Jumat, 10 Mei 2013

THE CURSE OF LOVE CIRCLE part2

.....

Akhirnya kami semua sudah selesai membuat tenda. Setelah pamit dari warung si nenek kemarin kami langsung mendapat tumpangan mobil yang kebetulan melewati tempat tujuan kami ini. Setelah sampai kami langsung mandi di sungai, membuat tenda, dan bersenang-senang.
Saat ini kami sedang memancing ikan disungai yang tak jauh dari tempat kami berkemah untuk makan siang. Saat kami sedang memancing, bu Hani yang terlihat bahagia sedang mencoba untuk mempersiapkan bumbu dan menyusun kayu bakar.
“boss,kemarin kau tidak menyentuh patung yang ada di warung itu kan?” Tanya sekretaris tiba-tiba.
“maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“aku harap kau tidak menyentuhnya” kata sekretaris .
“aku dapat ikan, aku dapat ikan” teriak Reno kegirangan.
Perjalanan ketempat ini sungguh butuh dengan perjuangan. Dibalik segala perjuangan itu ada pelajaran
berharga yang dapat aku ambil, perjalanan ini membuatku semakin dekat dengan kedua anak buahku, dengan Reno dan dengan bu Hani. Kupikir sudah saatnya untuk berhenti menjaili Reno, dia anak yang pintar dan kupikir dia tidak terlalu buruk jika kujadikan anak buahku. Aku kekurangan seorang bendahara untuk mengelola keuangan, akan ku jadikan dia bendaharaku. 
…….
                Malam pertama ditengah hutan memang sangat membuat orang tegang. Saat ini kami sedang bernyanyi melingkari api unggun untuk meredam ketegangan. Aku tak pernah melihat bu Hani sebahagia sekarang dan aku juga belum pernah melihat Reno tidak memegang buku kemana-mana, bernyanyi dengan bahagia dibawah sinar bulan, Sungguh tampan.
                Serontak aku kaget oleh pikiranku yang sangat liar ini, kalau tidak salah ada yang berbisik padaku kalau Reno itu tam…. Akkhhh… hutan ini menyeramkan, pikiranku jadi kacau.
                “Ara, kau tidak apa-apa? Mukamu pucat” kata si tersangka.
Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
“Akan lebih menyenangkan jika kita bermain ‘katakan sejujurnya’ untuk mengisi waktu” jelas Reno.
 Aku pikir itu ide yang bagus. Kami berlima duduk melingkar, lalu kami menaruh satu botol ditengah-tengah kami dan putarkan. Lihat botol berhenti ke arah siapa, yang ditunjuk harus bertanya pada seseorang diantara kita dan orang yang ditanya harus menjawab dengan jujur, jika tidak dia akan dihukum.
Permainan dimulai dan botol pertama mengarah pada si tersangka.
                “aku akan bertanya pada Ara”kata si tersangka.
                “tanyalah, aku akan menjawabnya dengan jujur” kataku santai.
                “apa aku bagimu?”
Tersangka ini benar-benar aneh menanyakan hal seperti itu padaku. Sudah jelas kau adalah anak buah kepercayaanku dan dompet pribadiku mengingat kau selalu kalah taruhan dariku. Tapi pada kasus ini kami sedang bermain sebuah permainan yang dituntut dengan kejujuran maka aku harus menjawab dengan sejujur-jujurnya.
                “kau anak buah yang paling kubanggakan Aldi” jelasku.
Note: nama asli si tersangka adalah Aldi.
Aku tidak terlalu pintar menebak perasaan orang tapi sepertinya si tersangka ini tidak terlalu senang dengan jawaban yang ku berikan.
Botol telah diputar dan botol kedua berhenti pada Reno.
                “saya akan bertanya pada bu Hani” kata Reno.
                “me? Right, I promis I’ll be honest ” jelas Bu Hani.
Saat itu aku sempat jengkel pada Reno, ada banyak orang disini dan kenapa dia harus bertanya kepada Bu Hani, sungguh membuat kesal.
                “kenapa ibu tidak pernah marah pada saya, padahal saya pernah mengganggu ibu saat berdandan?” Tanya Reno.
                “I think it nothing wrong with you Reno , you are smart and nice boy, semua guru sangat menyayangimu termasuk ibu. Tidak ada alasan untuk memarahimu” jelas Bu Hani.
Aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku tidak terlalu pintar dalam menebak perasaan orang, tapi sepertinya Reno sangat puas dengan jawaban Bu Hani. Benar-benar membuatku jengkel.
Botol diputar kembali dan kali ini botol berhenti pada sang sekretaris.
                “baiklah, aku akan bertanya pada Ara,” kata si sekretaris.
                “tanyalah, aku janji akan menjawab jujur” kataku.
                “apa selama ini kerjaku bagus?”
                “awesome” jelasku singkat.
Malam hari ini dihabiskan untuk permainan yang sederhana tapi membuatku mendapat sebuah pelajaran yang berharga bahwa tak selamanya orang yang kita pikir buruk itu memang buruk, tapi mereka punya sisi baik saat kau sudah mengenalnya lebih dekat. Untuk bu Hani dan Re….no, kenapa aku jadi sulit begini menyebut namanya? Menyebalkan.
***
                Pagi ini kami berbagi tugas untuk menyiapkan sarapan. Aku, bu Hani dan Reno pergi mencari kayu bakar dan dedaunan untuk dicampur kedalam makanan. Si tersangka dan sekretaris mencari ikan di sungai dan menyiapkan peralatan masak.
HUTAN
                “ibu, hati-hati jalanan ini licin” kata Reno.
                “ia Reno. Ara kamu juga hati-hati yah, perhatikan langkahmu karena disini banyak ranting patah nanti kamu bisa tersan…..”
                “aauu…”
                “Ara kau tidak apa-apa” Tanya Reno lembut.
                “Ara?” kalau itu Bu Hani
Sungguh memalukan aku tersandung dan terjatuh seperti anak kecil yang baru belajar jalan. Sungguh menjengkelkan.
 Pagi ini sungguh menjengkelkan, Reno hanya bicara pada bu Hani seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di hutan ini. Aku berjalan dibelakang mereka berusaha memantapkan kakiku pada tanah agar tidak terjatuh lagi.
PERKEMAH
                “Aldi, kau sudah lama di dalam air nanti kau sakit.” Teriak si sekretaris dari pinggir sungai.
                “sejak kapan kau tau namaku?” Tanya si tersangka heran “bukankah kau selalu memanggilku tersangka?”  Sekretaris  memang tidak pernah memanggil si tersangka dengan namanya. “dan sejak kapan kau perhatian padaku?”
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Biasannya seperti ini sikap sekretarisku.
                “karena rencana kita kali ini ketauan, jadi kita dihukum membersihkan kelas ini. Karena aku mempunyai kalian, jadi selamat bekerja” itu aku yang berbicara, memang kedengarannya kejam tapi itu adalah salah satu tugas dari seorang boss-memberi perintah kepada anak buahnya.
                “sekretaris , kenapa kau terus mengetik didepan notebook mu itu, ayo Cepat bantu aku!” kalau ini si tersangka  yang berbicara.
                “tidak mau, nanti tanganku kotor” kata sekretaris  “cepat bersihkan, setelah ini aku masih ada kerjaan lain”
Dan saat si tersangka  terpelesat waktu mengepel, reaksi sekretaris  adalah:
                “bodoh, lantai itu jadi kotor lagi. Cepet bersihkan aku sudah ingin pulang”
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
                “terserah kau saja” teriak sekretaris dan langsung pergi meninggalkan tersangka.
***
                Hari-hari terus berlalu dan hari ini sudah hari ketiga diperkemahan. Mereka sudah mulai kacau. Reno terlihat seperti sangat tergila-gila dengan bu Hani, Mereka selalu berdua kemana saja, berbicara dan mengobrol sepanjang hari. Lalu sejak kapan aku jadi memperdulikan mereka? Saat Reno melihat bu Hani mengapa aku kesal, Saat Reno berbicara dengan bu Hani mengapa aku marah dan saat Reno berduaan dengan bu Hani mengapa aku seperti mau Meledak. Seharusnya memang aku tidak perlu mengajak mereka berdua berkemah dari awal. Apa aku mulai gila? Ini tidak boleh terjadi, aku harus berkonsultasi pada anak buahku.
                Sekarang adalah tugas ku dan sekretaris untuk mencari kayu bakar. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengobrol dengannya tentang masalah yang sedang aku hadapi. Tapi kenapa sekretaris sekarang menjadi pendiam? yah dia memang pendiam tapi aku rasa ada keganjilan dari sikapnya saat ini.
                “sekretaris?”panggilku.
                “hah? Huh kau mengagetkanku boss”kata sekretaris.
Ada apa dengannya, kenapa dia jadi tegang saat aku memanggilnya, ini tidak bisa dibiarkan.
                “kau kenapa diam saja dari tadi?” tanyaku.
                “bukankah aku memang pendiam boss” jawab sekretaris santai.
                “Putri(nama asli sekretaris)…… ya sudah lah”
Aku tidak bisa menceritakan masalahku saat ini pada sekretaris, aku rasa aku mulai canggung berjalan berdua dengannya sekarang. Seperti ada tembok besar trasparan yang memisahkan kita sangat jauh.
***
Hari keempat,  Reno dengan bu Hani sudah seperti sepasang kekasih.  Sikap sekretaris juga sangat aneh, dan satu-satunya yang kupikir masih normal mungkin adalah si tersangka. Saat tugasku untuk menangkap ikan dengan tersangka, aku akan menceritakan tentang perasaan anehku ini dengannya, tapi…
                “Boss, kau tidak perlu masuk kedalam sungai, aku akan mengambilkan ikan yang banyak untukmu.” Teriak tersangka dari dalam sungai.
Yah kau memang anak buahku dan itu memang sudah tugasmu untuk menggantikan tugasku, tapi dengan begini, dengan tersangka di dalam sungai dan aku di pinggir sungai akan sulit untuk berbicara dengannya. Menjengkelkan sekali.
Malam Hari… 
                Saat aku akan mulai untuk tidur di dalam tenda, tiba-tiba ada yang memanggilku dari luar.
                “Ara, Ara, bangun”
Ku pikir itu hantu tapi ternyata itu suara bu Hani si perawan tua jendil yang suka deket-deket sama Reno.
                “kenapa bu, malem-malem ke tenda saya?” tanyaku sedikit heran.
                “ibu rasa ada yang aneh sama Reno,” kata bu Hani sesaat setelah masuk ke dalam tenda “ibu pikir awalnya dia hanya berusaha untuk akrab sama ibu, tapi ternyata…..”
                “ternyata apa bu?” ya ampun Reno sudah sampai sejauh ini sama bu Hani? Dia udah mau ngelamar bu Hani? Jadi kata nenek yang punya warung itu benar kalau bu Hani akan segera menikah dengan…. Dengan…. Reno?
                “ibu juga kesal saat menyadarinya, ibu pikir dia ingin nilai lebih di pelajaran bahasa inggris mangkanya dia mendekati ibu seperti itu” jelas bu Hani.
                “Terus?”
                “ibu Cuma mau ngomong itu aja, jujur ibu agak risih sama sikap dia yang seperti itu, kamu tolong beritau dia yah” kata bu Hani.
Dengan sedikit anggukan kepala aku menyetujuinya, ada sedikit perasaan lega dihatiku mengetahui bahwa Reno mendekati bu Hani karena hanya ingin mendapatkan nilai tinggi. Lalu kenapa aku merasa lega saat aku tau mereka tidak ada apa-apa? Aku rasa aku kurang tidur.
Hari ke 7….
                Pagi ini Reno terlihat sangat rapi dan bersih, dia tidak pernah membawa-bawa buku  lagi saat kemanapun dia pergi.
                “Pagi Reno….”sapaku saat dia melintas didepan tendaku.
                “pagi.” Jawabnya datar. “bu Hani, ibu cantik sekali pagi ini”
Dasar penjilat Reno, setiap melihat bu Hani dia langsung seperti itu. tapikan nilai bahasa inggris Reno cukup bagus tanpa harus mendekati bu Hani seperti itu. Baiklah, siapa yang peduli. Sekarang aku akan berkumpul dengan kedua anak buahku saja.
 Tapi keanehanku selama berkemah ini semakin bertambah dengan sekretaris yang tidak mau berbicara padaku. Saat kami berpapasan dia akan memalingkan mukanya dariku. Tersangka, sikapnyapun mulai aneh padaku. Dia mulai memperdulikan apa yang sedang ku kerjakan dan semakin lebih banyak Tanya, dan lebih parahnya lagi dia sudah tidak pernah memanggilku boss lagi.
                “Ara, apa yang sedang kau lakukan”
                “Ara, apa semalam tidurmu nyenyak”
                “Ara, kau sudah makan?”
                “Ara, apa kau sakit, mukamu pucat?”
Ara, Ara, dan Ara lagi. Hanya ibuku yang boleh memanggilku Ara, Dasar Idiot. Baiklah ini sudah saatnya untuk dihentikan. Mungkin dua minggu terlalu lama bagi kita untuk berkemah di hutan, sudah banyak yang berubah dari kita semua disini dan sudah saatnya mengumpulkan semuanya untuk membereskan masalah ini.
                “awalnya aku bahagia dapat berkemah di hutan bersama kalian dan bu Hani disini, tapi tampaknya semakin lama aku merasa sikap kalian semakin aneh satu dengan yang lainnya. Ada yang keberatan?” kataku membuka pembicaraan.
Semua terdiam. Itu tandanya tidak hanya aku yang merasakan keanehan, itu artinya yang lain juga merasakan keanehan  pada yang lainnya.
                “aku akan mulai dengan perasaanku yang aneh pada sekretaris. Putri, apa aku telah berbuat salah padamu?” tanyaku
Sekretaris hanya menjawab dengan gelengan kepala dan terus terdiam.
                “lalu apa kau marah padaku?” tanyaku lagi
Sekretaris menggelangkan kepalanya lagi
                “terus kenapa kau mengabaikanku seperti ini?” tanyaku dengan sedikit marah
Sekretris hanya terdiam dan menundukan kepalanya tanpa berani memandangku.
                “Reno” kataku, Reno sedikit terkejut saat aku memanggil namanya. “kenapa kau kaget saat aku memanggilmu?”
                “tidak biasanya kau memanggilku Reno, kau selalu memanggilku katro atau sikura-kura” jawab Reno heran.
                “kenapa dimatamu hanya ada bu Hani dan tidak berbaur dengan yang lain? Kau tau, bu Hani datang ke tendaku untuk meminta tolong agar aku memberitaumu kalau bu Hani agak sedikit terganggu dengan sikapmu itu selama berkemah. Walaupun itu sangat membantu karena bu Hani tidak pernah mengomel saat di dekatmu” kataku tegas.
                “benarkah seperti itu? Benarkah bu Hani tidak menyukai sikapku ini?” Tanya Reno. Ada nada sedih pada suaranya.
                “bukan begitu Reno, ibu hanya berfikir mungkin….”
                “boleh aku berkata jujur sekarang?” kata Reno memotong.
                “just say it” tegasku.
                “aku menyukai bu Hani” jelas Reno.
Serontak aku kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Reno. Bukan hanya aku bahkan sekretaris, tersangka dan bu Hani sendiri. Aku benar-benar tidak dapat membuka mulutku, hatiku sangat sakit seperti tertusuk belati berkali-kali, kakiku lemas dan tubuhku terasa seperti ingin meledak. Cukup lama sampai akhirnya suaraku kembali.
                “sejak kapan?” tanyaku lagi.
                “aku tidak tau, tapi….. sejak hari pertama berkemah aku mulai berfikir bahwa mungkin bu Hani adalah jodohku” jelas Reno.
Dia benar-benar malu dan tidak berani menatap bu Hani saat mengatakannya. Bu Hanipun terlihat seperti tidak dapat berkata apa-apa.
                “tidak boleh” bentaku”dia gurumu dan kau tidak boleh menyukainya”
Dan kenapa aku melarang Reno menyukai bu Hani?
                “tapi aku…..”
                “aku juga akan berkata sejujurnya” tiba-tiba sekretaris memotong. Denga masih menundukan kepalanya,
                “maafkan aku boss karena telah mengabaikanmu, tapi sejujurnya…… aku……aku menyukai Aldi. Aku tidak tau sejak kapan tapi semakin aku mengelak, aku semakin menyukainya.”
Tersangka terlihat seperti tidak ada reaksi sama sekali.
                “lalu, hubungannya dengan kau mengabaikanku?” tanyaku penasaran.
                “Aldi menyukaimu” jelas si sekretaris.
Aku yang saat itu berdiri mantap,tiba-tiba  sekarang duduk lemas di tempatku. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi disini sebenarnya. Kupikir akan menyenangkan jika berkemah dihutan, tapi ternyata malah seperti ini jadinya. Baiklah, sudah saatnya ini dihentikan.
                “kemasi barang-barang kalian, besok kita akan pulang” kataku marah.
                “tunggu.” Teriak si tersangka “apa ini artinya aku ditolak Ara?”
                “panggil aku boss atau kau dipecat” bentaku lagi.
Kalian semua sangat menjengkelkan, aku tidak tahan lagi. Aku langsung pergi ketendaku dan menguncinya rapat-rapat. Aku tidak ingin bertemu siapapun sampai besok. Aku benar-benar bingung. mengapa jadinya malah seperti ini, aku pikir akan menyenangkan tapi mengapa? Mengapa?

To be continue....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar