Akhirnya kami semua sudah selesai membuat tenda. Setelah
pamit dari warung si nenek kemarin kami langsung mendapat tumpangan mobil yang
kebetulan melewati tempat tujuan kami ini. Setelah sampai kami langsung mandi
di sungai, membuat tenda, dan bersenang-senang.
Saat ini kami sedang memancing
ikan disungai yang tak jauh dari tempat kami berkemah untuk makan siang. Saat
kami sedang memancing, bu Hani yang terlihat bahagia sedang mencoba untuk
mempersiapkan bumbu dan menyusun kayu bakar.
“boss,kemarin kau tidak menyentuh
patung yang ada di warung itu kan?” Tanya sekretaris tiba-tiba.
“maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“aku harap kau tidak
menyentuhnya” kata sekretaris .
“aku dapat ikan, aku dapat ikan”
teriak Reno kegirangan.
Perjalanan ketempat ini sungguh butuh dengan perjuangan.
Dibalik segala perjuangan itu ada pelajaran
berharga yang dapat aku ambil, perjalanan
ini membuatku semakin dekat dengan kedua anak buahku, dengan Reno dan dengan bu
Hani. Kupikir sudah saatnya untuk berhenti menjaili Reno, dia anak yang pintar
dan kupikir dia tidak terlalu buruk jika kujadikan anak buahku. Aku kekurangan
seorang bendahara untuk mengelola keuangan, akan ku jadikan dia bendaharaku.
…….
Malam
pertama ditengah hutan memang sangat membuat orang tegang. Saat ini kami sedang
bernyanyi melingkari api unggun untuk meredam ketegangan. Aku tak pernah
melihat bu Hani sebahagia sekarang dan aku juga belum pernah melihat Reno tidak
memegang buku kemana-mana, bernyanyi dengan bahagia dibawah sinar bulan,
Sungguh tampan.
Serontak
aku kaget oleh pikiranku yang sangat liar ini, kalau tidak salah ada yang
berbisik padaku kalau Reno itu tam…. Akkhhh… hutan ini menyeramkan, pikiranku
jadi kacau.
“Ara,
kau tidak apa-apa? Mukamu pucat” kata si tersangka.
Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Akan lebih menyenangkan jika
kita bermain ‘katakan sejujurnya’ untuk mengisi waktu” jelas Reno.
Aku pikir itu ide
yang bagus. Kami berlima duduk melingkar, lalu kami menaruh satu botol
ditengah-tengah kami dan putarkan. Lihat botol berhenti ke arah siapa, yang
ditunjuk harus bertanya pada seseorang diantara kita dan orang yang ditanya
harus menjawab dengan jujur, jika tidak dia akan dihukum.
Permainan dimulai dan botol pertama mengarah pada si
tersangka.
“aku akan
bertanya pada Ara”kata si tersangka.
“tanyalah,
aku akan menjawabnya dengan jujur” kataku santai.
“apa
aku bagimu?”
Tersangka ini benar-benar aneh menanyakan hal seperti itu
padaku. Sudah jelas kau adalah anak buah kepercayaanku dan dompet pribadiku
mengingat kau selalu kalah taruhan dariku. Tapi pada kasus ini kami sedang
bermain sebuah permainan yang dituntut dengan kejujuran maka aku harus menjawab
dengan sejujur-jujurnya.
“kau
anak buah yang paling kubanggakan Aldi” jelasku.
Note: nama asli si
tersangka adalah Aldi.
Aku tidak terlalu pintar menebak perasaan orang tapi
sepertinya si tersangka ini tidak terlalu senang dengan jawaban yang ku
berikan.
Botol telah diputar dan botol kedua berhenti pada Reno.
“saya
akan bertanya pada bu Hani” kata Reno.
“me?
Right, I promis I’ll be honest ” jelas Bu Hani.
Saat itu aku sempat jengkel pada Reno, ada banyak orang
disini dan kenapa dia harus bertanya kepada Bu Hani, sungguh membuat kesal.
“kenapa
ibu tidak pernah marah pada saya, padahal saya pernah mengganggu ibu saat
berdandan?” Tanya Reno.
“I
think it nothing wrong with you Reno , you are smart and nice boy, semua guru
sangat menyayangimu termasuk ibu. Tidak ada alasan untuk memarahimu” jelas Bu
Hani.
Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku tidak terlalu
pintar dalam menebak perasaan orang, tapi sepertinya Reno sangat puas dengan
jawaban Bu Hani. Benar-benar membuatku jengkel.
Botol diputar kembali dan kali ini botol berhenti pada sang sekretaris.
“baiklah,
aku akan bertanya pada Ara,” kata si sekretaris.
“tanyalah,
aku janji akan menjawab jujur” kataku.
“apa
selama ini kerjaku bagus?”
“awesome”
jelasku singkat.
Malam hari ini dihabiskan untuk permainan yang sederhana
tapi membuatku mendapat sebuah pelajaran yang berharga bahwa tak selamanya
orang yang kita pikir buruk itu memang buruk, tapi mereka punya sisi baik saat
kau sudah mengenalnya lebih dekat. Untuk bu Hani dan Re….no, kenapa aku jadi
sulit begini menyebut namanya? Menyebalkan.
***
Pagi
ini kami berbagi tugas untuk menyiapkan sarapan. Aku, bu Hani dan Reno pergi
mencari kayu bakar dan dedaunan untuk dicampur kedalam makanan. Si tersangka
dan sekretaris mencari ikan di sungai dan menyiapkan peralatan masak.
HUTAN
“ibu,
hati-hati jalanan ini licin” kata Reno.
“ia
Reno. Ara kamu juga hati-hati yah, perhatikan langkahmu karena disini banyak
ranting patah nanti kamu bisa tersan…..”
“aauu…”
“Ara
kau tidak apa-apa” Tanya Reno lembut.
“Ara?”
kalau itu Bu Hani
Sungguh memalukan aku tersandung dan terjatuh seperti anak
kecil yang baru belajar jalan. Sungguh menjengkelkan.
Pagi ini sungguh menjengkelkan, Reno hanya
bicara pada bu Hani seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di hutan ini. Aku
berjalan dibelakang mereka berusaha memantapkan kakiku pada tanah agar tidak
terjatuh lagi.
PERKEMAH
“Aldi,
kau sudah lama di dalam air nanti kau sakit.” Teriak si sekretaris dari pinggir
sungai.
“sejak
kapan kau tau namaku?” Tanya si tersangka heran “bukankah kau selalu
memanggilku tersangka?” Sekretaris memang tidak pernah memanggil si tersangka
dengan namanya. “dan sejak kapan kau perhatian padaku?”
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Biasannya seperti ini sikap sekretarisku.
“karena rencana kita kali ini ketauan, jadi
kita dihukum membersihkan kelas ini. Karena aku mempunyai kalian, jadi selamat
bekerja” itu aku yang berbicara, memang kedengarannya kejam tapi itu adalah salah
satu tugas dari seorang boss-memberi perintah kepada anak buahnya.
“sekretaris , kenapa kau terus
mengetik didepan notebook mu itu, ayo Cepat bantu aku!” kalau ini si tersangka yang berbicara.
“tidak mau, nanti tanganku
kotor” kata sekretaris “cepat bersihkan,
setelah ini aku masih ada kerjaan lain”
Dan saat si tersangka terpelesat waktu mengepel, reaksi sekretaris adalah:
“bodoh, lantai itu jadi kotor
lagi. Cepet bersihkan aku sudah ingin pulang”
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
“terserah
kau saja” teriak sekretaris dan langsung pergi meninggalkan tersangka.
***
Hari-hari
terus berlalu dan hari ini sudah hari ketiga diperkemahan. Mereka sudah mulai
kacau. Reno terlihat seperti sangat tergila-gila dengan bu Hani, Mereka selalu
berdua kemana saja, berbicara dan mengobrol sepanjang hari. Lalu sejak kapan
aku jadi memperdulikan mereka? Saat Reno melihat bu Hani mengapa aku kesal,
Saat Reno berbicara dengan bu Hani mengapa aku marah dan saat Reno berduaan
dengan bu Hani mengapa aku seperti mau Meledak. Seharusnya memang aku tidak
perlu mengajak mereka berdua berkemah dari awal. Apa aku mulai gila? Ini tidak
boleh terjadi, aku harus berkonsultasi pada anak buahku.
Sekarang
adalah tugas ku dan sekretaris untuk mencari kayu bakar. Ini adalah kesempatan
yang tepat untuk mengobrol dengannya tentang masalah yang sedang aku hadapi.
Tapi kenapa sekretaris sekarang menjadi pendiam? yah dia memang pendiam tapi
aku rasa ada keganjilan dari sikapnya saat ini.
“sekretaris?”panggilku.
“hah?
Huh kau mengagetkanku boss”kata sekretaris.
Ada apa dengannya, kenapa dia jadi tegang saat aku
memanggilnya, ini tidak bisa dibiarkan.
“kau
kenapa diam saja dari tadi?” tanyaku.
“bukankah
aku memang pendiam boss” jawab sekretaris santai.
“Putri(nama
asli sekretaris)…… ya sudah lah”
Aku tidak bisa menceritakan masalahku saat ini pada
sekretaris, aku rasa aku mulai canggung berjalan berdua dengannya sekarang. Seperti
ada tembok besar trasparan yang memisahkan kita sangat jauh.
***
Hari keempat, Reno
dengan bu Hani sudah seperti sepasang kekasih. Sikap sekretaris juga sangat aneh, dan
satu-satunya yang kupikir masih normal mungkin adalah si tersangka. Saat
tugasku untuk menangkap ikan dengan tersangka, aku akan menceritakan tentang
perasaan anehku ini dengannya, tapi…
“Boss,
kau tidak perlu masuk kedalam sungai, aku akan mengambilkan ikan yang banyak
untukmu.” Teriak tersangka dari dalam sungai.
Yah kau memang anak buahku dan itu memang sudah tugasmu
untuk menggantikan tugasku, tapi dengan begini, dengan tersangka di dalam
sungai dan aku di pinggir sungai akan sulit untuk berbicara dengannya.
Menjengkelkan sekali.
Malam Hari…
Saat
aku akan mulai untuk tidur di dalam tenda, tiba-tiba ada yang memanggilku dari
luar.
“Ara,
Ara, bangun”
Ku pikir itu hantu tapi ternyata itu suara bu Hani si
perawan tua jendil yang suka deket-deket sama Reno.
“kenapa
bu, malem-malem ke tenda saya?” tanyaku sedikit heran.
“ibu
rasa ada yang aneh sama Reno,” kata bu Hani sesaat setelah masuk ke dalam tenda
“ibu pikir awalnya dia hanya berusaha untuk akrab sama ibu, tapi ternyata…..”
“ternyata
apa bu?” ya ampun Reno sudah sampai sejauh ini sama bu Hani? Dia udah mau
ngelamar bu Hani? Jadi kata nenek yang punya warung itu benar kalau bu Hani
akan segera menikah dengan…. Dengan…. Reno?
“ibu
juga kesal saat menyadarinya, ibu pikir dia ingin nilai lebih di pelajaran
bahasa inggris mangkanya dia mendekati ibu seperti itu” jelas bu Hani.
“Terus?”
“ibu
Cuma mau ngomong itu aja, jujur ibu agak risih sama sikap dia yang seperti itu,
kamu tolong beritau dia yah” kata bu Hani.
Dengan sedikit anggukan kepala aku menyetujuinya, ada
sedikit perasaan lega dihatiku mengetahui bahwa Reno mendekati bu Hani karena
hanya ingin mendapatkan nilai tinggi. Lalu kenapa aku merasa lega saat aku tau
mereka tidak ada apa-apa? Aku rasa aku kurang tidur.
Hari ke 7….
Pagi
ini Reno terlihat sangat rapi dan bersih, dia tidak pernah membawa-bawa buku lagi saat kemanapun dia pergi.
“Pagi
Reno….”sapaku saat dia melintas didepan tendaku.
“pagi.”
Jawabnya datar. “bu Hani, ibu cantik sekali pagi ini”
Dasar penjilat Reno, setiap melihat bu Hani dia langsung
seperti itu. tapikan nilai bahasa inggris Reno cukup bagus tanpa harus
mendekati bu Hani seperti itu. Baiklah, siapa yang peduli. Sekarang aku akan
berkumpul dengan kedua anak buahku saja.
Tapi keanehanku selama berkemah ini semakin
bertambah dengan sekretaris yang tidak mau berbicara padaku. Saat kami berpapasan
dia akan memalingkan mukanya dariku. Tersangka, sikapnyapun mulai aneh padaku.
Dia mulai memperdulikan apa yang sedang ku kerjakan dan semakin lebih banyak
Tanya, dan lebih parahnya lagi dia sudah tidak pernah memanggilku boss lagi.
“Ara,
apa yang sedang kau lakukan”
“Ara,
apa semalam tidurmu nyenyak”
“Ara,
kau sudah makan?”
“Ara,
apa kau sakit, mukamu pucat?”
Ara, Ara, dan Ara lagi. Hanya
ibuku yang boleh memanggilku Ara, Dasar Idiot. Baiklah ini sudah saatnya untuk
dihentikan. Mungkin dua minggu terlalu lama bagi kita untuk berkemah di hutan,
sudah banyak yang berubah dari kita semua disini dan sudah saatnya mengumpulkan
semuanya untuk membereskan masalah ini.
“awalnya
aku bahagia dapat berkemah di hutan bersama kalian dan bu Hani disini, tapi
tampaknya semakin lama aku merasa sikap kalian semakin aneh satu dengan yang
lainnya. Ada yang keberatan?” kataku membuka pembicaraan.
Semua terdiam. Itu tandanya tidak hanya aku yang merasakan
keanehan, itu artinya yang lain juga merasakan keanehan pada yang lainnya.
“aku
akan mulai dengan perasaanku yang aneh pada sekretaris. Putri, apa aku telah
berbuat salah padamu?” tanyaku
Sekretaris hanya menjawab dengan gelengan kepala dan terus
terdiam.
“lalu
apa kau marah padaku?” tanyaku lagi
Sekretaris menggelangkan kepalanya lagi
“terus
kenapa kau mengabaikanku seperti ini?” tanyaku dengan sedikit marah
Sekretris hanya terdiam dan menundukan kepalanya tanpa
berani memandangku.
“Reno”
kataku, Reno sedikit terkejut saat aku memanggil namanya. “kenapa kau kaget
saat aku memanggilmu?”
“tidak
biasanya kau memanggilku Reno, kau selalu memanggilku katro atau sikura-kura”
jawab Reno heran.
“kenapa
dimatamu hanya ada bu Hani dan tidak berbaur dengan yang lain? Kau tau, bu Hani
datang ke tendaku untuk meminta tolong agar aku memberitaumu kalau bu Hani agak
sedikit terganggu dengan sikapmu itu selama berkemah. Walaupun itu sangat
membantu karena bu Hani tidak pernah mengomel saat di dekatmu” kataku tegas.
“benarkah
seperti itu? Benarkah bu Hani tidak menyukai sikapku ini?” Tanya Reno. Ada nada
sedih pada suaranya.
“bukan
begitu Reno, ibu hanya berfikir mungkin….”
“boleh
aku berkata jujur sekarang?” kata Reno memotong.
“just
say it” tegasku.
“aku
menyukai bu Hani” jelas Reno.
Serontak aku kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan
oleh Reno. Bukan hanya aku bahkan sekretaris, tersangka dan bu Hani sendiri.
Aku benar-benar tidak dapat membuka mulutku, hatiku sangat sakit seperti
tertusuk belati berkali-kali, kakiku lemas dan tubuhku terasa seperti ingin
meledak. Cukup lama sampai akhirnya suaraku kembali.
“sejak
kapan?” tanyaku lagi.
“aku
tidak tau, tapi….. sejak hari pertama berkemah aku mulai berfikir bahwa mungkin
bu Hani adalah jodohku” jelas Reno.
Dia benar-benar malu dan tidak berani menatap bu Hani saat
mengatakannya. Bu Hanipun terlihat seperti tidak dapat berkata apa-apa.
“tidak
boleh” bentaku”dia gurumu dan kau tidak boleh menyukainya”
Dan kenapa aku melarang Reno menyukai bu Hani?
“tapi
aku…..”
“aku
juga akan berkata sejujurnya” tiba-tiba sekretaris memotong. Denga masih
menundukan kepalanya,
“maafkan
aku boss karena telah mengabaikanmu, tapi sejujurnya…… aku……aku menyukai Aldi.
Aku tidak tau sejak kapan tapi semakin aku mengelak, aku semakin menyukainya.”
Tersangka terlihat seperti tidak ada reaksi sama sekali.
“lalu,
hubungannya dengan kau mengabaikanku?” tanyaku penasaran.
“Aldi
menyukaimu” jelas si sekretaris.
Aku yang saat itu berdiri mantap,tiba-tiba sekarang duduk lemas di tempatku. Aku semakin tidak
mengerti dengan apa yang terjadi disini sebenarnya. Kupikir akan menyenangkan
jika berkemah dihutan, tapi ternyata malah seperti ini jadinya. Baiklah, sudah
saatnya ini dihentikan.
“kemasi
barang-barang kalian, besok kita akan pulang” kataku marah.
“tunggu.”
Teriak si tersangka “apa ini artinya aku ditolak Ara?”
“panggil
aku boss atau kau dipecat” bentaku lagi.
Kalian semua sangat menjengkelkan, aku tidak tahan lagi. Aku
langsung pergi ketendaku dan menguncinya rapat-rapat. Aku tidak ingin bertemu
siapapun sampai besok. Aku benar-benar bingung. mengapa jadinya malah seperti
ini, aku pikir akan menyenangkan tapi mengapa? Mengapa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar