan suaramu yang melengking? Mana senyum mu yang selalu kurindukan?
            Kak Putri, jika kau tidak merasa bahagia lagi, jika kau merasa dunia sangat kejam padamu, mengapa kau tida menangis dengan keras? Meraung dan memaki dalam setiap tetesan air mata yang keluar? Marahlah pada siapapun kau ingin marah.
Itu lebih baik dari pada berdiam diri dan pura-pura tegar seperti itu.

To Be Contuined.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar